logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 28 Nopember 2005 NASIONAL
Line

Wapres Balik Kritik Guru

  • Puncak HUT Ke-60 PGRI di Solo

HUT PGRI:Wapres Jusuf Kalla berpidato di depan peserta apel HUT Ke-60 PGRI sekaligus peringatan Hari Guru dan Hari Aksara Internasional, di Stadion Manahan, Solo, Minggu (27/11). Sejumlah peserta berdiri mendekati mimbar saat Wapres berpidato. Di antaranya ada yang mengacungkan jempolnya.(30t)

SOLO - Wakil Presiden Jusuf Kalla langsung menanggapi puisi kritis pensiunan Rektor IKIP Jakarta Prof Dr H Winarno Surahmat MSc Ed seputar kehidupan guru, yang disampaikan pada apel HUT Ke-60 PGRI sekaligus peringatan Hari Guru dan Hari Aksara Internasional, di Stadion Manahan, Solo, Minggu (27/11).

Pada sambutannya, Wapres menyatakan terharu dan mengakui kondisi sekolah di Indonesia belum luks (mewah). Namun dia meminta hal itu dilandaskan pada kejujuran dan kenyataan.

''Saya yakin sekolah kita tidak seperti kandang ayam. Saya yakin banyak sekolah yang jauh lebih baik daripada itu. Gaji Anda memang belum cukup, tapi saya yakin bahwa gaji Anda tidak hanya cukup untuk hidup satu hari. Janganlah kita semua mengejek-ejek bangsa ini,'' tandas Wapres, yang berbicara dengan mimik dan nada emosional.

Menurutnya, bangsa Indonesia perlu semangat untuk bersama-sama membangun negara secara lebih baik. Karena itu, dia mengajak para guru untuk tetap optimistis dan bekerja baik. Lebih-lebih guru merupakan pembentuk jiwa dalam bangsa. ''Kalau semua selalu mengejek, lalu siapa yang harus menghargai bangsa ini.''

Sebelumnya, Winarno membacakan puisi dalam rangkaian acara yang juga dihadiri Mendiknas Bambang Sudibyo, Ketua Umum Pengurus Besar PGRI Prof Dr M Surya dan Gubernur Jateng Mardiyanto itu. Salah satu bagian puisi bertema kehidupan guru berbunyi, ''Bolehkah kami bertanya, apakah artinya bertugas mulia, ketika kami hanya terpinggirkan, tanpa ditanya, tanpa disapa. Kapan sekolah kami lebih baik dari kandang ayam. Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kedaluwarsa. Mungkinkah berharap yang terbaik dalam kondisi yang terburuk.''

Penggalan lainnya menyebutkan, ''Di sejuta batu nisan guru tua yang terlupakan oleh sejarah, terbaca torehan darah kering. Di sini berbaring seorang guru, semampu membaca buku usang, sambil belajar menahan lapar, hidup sebulan dengan gaji sehari. Itulah nisan seorang guru tua yang terlupakan oleh sejarah.''

Dicegat usai apel, Winarno mengemukakan, bukan penyair melainkan perasaannya terdesak melihat kondisi kehidupan guru. Mengenai sambutan Wapres, dia menangkap hal itu positif.

''Seorang wapres menanggapi suara seorang gurunya, gitu. Itu lebih baik daripada, apa itu ya. Tapi ya kita juga melihat dari segi pandangan Wapres, maunya supaya guru itu betul-betul melihat bahwa tidak semua jelek di Republik ini,'' katanya.

Tak Mungkin Melompat

Lebih lanjut Jusuf Kalla mengemukakan, bangsa ini ditopang bermacam kegiatan dan profesi seperti tenaga kesehatan, polisi, tentara, dan seluruh komponen lain sama pentingnya. Namun semuanya pada awalnya tentu didukung oleh guru yang baik.

''Gubernur tidak akan pernah menjadi gubernur tanpa dia pernah mendapat didikan guru. Menteri tidak akan pernah menjadi menteri bila tidak pernah mendapat didikan guru. Saya juga pasti tidak akan menjadi wapres, tanpa mendapat pendidikan dari guru,'' katanya disambut tepuk tangan hadirin.

