| Sabtu, 26 Nopember 2005 | SALA |
Antisipasi Wabah AI dan AntraksLalu Lintas Hewan Ternak DiperketatSRAGEN - Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Sragen, mulai lebih memperketat lalu lintas hewan ternak dan daging. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi wabah penyakit avian influenza (AI) dan antraks yang saat ini diindikasikan merebak di sejumlah daerah. Kepala Disnakkan Kabupaten Sragen, Sri Hardiarti mengungkapkan, upaya memperketat itu di antaranya dilakukan dengan melakukan pemeriksaan secara rutin terhadap hewan ternak ataupun daging yang masuk dan akan keluar dari wilayah Sragen. ''Namun yang perlu kami tegaskan di sini, dari hasil pemetaan yang kami lakukan Sragen bukan wilayah endemis antraks. Maka, untuk wabah antraks upaya yang kami lakukan sifatnya juga masih sebatas langkah antisipatif,'' ujar Sri Hardiarti, di sela-sela melakukan kegiatan penyuluhan pencegahan AI di Desa Sambirejo, Plupuh, Sragen kemarin. Hingga kemarin, kata dia, Disnakkan masih memfokuskan pada penanganan terhadap wabah AI. Pasalnya, di wilayah Sragen populasi unggas yang memang rentan terserang wabah AI jumlahnya lebih tinggi dibandingkan dengan populasi ternak yang lainnya. ''Selain memperketat lalu lintas, secara kontinu kami juga melakukan langkah biosekuriti untuk mencegah penyebaran wabah. Di luar itu, kami juga mengadakan vaksin massal terhadap hewan ternak,'' paparnya. 69 Desa Menurut Hardiarti, kegiatan biosekuriti tersebut dilakukan di 69 desa dari 20 kecamatan yang ada di seluruh wilayah Sragen. Biosekuriti dilakukan terhadap seluruh hewan ternak babi dan unggas.''Populasi babi yang ada di Sragen 5.486 ekor dan unggas 8,4 juta ekor. Dalam pelaksanaan biosekuriti, diasumsikan 30 ml disinfektan digunakan untuk 5.000 ekor.'' Adapun untuk kegiatan vaksinasi juga dilakukan di 20 kecamatan dengan jumlah ternak yang divaksin mencapai 584.200 ekor. Terdiri atas jenis ayam ras ataupun buras, itik, puyuh, dan unggas peliharaan. Disnakkan Sragen mendapatkan jatah vaksin AI sebanyak 700.000 dosis dari Departemen Pertanian RI.Menyinggung tentang dugaan kasus AI, Disnakkan selalu melakukan pengujian sampel darah. Sampel darah diambil untuk pemeriksaan titer antibodi serta melakukan bedah bangkai (nekropsi) untuk mengetahui perubahan secara patologi. Uji sampel darah juga dilakukan pada ternak babi yang dilakukan bekerja sama dengan Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta. ''Hasilnya, dari 25 serum darah dan swab hidung menunjukkan hasil negatif virus AI,'' ujarnya. Sementara itu, berkaitan dengan perlindungan terhadap kondisi daging konsumsi, Sri Hardiarti menegaskan, Disnakkan mengadakan uji laboratorium terhadap daging ayam. Dengan menggunakan uji pH dan uji eber secara berkala, bisa diketahui kualitas daging yang dijajakan para pedagang di pasar-pasar Sragen. "Selain AI dan antraks kami juga terus melakukan pengawasan pada penjualan daging bangkai serta hasil-hasil perikanan awetan berbahaya lainnya," tandasnya.(G19-42v) |