logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 26 Nopember 2005 SALA
Line

Nama Surakarta Lebih Tepat dan Bagus

  • Soal Brand Image Wilayah Eks Karesidenan

KENTINGAN - Pernyataan Bupati Wonogiri Begug Poernomosidi tentang nama Surakarta yang lebih tepat dan dikenal daripada Subosukawonosraten dinilai cukup beralasan.

"Itu lebih bagus dan memiliki landasan faktor kesejarahan. Namun sekarang daerah-daerah di wilayah eks Karesidenan Surakarta masih dilanda ego sehingga masing-masing ingin menonjol," tutur KRMH Raditya Lintang Sasangka SE MSi, kemarin.

Kalau mau jujur dan proporsional dalam sikap dan cara berpikir, lanjut intelektual Keraton Surakarta itu, pernyataan Bupati Wonogiri bagus dan tepat.

"Akan tetapi bagaimana lagi, la wong daerah-daerah itu ingin menonjol dan disebut-sebut. Intinya, ada ego dan ikatan emosional terhadap daerahnya," jelas Sekretaris Jurusan Ekonomi Pembangunan UNS tersebut.

Nama atau kata Surakarta, lanjut dia, sebenarnya sudah tepat menunjuk dan mewakili sebuah komunitas dan kultur wilayah eks Karesidenan itu.

Nama itu pula yang sebenarnya dimaksudkan menunjuk wilayah yang terdiri atas Kabupaten Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, Boyolali, dan Kota Solo.

Latar belakang kesamaan kultur dan kedekatan wilayah geografis, kata dia, membuat nama Surakarta menjadi representasi wilayah serta karakter sosial budaya masyarakat di kawasan itu.

Namun, menurut dosen Pascasarjana UNS itu, sejak terjadi pergolakan sosial disusul kelahiran era otonomi daerah, masyarakat di wilayah Surakarta dilanda ego kedaerahan bahkan sampai kini masih tinggi intensitasnya.

"Dalam kondisi demikian kecil kemungkinannya daerah-daerah itu mau sepakat dan sepaham menggunakan nama Surakarta sebagai brand image. Kalau Subosukowonosraten kan semua daerah ikut disebut," jelasnya.

Tak Terburu-buru

Persoalannya sekarang, kata sentana dalem yang bernama kecil BRM Bambang Irawan itu, apakah nama Subosukowonosraten yang dilombakan itu sudah didasari analisis mendalam. Untuk apa membuat nama itu menjadi brand image dan melombakan slogannya?

Untuk menuju ke arah tersebut, ujar dia, seharusnya ada pembahasan secara intensif atau melalui sebuah proses yang tidak terburu-buru.

Dicontohkan kalau menjadikan brand image karena alasan budaya corporated maka boleh-boleh saja, apalagi untuk memperkuat citra. Namun perlu ditegaskan lagi apa yang akan dicitrakan dan apa pula produknya.

"Perlu diperjelas dan dipertegas peruntukannya agar lebih cetha sehingga arahnya jelas dan menjadi representasi sosial budaya dalam waktu lama. Sebab, memori kolektif kita gampang sekali terhapus walau belum lama," tegasnya.

Cucu SISKS Paku Buwono X itu menyebutkan, menyertai nama atau kata Surakarta sebenarnya sudah ada slogan The Real Java, tetapi mungkin dianggap kurang menunjuk pada kata Subosukowonosraten.

Dia menilai persoalannya hampir sama dengan slogan DIY yang berbunyi "Yogya Never Ending Asia" yang ternyata tidak bisa mewakili Kabupaten Bantul, Sleman, Gunung Kidul, Wates, dan Kulonprogo.

Mungkin, tutur dia, orang-orang yang ingin menjadikan Subosukowonosraten sebagai brand image dan mencari slogan yang tepat tidak ingin Surakarta bernasib sama dengan DIY. (won-27v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA