logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 26 Nopember 2005 SALA
Line

DPRD dan Swasta Diundang Studi Banding ke Jerman

KOTA-Setelah mengundang para pengambil kebijakan (kepala daerah) melakukan studi banding soal pengembangan ekonomi regional ke Jerman, Mei lalu, GTZ dan Inwent (konsultan pengembangan ekonomi regional dari Jerman) ganti mengundang unsur pemimpin DPRD dan pelaku usaha melakukan kegiatan serupa.

"Kami sudah menerima kepastian dari dua lembaga itu. Mereka mengundang Ketua DPRD dan anggota Kadinda untuk melihat dan melakukan studi banding. Dengan demikian diharapkan dari unsur pengambil kebijakan dan pelaku usaha memiliki sudut pandang yang sama bagaimana mengembangkan perekonomian wilayah," kata Drs Ing Ramto, Sekretaris Badan Kerja Sama Antar-Daerah (BKAD) Wilayah Eks Karesidenan Surakarta, kemarin.

Menurut dia, kunjungan selama dua minggu yang dilakukan para kepala daerah beberapa waktu lalu itu menelurkan hasil positif berupa pembentukan promotion agencys yang akan diluncurkan akhir tahun ini. Selain itu, banyak pengembangan kebijakan bersama untuk membangun wilayah di eks Karesidenan Surakarta.

"Hanya ketika itu memang ada masukan supaya Jerman mengundang juga pemimpin DPRD dan pelaku usaha. Dua unsur itu sangat perlu tahu karena kebijakan pemerintah daerah akan lebih terdukung jika unsur legislatif dan swasta ikut mendukung," tuturnya.

GTZ dan Inwent, lanjut dia, setuju sehingga tahun depan diagendakan kunjungan tersebut. Bahkan akan diundang pula salah satu staf pemerintah daerah untuk ikut serta agar pada tahap pelaksana kebijakan juga memiliki pandangan yang sama.

"Mungkin Asisten I, Kabag Ekonomi, atau Disperindag," kata Ing Ramto.

Dibiayai Penuh

Kunjungan itu, ujar dia, dibiayai secara penuh oleh dua lembaga di bawah pemerintah Jerman tersebut sehingga tidak mengganggu anggaran pemerintah daerah. Di Jerman delegasi akan mengikuti serangkaian workshop dan kunjungan ke wilayah yang dikembangkan.

"Jangan ada dugaan di sana piknik. Pengalaman peserta pertama dulu mereka benar-benar sebagaimana orang mengikuti kuliah. Dengar ceramah, kunjungan ke lapangan, diskusi, bikin presentasi bersama, dan mengambil kesimpulan apa yang bisa diterapkan di Indonesia, khususnya di daerahnya. Jadi benar-benar studi banding," tandasnya.

Kunjungan direncanakan April atau Mei 2006 dan berlangsung satu sampai dua minggu. Agenda studi banding tersebut mulai persoalan kerja sama wilayah, privatisasi, dan pengembangan kawasan bisnis. Tiga hal itu diterapkan di Jerman untuk mengembangkan wilayah timur pascareunifikasi tahun 1991.(an-27)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA