| Senin, 28 Nopember 2005 | SEMARANG |
Atasi Pendarahan Otak Tanpa OperasiBANYAK orang beranggapan, stroke hanya disebabkan oleh tekanan darah tinggi dan diabetes. Mudahnya penderita tekanan darah tinggi dan diabetes terserang stroke disebabkan karena rapuhnya pembuluh darah yang terdapat di otak. "Tapi stroke juga bisa disebabkan karena adanya kelainan pada pembuluh darah tersebut. Kelainan ini biasanya bawaan sejak lahir,'' kata Dr dokter Zainal Muttaqin SpBS saat ditemui di sela-sela operasi pasien kelainan pembuluh darah, Minggu (27/11) di RS Telogorejo. Kelainan bawaan tersebut, menurut Zainal, dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah. Akan tetapi kapan pembuluh darah tersebut akan pecah tidak bisa diprediksi. Jika akhirnya pembuluh darah itu pecah dan orang ini selamat, kemungkinan besar akan pecah lagi. "Kemungkinannya sekitar 80%,'' jelasnya. Untuk itu, lebih lanjut Zainal mengungkapkan, diperlukan suatu tindakan yang dapat mencegah pembuluh darah itu pecah kembali. Sebelumnya hal ini diatasi dengan melakukan pembedahan pada kepala. Dengan pembedahan tersebut pembuluh darah yang mengalami kelainan, dijepit dengan suatu alat untuk mencegah darah masuk ke sana. Saat ini pembedahan tidak perlu dilakukan. Dengan Digital Substraction Angiography (DSA) penanganan terhadap pasien ini dapat dilakukan dengan cara yang lebih praktis. Dengan alat ini dapat diketahui letak pembuluh darah tersebut dengan mudah tanpa perlu melakukan pembedahan. "Alat ini dimasukkan melalui paha dan didorong terus hingga masuk ke otak,'' tutur Zainal. Setelah sampai ke otak, alat tersebut diarahkan pada pembuluh darah yang mengalami kelainan. Di dalam pembuluh darah, papar dia, dimasukkan suatu bahan yang berfungsi untuk mencegah darah masuk. "Jika tak ada darah yang masuk, pembuluh darah tidak akan pecah,'' ucapnya. Bahan itu dapat berupa kumparan dan zat sejenis lem yang disebut Poly Vinyl Alcohol. Dengan DSA, kata dia, pasien hanya memerlukan perawatan paling lama dua hari. Perawatan ini lebih cepat jika dibandingkan operasi. "Untuk operasi, perawatan yang dilakukan akan lebih lama,'' tambahnya. Di samping itu dengan menjalani operasi risiko yang dialami pasien akan lebih besar dibandingkan DSA. Pasien pascaoperasi dapat mengalami inveksi. (Roosalina-44v) |