Menurutnya, semua tentu mempunyai tujuan meningkatkan harkat, kesejahteraan, dan bangsa. Persoalan kesejahteraan juga merupakan masalah bangsa. ''Tentu kita mengetahui arti UUD, tetapi semuanya harus dilaksanakan tahap demi tahap. Tidak mungkin bangsa ini langsung melompat, karena semua juga harus kita laksanakan,'' tandasnya.

Sementara itu, Bambang Sudibyo mengatakan, guru sebagai agen pembelajaran diharapkan mempunyai empat kompetensi, yakni kompetensi pedagogig, sosial, kepribadian, dan profesional. Bagi mereka yang sudah memiliki sertifikat profesi, pemerintah akan mengupayakan tunjangan profesi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan guru, baik guru negeri maupun swasta, sesuai dengan kemampuan pemerintah.

''Kita berharap, kualifikasi, kompetensi, kesejahteraan, harkat, dan martabat serta perlindungan guru dapat ditingkatkan secara bertahap, sehingga dapat bertugas secara baik,'' katanya.

Pemerintah juga berusaha meningkatkan kesejahteraan melalui bantuan tambahan gaji guru tetap yang mengajar pada sekolah swasta, biaya kelebihan jam mengajar, dan tunjangan guru SD di daerah tertinggal. Juga blockgrant bagi kelompok kerja guru dan musyawarah guru mata pelajaran.

Sementara itu, Gubernur Mardiyanto mengemukakan, APBD Jateng 2005 mengalokasikan 12,58 persen untuk anggaran pendidikan. Tahun 2006 akan ditingkatkan menjadi 15 persen dan pada 2008 ditargetkan 20 persen dapat terpenuhi.

''Kami melaporkan dalam upaya peningkatan kesejahteraan guru, semaksimal mungkin meningkatkan kualifikasi pendidikan, bimbingan teknis meningkatkan kompetensi guru, dan masalah kami terbesar adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan guru wiyata bakti yang jumlahnya juga cukup besar. Pada tahun ini, kami baru bisa membantu sekitar 15.000 guru, dan insya Allah 2006 kami tingkatkan menjadi 36.000 guru wiyata bakti.''

Pada kesempatan itu, Gubernur Mardiyanto menerima dua penghargaan, yakni di bidang pendidikan dan aksara. Selain dia, ada enam gubernur lain dan 12 bupati/wali kota (termasuk Bupati Karanganyar dan Bantul) yang juga mendapat penghargaan berkaitan dengan pembangunan pendidikan dan pemberantasan buta aksara.

Sementara itu, melalui Kepres No 006 dan 050/PK/2005, atas pengabdian, kesetiaan, kejujuran, kecakapan, dan kedisiplinannya dalam menjalankan tugas sebagai PNS, ada tujuh guru yang mendapat Satya Lancana Karya Satya (dua orang sudah mengabdi 30 tahun, empat orang 20 tahun) dan satu orang guru 10 tahun.

Demo Tuntut Kesejahteraan

Sementara itu, puluhan guru peserta apel HUT Ke-60 PGRI sekaligus Hari Guru Nasional dan Hari Aksara Internasional yang dipusatkan di Stadion Manahan, Solo, Minggu (27/11), menggelar demo. Mereka turun dari tribune lalu menggelar aksi di lapangan rumput, ketika Wapres Jusuf Kalla menyematkan tanda penghargaan Satya Lancana Karya Satya kepada tujuh guru di tribune kehormatan. Tapi rangkaian acara apel yang dimulai pukul 09.10 tetap terus berjalan.

Dua orang, Rukiyat SAg, guru SD Sukasari Kecamatan Tawang, Tasikmalaya, dan Sukirman, guru SMPN 3 Tasikmalaya, diamankan dalam kejadian tersebut. Setelah diinterogasi petugas di ruang Kantor Pengelola Stadion Manahan, mereka kemudian dibawa ke Mapolresta Surakarta.

