logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 28 Nopember 2005 EKONOMI
Line

Strategi Buy Back untuk Gapai Prestasi

BELAKANGAN ini terungkap informasi positif, yaitu akan berlangsungnya program buy back oleh emiten PT Telkom dan Bank BCA. Dilihat dari sisi perusahaan, dengan program buy back, berarti perusahaan menyediakan dan mengeluarkan dana untuk membeli kembali saham yang sebelumnya telah dijual kepada masyarakat.

Kedua perusahaan itu akan melaksanakan buy back atas sahamnya sekitar 5 persen dari jumlah saham yang telah beredar di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Pada waktu perusahaan menjual sahamnya kepada masyarakat, keputusan itu dilakukan untuk mendapatkan dana sebagai sumber modal perusahaan. Kini sudah kelebihan danakah, sehingga perusahaan membeli kembali sebagian saham yang sudah beredar di masyarakat?

Menurut Kieso, profesor dari Nothern Illinois University, ada beberapa motivasi yang melatarbelakangi emiten melakukan buy back. Program buy back sebagai strategi untuk, (1) stabilitas atau meningkatkan harga saham, (2) mengurangi tingkat pengendalian pihak luar, (3) meningkatkan laba per lembar saham dan (4) strategi lain.

Saham Telkom dan BCA merupakan dua jenis saham pilihan di antara empat puluh lima jenis saham yang tergabung pada kelompok saham LQ 45. Kedua jenis saham itu secara konsisten termasuk pada kelompok tersebut, yang setiap enam bulan selalu diadakan peninjauan kembali. Berarti kedua jenis saham itu selalu lolos dari kriteria penilaian atas total transaksi, nilai transaksi dan frekuensi transaksi.

Dilihat dari kriteria lingkungan kelompok saham telekomunikasi, harga saham Telkom relatif tergolong murah. Pada harga Rp 5.300 per lembar saham saat ini, posisi rasio harga dibandingkan dengan keuntungan per lembar saham atau price earning ratio (PER) sebesar 14,4 kali. Berarti keuntungan per lembar saham atau earning per share (EPS) sekitar Rp 365. Saudara sekelompoknya, yaitu saham Indosat pada harga Rp 5.200 pada posisi PER 20,4 kali, berarti keuntungan per lembar saham sekitar Rp 255. Saudaranya yang paling muda, yaitu saham Exelcomindo Pratama pada harga pasar Rp 2.450 tergolong lebih mahal dibandingkan dengan Telkom maupun Indosat, karena PER-nya negatif atau perusahaannya dalam keadaan merugi.

Dalam keadaan rasio harga dibandingkan dengan keuntungan per lembar saham atau PER yang rendah, wajar jika perusahaan merasa harga sahamnya masih undervalue. Berarti dengan prestasi keuntungan yang telah diperoleh, perusahaan merasa harga sahamnya masih dihargai terlalu rendah.

Saham Bank BCA tergolong sebagai saham yang sensitif terhadap perubahan lingkungan pasar. Saat ini, 25 November harganya pada posisi Rp 3.300. Pada awal tahun 2005 harga saham tersebut sebesar Rp 3.325 per lembar saham. Ketika keadaan bursa membaik, seperti pada bulan Agustus 2005, harga saham Bank BCA mencapai Rp 3.725. Pada waktu bursa menurun, seperti keadaan 11 November bulan ini, harga saham BCA pada harga Rp 3.000 per lembarnya.

Saham Telkom juga sangat sensitif terhadap perubahan pasar. Bulan Agustus 2005 ketika dalam keadaan bursa membaik, harga saham Telkom mencapai Rp 5.700. Namun ketika bursa dalam keadaan menurun, saham Telkom juga sangat sensitif terhadap perubahan keadaan dan harganya turun sampai menyentuh harga Rp 4.825 untuk per lembar saham.

Reputasi Tinggi

Saham Telkom dan BCA tergolong saham perusahaan yang bereputasi tinggi. Sebagaimana emiten yang lain, perusahaan itu mempunyai kepentingan penyajian prestasi dalam bentuk laporan keuangan kwartalan maupun tahunan. Dalam menghadapi laporan keuangan akhir bulan Desember atau akhir tahun 2005, wajar bila perusahaan menyiapkan suatu skenario.

Pada laporan keuangan di antaranya tersaji nilai dari modal dan aset perusahaan. Modal sendiri berupa saham, dinilai baik menurut nilai nominalnya maupun nilai pasar. Jika harga sahamnya rendah, maka nilai dari modal sendiri atas dasar nilai pasar akan menjadi rendah. Sebaliknya jika harga saham di bursa tinggi, maka akan meningkatkan nilai dari modal.

Strategi buy back dapat dijadikan sebagai salah satu skenario oleh pihak emiten untuk mengantisipasi jika terjadi perubahan lingkungan pasar. Pembelian kembali saham bukan berarti mengharapkan membeli dengan harga rendah, tetapi lebih pada upaya antisipasi jangan sampai harga saham menjadi rendah jika bursa dalam keadaan menurun.

Alasan program buy back dengan skenario demikian adalah wajar mengingat saat ini keadaan indikator ekonomi sedang mencari bentuk. Suku bunga sertifikat Bank Indonesia pada tiga kali pelelangan terakhir masih stabil pada level 12,25% untuk jangka waktu SBI 1 bulan. Mendekati akhir tahun, jika suku bunga berhasil turun, maka keadaan bursa efek akan membaik. Sebaliknya jika suku bunga naik lagi, keadaan bursa akan menurun.

Dengan program pembelian kembali, jumlah saham yang beredar di bursa akan menjadi berkurang. Pada suatu keadaan jumlah laba bersih tertentu, berkurangnya jumlah lembar saham yang beredar menjadikan keuntungan per lembar saham akan menjadi lebih tinggi. EPS merupakan hasil bagi antara keuntungan perusahaan dengan jumlah lembar saham. Jika EPS meningkat, dividen yang diterima para pemegang saham akan menjadi lebih tinggi.

(Prof Dr Sugeng Wahyudi, Guru Besar pada Fakultas Ekonomi Undip-33).


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA