| Senin, 28 Nopember 2005 | SEMARANG |
Kenalkan Budaya Jepang dengan Medium Dongeng''Mukashi-mukashi no ohanashides. Obaasangga kawade sentakuo shiterruto, okina momonganangarete kimasta. Donburako-donburako obaasangwa momo hiroi ageruto, isaide ieni kaeri mashita...'' (Ada sebuah cerita pada zaman dahulu kala. Ada seorang nenek sedang mencuci pakaian di sungai. Demi melihat buah momo (persik) yang dihanyutkan air, sang nenek kegirangan. Ia lantas mengambilnya untuk dibawa pulang.. PROLOG dongeng ''Momotaro'' itu lancar meluncur dari bibir Desiana Atge Metadora (18). Semula intonasinya datar-datar saja, namun semakin lama, suara siswi kelas III SMAN 1 Pati itu kian menunjukkan karakternya, lantang, dan berartikulasi jelas. Rupa-rupanya Desi, demikian gadis itu akrab dipanggil, telah mampu mengatasi kegugupan dan menguasai keadaan. Maka, menginjak bait-bait pertengahan, gaya pembacaan Desi sudah semakin lepas. Tak cuma vokal, gadis hitam manis itu menambahkan gerak tubuh dan ekspresi wajah sebagai bumbu penampilannya. Puluhan penonton yang menyesaki sebuah ruangan di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Jalan Nakula 1 Semarang, Sabtu (26/11) lalu pun terpesona. Pada akhir pembacaan, keterpesonaan tersebut pecah menjadi tepuk tangan berkepanjangan. Ya, siang itu penampilan Desi dalam lomba Cerdas Cermat dan Membaca Dongeng tentang Jepang Tingkat SMA dan Sederajat yang diselenggarakan universitas tersebut cukup memikat. Seusai Desi, peserta lomba membaca dongeng yang lain, satu demi satu unjuk kebolehan. Selain ''Momotaro'' panitia juga menyediakan dua naskah dongeng klasik Jepang lain, yakni ''Kaguyahime'' dan ''Itsumbosi''. Namun tampaknya sebagian besar peserta lebih memilih ''Momotaro''. Selain singkat, cerita tersebut juga lebih populer. Penting diketahui, jika naskah yang dibagi dan dibacakan para peserta menggunakan aksara hiragana. ''Konnichiwa, hajime moshite. Watashiwa Leni Sofiatul desu. Doozo yoroshiku,'' ucap seorang peserta memberi salam pembuka sebelum membaca dongeng berbahasa Jepang pilihannya. Cerdas Cermat Sementara itu di ruang sebelah, para peserta lomba cerdas cermat juga tengah bertanding habis-habisan. Mereka yang masing-masing terdiri atas dua wakil sekolah, beradu pintar pengetahuan budaya Jepang. Dari soal tradisi, makanan khas, sampai nama sang kaisar. Berbeda dengan mendongeng, lomba cerdas cermat menggunakan pengantar bahasa Indonesia. Lomba yang diselenggarakan setiap dua tahunan itu di luar dugaan cukup diminati peserta. Silvia, humas panitia menuturkan, pihaknya semula cuma menargetkan 10 sekolah saja. Namun dalam pelaksanaannya, 11 sekolah tingkat SMA menyatakan turut serta. Selain dari Semarang, mereka berasal dari kota-kota lain di Jawa Tengah, seperti Pekalongan, Pati, dan Temanggung. Setelah melakukan penilaian, tiga juri dari Japan Foundation Jakarta, akhirnya menetapkan para pemenang sebagai berikut. Lomba mendongeng: Juara I, Aldin Ardian (SMA Semesta Gunungpati). Juara II, Desiana Atge Metadora (SMAN 1 Pati). Juara III, Arum Purnaningtyas (SMAN 1 Pati). Adapun juara cerdas cermat berturut-turut, SMKN 2 Semarang, SMAN 1 Pati, dan SMA 16 Semarang.(Rukardi-18v) |