| Senin, 28 Nopember 2005 | MURIA |
Anugerah KehidupanOleh: Nurul Amalia Viliasari - Siswi SMA NU Al Ma'ruf KudusKENAPA sih Lebaran disebut hari kemenangan? Lebaran atau Idul Fitri merupakan hari besar bagi umat Islam untuk merayakan hari kemenangan. Disebut hari kemenangan, karena setelah sebulan penuh kita melaksanakan puasa Ramadan untuk mengekang hawa nafsu dan amarah akibat bujukan setan. Ramadan adalah bulan pemantapan keimanan bagi seorang muslim. Selama berpuasa, kita mengalami banyak ujian yang sangat berat. Namun, saat tiba pada puasa terakhir, kita senantiasa menunggu dipukulkan beduk maghrib, yang berarti berakhirnya penggemblengan iman kita dan sekaligus kemenangan atas segala hawa nafsu yang kita kendalikan selama berpuasa Ramadan. Kalimat takbir menggema di seluruh masjid, membuat suasana haru bagi muslim. Pada akhirnya, puncak Lebaran itu sendiri adalah ketika keesokan paginya kita melaksanakan shalat Idul Fitri berjamaah di masjid atau di lapangan. Betapa bahagianya seorang muslim, apabila dapat meresapi makna Idul Fitri itu. Ketulusan Idul fitri merupakan kembalinya kefitrahan manusia. Muslim yang sejati, adalah muslim yang dapat menitikkan air mata sebagai wujud rasa sukur kepada Allah SWT atas segala anugerah dan karunia-Nya. Menitikkan air mata saja tidak cukup, tanpa disertai ketulusan hati, mengingat hati merupakan unsur kebenaran dan kejujuran atas seseorang manusia. Ketulusan adalah kunci ibadah kepada Sang Khalik. Muslim yang dapat merayakan Idul Fitri, adalah seorang muslim yang sangat beruntung. Dengan demikian, muslim tersebut dapat menikmati anugerah yang diberikan oleh Allah. Secara garis besar, ada beberapa anugerah Lebaran bagi seorang muslim. Pertama, syukur nikmat atas kalimat takbir pada malam Lebaran. Mungkin selama menjalani aktivitas di bulan lainnya, kita jarang merenungi dan memuji kebesaran Allah atas segala kebesaran-Nya. Namun, ketika tiba malam Lebaran, kita dan umat muslim di seluruh penjuru dunia bersama-sama memuji dan mengagungkan nama-Nya, yakni dengan mengumandangkan kalimat takbir. Rasa syukur itu juga mencerminkan suatu kemenangan atas belenggu setan pada bulan Ramadan. Kita bertakbir, diliputi rasa syukur telah melaksanakan perintah Allah untuk menjalankan ibadah puasa. Hal itu berarti, muslim yang masih dapat bersyukur dengan hela nafasnya pada malam Lebaran, adalah anugerah dan karunia-Nya yang sangat berharga. Kedua, shalat Idul Fitri sebagai korelasi manusia dengan Sang Khalik. Seorang manusia tak bisa menghindar dari keagungan Tuhan. Dalam melaksanakan shalat Idul Fitri, kita menunjukkan dedikasi muslim kepada Allah. Amal ibadah yang telah dilakukan pada bulan Ramadan, diakhiri dengan shalat Idul Fitri pada pagi harinya. Kesempurnaan akan ditunjukkan dan dimplikasikan pada salat Idul Fitri tersebut. Ketiga, silaturahmi sebagai kolerasi antarsesama manusia. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Betapapun kita menghindar dari setiap kesalahan yang ada, karena kesalahan itu merupakan bagian kehidupan manusia. Kalau boleh dikatakan, salah satu tujuan orang hidup (dalam konsep duniawi) adalah berkumpul bersama kerabat dalam naungan hari raya Idul Fitri yang penuh berkah. Semua muslim berusaha untuk bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halamannya. Semua kegiatan rutinitas masyarakat diliburkan pada hari itu. Pintu rumah-rumah muslim senantiasa terbuka lebar, untuk menunggu kedatangan muslim lainnya yang hendak bersilaturahmi. Lebaran memang sudah seharusnya memberi arti sangat penting bagi pribadi muslim, dalam upaya membuat makin eratnya tali silaturahmi. Sikap tersebut, merupakan modal dasar untuk menuju ketenteraman hati yang akan melahirkan hati yang suci, untuk menjalani kehidupan dengan jiwa islami. Jadi, pada hakikatnya Lebaran merupakan kesempatan untuk membina hubungan baik sesama manusia (habluminannas), yang didasari oleh hubungan rohani antara manusia dengan Allah SWT (hablumninallah) demi keselarasan hidup.(17a) |