logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 28 Nopember 2005 EKONOMI
Line

Pengembang Subsidi Bunga KPR

SOLO-Untuk menggairahkan kembali pasar properti dan meringankan beban konsumen rumah, para pengembang di Surakarta sepakat memberikan subsidi bunga kepada para pembeli rumah. Dengan pemberian subsidi bunga, diharapkan pasar properti akan terdongkrak.

Ketua Real Estat Indonesia (REI) Surakarta M Adib Ajiputra mengatakan hal itu kepada Suara Merdeka kemarin. Menurut dia, kenaikan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) akhir-akhir ini sangat tajam.

''Bunga KPR mulai 11%, naik menjadi 12,5% lalu 14%, naik lagi 16% dan terakhir menjadi 18%. Kenaikan bunga ini luar biasa. Selain memberakan konsumen rumah, juga membuat pasar menjadi lesu,'' katanya.

Untuk itu kata dia, para pengembang sepakat, dalam kondisi seperti ini mengurangi keuntungan. ''Hampir semua sepakat mengurangi keuntungan. Rata-rata mereka menyubsidi bunganya dari 18% menjadi 12,5%,'' kata dia.

Ditambahkan, bahkan ada pengembang rumah sehat sederhana yang memberikan subsidi bunga besar, sehingga ia mematok bunga hanya 11%. Susidi itu untuk jangka waktu setahun pertama (fixed rate).

Kebijakan subsidi bunga diberikan dalam jangka waktu setahun, selanjutnya akan dievaluasi sambil melihat perkembangan perekonomian Indonesia. Setelah setahun para pengembang akan bertemu untuk menindaklanjuti program itu.

Meski setiap pengembang memiliki policy sendiri dalam memasarkan produknya, Adib meyakini rata-rata anggota REI Surakarta mendukung program subsidi bunga tersebut.

Turun 20%

Menjawab tentang rendahnya permintaan pasar terhadap rumah, da mengungkapkan setelah kenaikan KPR,penurunan permintaan sampai mencapai 20%. ''Penurunan ini termasuk luar biasa,'' katanya.

Ia optimistis, setahun kemudian pasar properti akan normal kembali. Upaya lain untuk mendongkrak kelesuan pasar, awal tahun 2006 nanti akan diselenggarakan pameran.

''Setelah setahun lagi kondisi ekonomi dan pasar properti, insya Allah akan normal kembali. Setelah normal akan ada pembicaraan lagi. Kita juga akan menggelar pameran lagi.''

Tahun ini, kata dia momentumnya belum tepat, mungkin pameran baru digelar Januari awal 2006. Akibat kelesuan pasar, target penjualan rumah sebanyak 2.000 unit tahun ini diperkirakan tidak akan tercapai.

Ia mengungkapkan, akibat turunnya permintaan pasar banyak pengembang di Surakarta saat ini memilih tiarap. ''Mereka menunggu situasi ekonomi membaik kembali. Mereka tidak rontok, tapi tiarap,'' katanya. (bt-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA