logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 26 Nopember 2005 OLAHRAGA
Line

PSIS dan Amatirisme Pembinaan Pemain

Oleh Iwan Anggoro

TIDAK ada pembinaan instan untuk menjadikan seseorang menjadi pemain bola yang andal. Tidak ada pembinaan yang murah untuk mencetak seorang pemain bola yang hebat.

Demikian kira-kira kata setiap orang yang merasa menjadi pembina sepak bola. Lihat saja ilustrasi dari Bambang Pamungkas yang sekarang sudah menjelma menjadi pemain top.

Orang tuanya mati-matian membina serta membiayainya dalam tempo yang tidak pendek.

Lantas, bagaimana dengan pemain-pemain lain? Jawabnya sama saja. Butuh kontinunitas pelatihan serta biaya yang tiada henti dan besar.

Dalam konteks ini, kita yang ada di Semarang rasanya perlu bersyukur masih banyak orang yang mau peduli dengan pembinaan pemain bola. Lihat saja, SSB ataupun LPSB yang ada di Semarang. Semua bersejarah.

Dari pemilik SSB atau LPSB dengan didukung para orang tua siswa serta para pelatih masing-masing, mereka bahu-membahu membina pemain. Lewat Asosiasi SSB mereka berkompetisi sendiri. Ya, semuanya dilaksanakan sendiri, biaya sendiri, dan dipikir sendiri oleh mereka.

Sayang, kondisi pemain-pemain muda yang berdikari ini hanya berlangsung sampai mereka berusia 16 tahun. Setelah itu bagaimana?

Yang pasti mereka harus masuk klub PSIS. Di usia 17 tahun mereka harus berlatih di klub untuk bersaing dengan teman-temannya yang lebih senior.

Pembinaan pemain yang berusia 17 tahun ini menjadi tidak kontinu lagi. Di sinilah letak terabaikannya pembinaan yang dalam tanda petik menjadi tanggung jawab pengurus PSIS.

Ada beberapa kelompok usia untuk membina pemain bola: kelompok remaja/taruna 16 tahun - 18 tahun, kelompok madya 19 tahun, 21-23 tahun dan kelompok bebas umur. Untuk kelompok pertama dan kedua, kapan mau dikompetisikan saya tidak tahu.

Yang pasti, 5 tahun terakhir ini terabaikan. Boro-boro mau ngurusi kompetisi kelompok umur. Untuk kompetisi yang kelompok bebas umur saja yang dinamakan kompetisi wajib tiap tahun, hanya berjalan 2 tahun sekali. Tahun 2005 dipastikan tidak ada kompetisi.

Begitu juga tahun 2003. Penguru-pengurus klub anggota PSIS mengeluh. Tapi tidak tahu harus kepada siapa supaya kompetisi bisa berjalan.

Bila kemudian kita, orang-orang bola Semarang, berharap semoga kepengurusan PSIS akan datang, periode 2005-2010 dan seterusnya, bisa dan mampu serta peduli dengan pembinaan pemain atau calon pemain di Semarang adalah sah-sah saja. Kompetisi adalah terminal dari pembinaan. Kompetisi yang rutin tiap tahun adalah wajib. Jadi, jangan abaikan kompetisi antarklub anggota PSIS.

Bentuk Divisi III

Jika dibandingkan dengan Persebaya, jelas PSIS cukup tertinggal jauh. Tidak hanya dari segi pembinaan pemain muda, kompetisi antarklub yang rutin, tapi juga pendanaannya. Lihat saja, di APBD 2005, Persebaya dikucuri dana dari Rp 15 miliar.

Dari jumlah tersebut Rp 13 miliar untuk tim Persebaya utama sedangkan Rp 2 miliar untuk memutar kompetisi antarklub anggotanya. Luar biasa dan bikin iri saja anggota klub PSIS.

Meski demikian, kita tidak usah bermimpi dulu untuk menggelar kompetisi antarklub dengan biaya miliaran rupiah itu. Realistis saja dulu.

Di masa akan datang, bisa berkompetisi dengan rutin tiap tahun untuk divisi I dasn divisi II bebas umur sudah akan sangat bersyukur. Apalagi diberi tambahan ada kompetisi kelompok umur. Ini juga luar biasa!.

Beberapa teman pernah bertanya, bagaimana klub mereka yang belum menjadi anggota PSIS bisa bergabung? Sampai saat ini, klub manapun yang mau bergabung terbentur dengan AD/ART. Di situ hanya mencantumkan klub anggota ada 25 dengan pembagian 12 tim di divisi I dan 13 kesebelasan divisi II.

Nah, untuk menambah atau menampung kemauan pihak-pihak yang ingin menjadi anggota, AD/ART tersebut harus diubah. Tempat yang paling ideal untuk mengubah ada di Musda. Saya yakin, seyakin-yakinnya, klub yang ingin gabung di PSIS pasti klub bermutu. Mereka akan melewati tahapan-tahapan yang ketat. Masalahnya, bagaimana kita mengakomodasinya?

Idealnya tiap divisi hanya 10 klub saja yang jadi anggota. Lantas kalau tiap divisi berisi 10 klub. Yang 5 klub ke mana? Kita bikin wadah baru, Divisi III. Divisi III ini direncanakan akan diisi oleh 5 tim terbawah divisi II ditambah klub baru yang akan bergabung kalau klub tersebut sudah lolos dari tahapan-tahapan seleksi yang ditentukan. Maksimal 5 klub baru. Kalau lebih dari 5 klub yang berminat, akan dieleksi untuk diambil 5 tim saja.

Divisi II diisi 10 kesebelasan diambil dari 6 klub urutan 3 - 8 di kompetisi.

Ditambah 4 klub urutan terbawah hasil kompetisi divisi I (urutan 9 - 12). Sedang divisi I nantinya akan diisi 8 klub urrutan 1 sampai 8 dari hasil kompetisi ditambah 2 tim yang promosi dari divisi II ( juara I dan juara II ).

Ini cara cepat untuk menampung aspirasi orang bola yang ingin bergabung sebagai klub anggota PSIS yang resmi. Tahun 2006 dijalankan, tahun 2007 PSIS sudah punya 3 divisi pembinaan klub anggotanya.

Sekali lagi, tempat yang bisa untuk mengubah AD/ART ada di Musda. Untuk kepentingan PSIS di masa mendatang, semoga wacana ini bisa diakomodasi serta bisa terwujud. (Penulis adalah Pengurus PS Garuda-22)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA