logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 26 Nopember 2005 SALA
Line

Ribuan Hektare Sawah Kekeringan

WONOGIRI- Kekeringan ternyata tidak hanya terjadi pada areal tegalan dan lahan sawah tadah hujan, tapi juga melanda persawahan beririgasi teknis di Kabupaten Wonogiri.

Hal ini terjadi, karena bendung, waduk dan dam irigasi, sebagai sarana penyuplai air oncoran, sampai sekarang masih dalam keadaan kering kerontang.

Para petani di Kabupaten Wonogiri mengatakan, menghilangnya hujan sejak Idul Fitri lalu telah menyebabkan adanya ancaman kekeringan pada areal tanaman pangan yang telanjur ditanam atau ditebarkan benihnya. ''Juga menyebabkan waduk, dam dan bendung irigasi belum terisi air,'' keluh Slamet, petani sawah di daerah irigasi (DI) Waduk Krisak, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri.

Dampak menghilangnya hujan dan belum terisinya air di waduk, bendung dan dam irigasi, menyebabkan sebagian besar petani sawah belum dapat memulai kegiatan bersawah. ''Bagaimana dapat bersawah, kalau Waduk Krisak masih kering kerontang dan hujan juga belum kembali turun,'' ungkap Sartowiyono, petani Dusun Brajan, Desa Singodutan, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri.

Keluhan senada juga diungkapkan oleh para petani di daerah irigasi Balong, wilayah Kecamatan Batuwarno, Baturetno dan Tirtomoyo. Mereka mengatakan, jadwal tanam padi sawah di areal persawahan beririgasi teknis akan berlangsung mundur dan lebih bergantung pada cepat atau lambatnya hujan turun. ''Semoga saja hujan cepat mengguyur bumi Wonogiri,'' tutur Marto Mariman, petani di daerah irigasi Balong yang bermukim di Desa Bulurejo, Kecamatan Nguntoronadi.

Menurutnya, hujan-hujan deras akan menjadikan areal persawahan mereka menjadi basah dan siap diolah. Di sisi lain, air hujan yang turun deras dapat ditampung di bendung, dam dan waduk irigasi. Selanjutnya, airnya dapat didistribusikan ke saluran pembagi untuk mengairi persawahan.

Kasub Dinas Pengairan Kabupaten Wonogiri Gatot Haryadi dan Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Wonogiri, Guru Santosa, membenarkan tentang tertundanya kegiatan pengolahan sawah oleh para petani, karena terkendala belum adanya hujan deras yang turun di Wonogiri.

''Ini akan berdampak pada mundurnya kegiatan jadwal tanam di musim rendengan ini,'' kata keduanya.

Menurut Gatot, Kabupaten Wonogiri memiliki areal sawah beririgasi teknis seluas 7.513 ha. Rinciannya seluas 3.717 ha sawah yang diairi oleh tujuh waduk, yakni Waduk Krisak, Songputri, Ngancar, Parangjoho, Baran-Plumbon, Nawangan dan Dung Uling. Ditambah seluas 3.796 ha sawah yang diairi oleh 10 bendung irigasi, yaitu bendung irigasi Balong, Gondangyoso, Sugihan, Dawungan, Kedungjaran, Temon, Menggok, Karang Roto, Sari dan Greneng.

Laporan susulan, Jumat (25/11), menyatakan, kekeringan yang melanda persawahan beririgasi teknis, ternyata tidak saja terjadi di Kabupaten Wonogiri. Tapi juga dialami oleh persawahan beririgasi teknis seluas 23.300 ha di Kabupaten Sukoharjo, Sragen, Klaten dan Karanganyar (Jateng) serta Kabupaten Ngawi (Jatim), yang biasa mendapatkan suplai air irigasi dari bendung Colo (bendung pengatur irigasi yang air bakunya dari Waduk Gajahmungkur Wonogiri).

Kekeringan di areal persawahan di lima kabupaten itu, terjadi karena bendung Colo saat ini mengalami kering, dan dalam upaya perbaikan serta perawatan komponen pintu pengatur distribusi irigasinya. Petugas di Bendung Colo mengatakan, jadwal perbaikan ini diharapkan berlangsung sampai dengan 6 Desember 2005 mendatang.(P27-42)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA