| Senin, 28 Nopember 2005 | SEMARANG |
Halalbihalal Keluarga Besar PPGI JatengBerbagi Rasa, Pererat SilaturahmiPAHALA mana yang tak lebih baik selain mampu menjalin keakraban dan mempererat silaturahmi dalam sebuah ikatan keluarga besar? Apalagi keakraban itu dibangun saat salah satu anggota keluarga mengalami kesulitan. Ustad H Supandi yang tampil membawakan mauidzah hasanah dalam halalbihalal Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) Jateng di ruang Teratai Hotel Horison Jumat (25/11) mengatakan senyuman merupakan suatu ibadah. Senyum saja sudah bisa menyenangkan orang lain. Sebab pahala ibadah itu tak dimiliki sendiri dan bisa dirasakan orang lain. Meski hal ini nampak mudah, nyatanya tak semua bisa melakukan. ''Bila senyum saja mendapatkan pahala, apalagi mampu saling berbagi rasa dan bahu-membahu membantu kesulitan yang dihadapi anggota keluarga,'' katanya. Ya, yang dimaksud ini tak lain adalah keluarga besar Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) Jateng. Suasana hangat dan penuh keakraban terlihat jelas dalam acara malam itu. Pengurus cabang PPGI dari berbagai daerah di Jateng berkumpul bersama. Tak sedikit pun terbersit di wajah mereka perihal kesulitan dalam menjalankan biduk usaha. Betapa tidak? Roda bisnis saat ini terganjal oleh kenaikan harga BBM, nilai tukar dolar AS yang masih tinggi, kenaikan harga bahan baku, dan denda penalti biaya listrik. Bahkan sebentar lagi pengusaha dihadapkan pada kenaikan upah pekerja dan tarif dasar listrik. Kesemuanya dihadapkan pada daya beli masyarakat yang rendah. Ketua PPGI Jateng Kukrit SW mengatakan saling berbagi rasa merupakan salah satu upaya yang mampu mengendorkan permasalahan. Oleh karenanya, ia tak henti-hentinya mengajak pengusaha grafika untuk bersama-sama maju di tengah kesulitan. ''Dengan beban usaha yang kian berat seperti saat ini setidaknya mampu lebih mengakrabkan jalinan silaturahmi. Kita bisa berbagi rasa dan meningkatkan kerja sama,'' katanya. Dalam acara tersebut, Ustad H Supandi juga mengingatkan agar manusia tidak lupa berdoa. Doa yang diucapkan tidak harus dalam bahasa Arab. Doa yang dipanjatkan itu akan lebih baik bila mampu dipahami diri sendiri. Dengan adanya doa itu, diharapkan bisa mengingatkan manusia terhadap fitrahnya. Karena fitrah berarti asal kejadian, selain juga diartikan sebagai agama yang lurus dan kesucian. (Moh Anhar-44) |