| Senin, 28 Nopember 2005 | MURIA |
Sumadi, Si "Yuyu Kangkang" Bengawan SilugonggoINGAT cerita rakyat Ande-ande Lumut dan Yuyu Kangkang? Si yuyu (ketam) atau kepiting raksasa itu sepanjang hari dan malam berdiam di tepi bengawan, menunggu orang yang minta diseberangkan. Sumadi (53), warga Desa Ngastorejo, Kecamatan Jakenan, Pati, tak ubahnya si Yuyu Kangkang. Lelaki paro baya, ayah empat anak, dan kakek dua cucu itu sejak usianya beranjak remaja, atau puluhan tahun silam, telah menjadi juru seberang di tempat penyeberangan Bengawan Silugonggo atau yang lebih dikenal dengan Kali Juwana. Lokasi penyeberangan satu-satunya di bengawan tersebut adalah di Dukuh Gilis, Desa Sugiharjo, Kecamatan Pati. Dukuh tersebut terletak di sisi utara bengawan, sedangkan Desa Ngastorejo, atau tempat tinggalnya, berada di sisi selatan. Meskipun sama-sama sebagai juru seberang, antara Sumadi dan Yuyu Kangkang tetap ada perbedaan yang mendasar. Sebab, dalam cerita rakyat yang sudah melegenda itu Yuyu Kangkang bersedia menjadi juru seberang disertai pamrih, apalagi bila yang hendak menyeberang para perempuan cantik. Bisa dipastikan, permintaan imbalan tertentu pasti dilakukan oleh binatang jelmaan tersebut. Lain halnya dengan Sumadi, lelaki tak tamat Sekolah Rakyat (SR) itu selama sehari semalam berada di pinggir bengawan, benar-benar membantu warga yang membutuhkan jasa penyeberangan. Jika yang merasa dibantu kemudian memberikan imbalan uang sekadarnya, itu atas dasar sukarela. Namun toh orang yang menerima jasa baiknya, tentu tidak sungkan-sungkan merogoh koceknya. Meskipun hanya Rp 100, Rp 500, Rp 1.000, atau bahkan lebih dalam sekali menyeberang. Toh Sumadi menerimanya dengan ikhlas. Perahu ponton yang digunakan untuk transportasi penyeberangan tersebut ternyata dia sewa dengan harga Rp 17.500 sehari semalam. Soal imbalan ala kadarnya tersebut bisa dilihat, bagaimana lelaki itu menaruh uang pemberian para penyeberang. Yakni, di sebuah besek yang hanya digeletakkan di geladak. "Dalam bekerja sehari semalam, apa imbalan yang diberikan penyeberang cukup untuk menyewa perahu?" ujarnya dengan gaya retoris. Lima Hari Bila nasib baik sedang berpihak, katanya, apa yang diperoleh kadang-kadang bisa mencapai Rp 100.000, bahkan lebih. Apalagi perahu ponton itu bila malam tidak semata-mata untuk membantu warga yang menyeberang, tapi juga ada yang memanfaatkannya untuk memancing. Dari hasil tersebut setelah dipotong untuk membayar sewa perahu, sisanya tentu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Adapun setoran uang sewa perahu, digunakan untuk membiayai perbaikan bila sarana transportasi air itu ada bagian-bagian yang mengalami kerusakan. Mengingat lokasi tempat penyeberangan itu berada di antara dua desa di dua wilayah kecamatan yang dipisahkan oleh bengawan dengan lebar alurnya hanya tinggal sekitar 50 meter, pengelolaannya kini dilakukan panitia di dua desa. Dari Desa Ngastorejo, panitia melibatkan juru seberang empat orang, sedangkan panitia di Gilis tiga orang. Jadi jadwal juru seberang yang bertugas telah dibagi habis dalam satu minggu untuk tujuh orang. Setiap juru seberang mendapat jatah bertugas lima hari, setelah itu jatuh tugas juru seberang berikutnya sampai ketujuh orang itu mendapat bagian. Karena itu, hari-hari di luar tugas sebagai juru seberang, dia gunakan untuk mengojek dari desa tempat tinggalnya menuju ke Pati atau ke Jakenan dan sekitarnya. Bila dalam bertugas seorang juru seberang beralangan, karena ada keperluan atau kebetulan sakit, hal itu bisa digantikan oleh juru seberang lainnya. Dengan tersedianya juru seberang yang cukup, selama 24 jam, warga masyarakat dari Pati yang hendak ke Jakenan, Jaken, Winong, dan Pucakwangi bila ingin menempuh jarak pintas bisa lewat di jalur penyeberangan itu. Sebab, setiap melintas paling-paling hanya menunggu bila perahu ponton sedang mengantar penyeberang ke sisi selatan bengawan tapi penyeberang dari utara bengawan sudah datang, atau sebaliknya. Apalagi sekali melintasi lebar alur bengawan itu tidak membutuhkan waktu sampai lima menit. "Tugas sebagai juru seberang itu sudah berlangsung secara turun-temurun." (Alman Eko Darmo-50n) |