Demo bermula ketika sejumlah peserta apel turun dari tribune menuju lapangan. Tiba-tiba sebuah spanduk bertuliskan ''Kami Rindu Kesejahteraan, Keluarga Besar PGRI Kecamatan Tawang Tasikmalaya'', dipampangkan. Tanpa pengeras suara, puluhan orang yang mengambil posisi di belakang spanduk meneriakkan berbagai lontaran aksi yang menyedot perhatian sebagian besar peserta lain apel itu. Intinya, mereka menuntut RUU guru dan dosen segera disahkan.

''Sudah 60 tahun guru menunggu kesejahteraan,'' kata seorang pendemo.

Lainnya menimpali, ''Jangan molor-molor terus. UU Guru harus segera disahkan, lalu jamin kesejahteraan kami.''

Sekitar satu menit, sejumlah petugas keamanan meminta peserta aksi yang terlihat dari tribune kehormatan tersebut untuk membubarkan diri. Pendemo membubarkan diri, tetapi kemudian mereka mengelompok lagi dan menggelar kembali spanduk di bawah tribune di pinggir lapangan. Petugas pun terus membatasi ruang geraknya. Meski demikian, beberapa peserta tetap menyuarakan tuntutan-tuntutannya.

''Pelaksanaan UU guru jangan secara bertahap, tapi langsung. Pengkas pembangunan yang bertujuan politik. Segera berikan kesejahteraan yang baik bagi kami. Kami sudah letih menunggu,'' teriak seorang peserta yang mengaku bernama H Alfan Wahid, Ketua PGRI Probolinggo, Jatim.

Ancam Mogok

Dia menyatakan, semula RUU akan disahkan pada 25 November, namun pada praktiknya mundur. Lalu ada rencana, pengesahannya tanggal 6 Desember mendatang. ''Ada juga informasi, katanya baru akan disahkan pada 9 Desember nanti. Saya merasa dibohongi Ketua DPR. Kalau tidak segera diundangkan, para guru akan mogok. Tanggal 7 Desember nanti sudah ada tujuh ribu guru yang siap apel di Probolinggo,'' tandasnya.

Peserta lain yang menyatakan bernama Setiyadi, Ketua PGRI Kota Pekalongan Jateng, juga meminta penetapan dan pelaksanaan RUU guru dan dosen tidak molor terus.

''Maka, pada sidang di DPR pada tanggal 6 atau 9 Desember nanti, kami siap menjadi fraksi balkon agar RUU guru segera disahkan. Kalau tidak, guru-guru akan mogok seperti di Malaysia,'' katanya dengan nada tinggi.

Hal senada disampaikan Drs M Jusuf yang mengaku sebagai Ketua PGRI Cabang Kota Banjarmasin Barat, Kalimantan Selatan (Kalsel). ''Jauh-jauh datang dari Kalsel, kami mendukung tuntutan teman-teman yang berkumpul di sini,'' tandasnya.

Selang sekitar lima menit kemudian, para peserta aksi itu membubarkan diri. Sementara petugas langsung menggiring dua pendemo, Rukiyat SAg dan Sukirman, ke kantor pengelola stadion untuk dimintai keterangan, sebelum akhirnya dibawa ke Mapolresta Surakarta.

Kapolres AKBP Oneng Soebroto melalui Kasat Reskrim AKP Djoko Tjahjono menyatakan, polisi akan memeriksa dulu tujuan mereka menggelar demo di depan Wapres Jusuf Kalla. ''Sebab aksi demo semacam itu tidak pernah diizinkan. Mereka sepertinya hanya ingin mengacau acara,'' tutur AKP Djoko Tjahjono.

Sejauh ini polisi belum melayangkan tuduhan pada para guru yang demo. ''Mereka akan kami periksa dulu, motivasinya apa kok menggelar aksi di sana (dalam stadion),'' tuturnya.

Jika hasil pemeriksaan ada pelanggaran, pelaku bisa langsung ditahan. Untuk sementara mereka masih menjalani pemeriksaan.(D11,nin-41t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA