logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 28 Nopember 2005 MURIA
Line

Warga Cemaskan Banjir Tahunan

REMBANG - Warga di Desa Kwasen Kecamatan Kaliori Rembang di sepanjang pinggiran aliran Sungai Tarung mengaku cemas terhadap bahaya banjir tahunan. Pasalnya, pada musim hujan ini sungai yang melewati desa mereka tersebut tidak lagi bisa menampung air yang berasal dari aliran Sungai Banyukuwung dan Grawan.

Saenuri (32), warga Desa Kwasen kemarin mengatakan, dengan lebar sungai yang hanya dua meter tersebut tidak lagi sebanding dengan debit air yang dilimpahkan dari dua sungai yang bersumber dari Embung Grawan tersebut.

''Sungai yang melintas di desa ini merupakan pertemuan antara dua sungai besar. Lebar sungai yang tidak sampai dua meter dengan kedalaman tiga meter itu tentu saja tidak bisa menampung limpahan air dari dua sungai besar itu. Akibatnya, daerah sini sering terkena banjir. Hujan rintik-rintik saja sudah bisa menggenangi Desa Kwasen,'' ucapnya.

Dia menambahkan, jika hujan cukup besar dalam waktu yang cukup lama, banjir bahkan bisa meluas hingga Desa Pengkol yang berada di sebelah barat Desa Kwasen. ''Kalau hujan deras, ketinggian air bisa mencapai dada orang dewasa. Jangan harap bisa masuk desa kami dengan memakai kendaraan karena semua bagian tertutup air,'' tuturnya.

Mbah Jeni (64), warga lainnya, juga mengatakan, banjir di daerah tersebut selalu terjadi setiap tahun. Semakin tinggi banjir, ketinggian air yang masuk ke desa semakin bertambah. ''Dulu ketinggian banjir hanya sampai lutut, tapi yang terakhir sudah masuk ke dalam rumah,'' katanya.

Sebagai antisipasi, warga di sekitar sungai tersebut menaikkan fondasi rumah mereka. ''Kalau tidak dinaikkan, bisa-bisa rumah tenggelam,'' tuturnya.

Longsor

Kepala Desa Kwasen Saliman mengatakan, selain ancaman banjir yang sering menggenangi desanya, rumah warga di sekitar aliran Sungai Tarung juga terancam longsor.

Dia menambahkan, aliran air yang cukup deras itu mengakibatkan bantaran sungai tergerus terus-menerus. ''Kami mendata tak kurang dari 21 rumah dan satu madrasah di sepanjang aliran sungai tersebut terancam longsor. Beberapa tahun lalu jarak antara rumah warga bisa mencapai tiga meter dari bibir sungai. Namun sekarang jaraknya tinggal 1-2 meter. Bahkan madrasah itu sudah di pinggir sungai,'' katanya.

Dia mengatakan, untuk mengurangi arus sungai yang cukup deras, pihaknya meminta agar sepanjang aliran sungai itu diberi talut dari beton. Dia juga mengatakan, permasalahan itu sudah dilaporkan kepada Pemkab Rembang. (moe-17n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA