logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 28 Nopember 2005 SEMARANG
Line

PCI, Operasi Jantung Tanpa Sakit

SEMARANG - Penanganan penyakit jantung semakin berkembang. Saat ini, operasi dinilai sebagai tindakan yang cukup efisien untuk mengatasi penyakit ini. Teknologi penanganan melalui operasi pun kian dikembangkan para dokter spesialis jantung. Salah satunya dengan operasi jantung melalui tindakan Percutaneous Coronary Intervention (PCI).

Tindakan PCI ini, menurut Manager Divisi Jantung RS Dokter Kariadi dokter Sodiqur Rifqi SpJP, merupakan tindakan intervensi nonbedah dengan menggunakan stent. Stent merupakan alat yang berbentuk semacam per dengan ukuran kecil. Selanjutnya, alat ini dimasukkan ke dalam tubuh hingga pada pembuluh darah koroner yang mengalami penyempitan.

Dalam memasukkan alat ini tidak perlu melakukan pembedahan. "Pasien hanya akan mengalami sayatan kecil sekitar dua milimeter pada kulit. "Selama menjalani operasi, pasien hanya dibius lokal. Penenang diberikan sedikit jika memang pasien merasa takut,'' tutur dia.

Meski tidak dibius total, pasien tidak mengalami rasa sakit. Pembuluh darah yang sudah dilebarkan dengan PCI, dalam jangka waktu tertentu dapat kembali menyempit. Kemungkinan penyempitan sebesar tiga hingga delapan persen jika digunakan stent berlapis obat. Untuk penggunaan alat ini, kemungkinan penyempitan yang terjadi 15-20 %. Penanganan dengan operasi bypass membutuhkan waktu penyempitan yang lebih lama dibanding PCI.

Risiko Kecil

Selain tidak menimbulkan rasa sakit, risikonya pun, kata Sodiqur, sangat kecil. Tingkat kegagalannya hanya sekitar 0,2 %. Selama 2005 ini, RS Dokter Kariadi sudah melakukan tindakan PCI pada lebih dari 400 pasien. Pasien jantung yang menjalani PCI berasal dari segala umur. "Yang paling muda 35 tahun,'' katanya.

Operasi ini berlangsung sekitar 30 menit hingga empat jam. Hal ini tergantung dari kasus yang terjadi. Semakin berat kasus yang ditangani, operasi berlangsung lebih lama. Kasus-kasus tertentu, penanganan dengan PCI lebih murah dibandingkan dengan operasi bypass. "Akan tetapi, bisa jadi penanganan PCI mejadi lebih mahal,'' ungkap dia.

Menurut dia, jika banyak pembuluh darah koroner yang mengalami penyempitan, penanganan akan lebih murah jika dilakukan dengan operasi bypass. Sebab, untuk satu kali operasi bypass dibutuhkan biaya Rp 50 juta - Rp 80 juta. Sementara dengan PCI dengan stent biasa, biayanya Rp 8 juta-Rp 15 juta per alat. Jika stent yang digunakan berlapis obat, biayanya akan lebih mahal, berkisar Rp 23 juta-Rp 28 juta per alat.

"Semakin banyak pembuluh darah koroner yang mengalami penyempitan, otomatis makin banyak stein yang dibutuhkan. Dengan demikian, biaya yang dikeluarkan akan semakin besar,'' paparnya.

Untuk itu, penanganan akan lebih mudah jika dilakukan dengan operasi bypass. Jumlah pasien penyakit jantung, dari tahun ke tahun terus meningkat. Hal ini disebabkan, antara lain pola makan yang tidak teratur dan perokok. "Tidak hanya perokok aktif yang rawan terhadap risiko terhadap penyakit ini. Perokok pasif pun memilki kemungkinan cukup besar terkena penyakit jantung,'' tutur dia. (lin-18d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA