logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 26 Nopember 2005 NASIONAL
Line

Menengok Rumah Sakit di Singapura (2-Habis)

Dioperasi Robot, Ada Mata dalam Gigi

ANTONI (2 tahun 6 bulan) bergelayut manja pada ibunya. Meski agak gelisah, siang itu dia terlihat riang. Beberapa kali bocah lucu itu merengek minta turun dari pangkuan dan berjalan pelan dengan dipapah sang bunda. Siapa sangka jika dua jam lalu putra pasangan Ardi (36) dan Stefani (35) asal Jakarta itu baru saja menjalani operasi hernia di KK Women's & Children Hospital. "Sebenarnya besok kami akan pulang ke Indonesia. Namun, karena harus kontrol dua hari lagi terpaksa ditunda," ujar Ardi.

Saat ditanya kenapa memilih Singapura, Ardi yang bekerja di sebuah perusahaan di Semarang itu hanya menjawab singkat, "Pelayanannya cepat dan teliti."

Menjalani pengobatan di Singapura rata-rata memang tidak perlu waktu yang lama. Untuk penyakit yang relatif ringan, cukup dalam satu hari pasien bisa menyelesaikan serangkaian pemeriksaan sekaligus pengobatan dan langsung pulang. Mereka memang mengunggulkan one day stop service.

Untuk kasus-kasus berat yang harus menjalani operasi besar, para dokter biasanya menerapkan metode minimally invasive surgery (MIS), seperti teknik bedah laparoskopi. Contohnya untuk mengangkat tumor prostat, operasi tidak perlu dengan membelah perut pasien. Cukup membuat 5-6 lubang berukuran sekitar 1 cm di beberapa bagian perut.

Dengan cara itu, pendarahan yang terjadi lebih sedikit, rasa sakit bisa diminimalkan, dan luka bekas operasi bisa lebih cepat sembuh. Pasien juga lebih senang karena tidak akan meninggalkan tanda parut, seperti layaknya pembedahan konvensional. "Prosesnya sekitar tiga jam. Jika kondisinya stabil, hanya perlu rawat inap 1-2 hari," kata Wei Keat Cheah, ahli bedah di National University Hospital (NUH).

Bahkan di Singapore General Hospital, robot bisa melakukan pembedahan meski tentu saja yang mengendalikan tetaplah manusia. Juriyah Bte Yatim, salah seorang perawat di Urology Centre RS itu mengungkapkan, robot pintar bernama da Vinci yang dioperasikan sejak 2003 paling difavoritkan dalam pembedahan urologi. Pengoperasiannya pun langsung di bawah pengawasan konsultan bedah senior dokter Sidney Yip yang langsung mempelajari penggunaan robot itu di AS.

Penggunaan robot berharga dua juta dolar Singapura itu juga dapat mempercepat proses operasi, meminimalkan pendarahan, sekaligus mengurangi rasa sakit. "Bahkan, ada pasien yang bisa langsung pulang jika kondisinya stabil," ujar Juriyah yang mengaku kedua orang tuanya asli Kebumen, Jateng itu.

Semua RS di Singapura rata-rata dilengkapi peralatan canggih berteknologi tinggi, antara lain Multi Slice CT Scan, PET Scan, Ankle Branchial Index, MUGA Scan, dan Carotid Ultrasound.

Demikian pula dengan klinik-klinik pengobatan spesialis yang rata-rata berada dalam satu gedung dengan plasa atau pusat pertokoan. Sebut saja Singapore Heart, Stroke & Cancer Centre (HSC) yang terletak di lantai 8 Tower Ngee An City. Klinik ini memiliki MSCT Scan untuk mendiagnosis penyakit jantung, stroke, dan kanker. Soal tarifnya, Corporate Development HSC Kartika Wahyuni mengatakan berkisar 5.000-7.000 dolar Singapura. "Pasien asing di klinik ini 2.000 orang per tahun. Dari jumlah itu, 705 di antaranya dari Indonesia," ungkapnya.

Mata di Gigi

Beberapa klinik di negara itu memang cukup difavoritkan oleh orang-orang Indonesia, seperti AI Radiologi di Camden Medical dan Pacific Healtcare di Paragon Plaza. Termasuk klinik khusus kecantikan, antara lain DRX Clinic di Forum Mall dan Medspa di Camden Medical yang menyediakan peralatan canggih untuk mempercantik kulit dan tubuh.

Teknologi kedokteran di Singapura memang berkembang pesat. Sebuah prestasi dicatat Singapore Eye Centre yang dapat melakukan teknik tooth in eye sehingga pasien buta bisa melihat lagi. Adalah Luck Pewnual (19) yang mendapatkan keajaiban setelah matanya buta selama enam tahun. Pada 2004, tim dokter dari Singapore Eye Centre dan National Dental Centre menggunakan teknik tooth in eye.

Setelah membersihkan bagian dalam kelopak mata dan kornea, selaput lendir pipi pemuda Thailand ini ditempelkan di permukaan matanya. Lalu sebuah gigi taring Pewnual dicabut berikut jaringan ikatnya dan digabungkan dengan tulang giginya untuk dibentuk sebuah baut. Di situlah lensa plastik yang nanti berfungsi sebagai mata diletakkan dan ditanamkan pada pipinya.

"Setelah tumbuh pembuluh darah baru, gabungan silinder dan tulang gigi itu dilepas dari pipi lalu ditanamkan di matanya. Lewat silinder itulah dia bisa melihat lagi," papar Ravi Chandran, staf humas Singapore National Eye Centre. Setiap tahun, RS itu melakukan 12.000 pembedahan mata dan laser 11.000 kali per tahun.

Di Thomson Hospital, 339 Thomson Road, kami bertemu dengan Eva Mazrieva (35), penyiar radio di Singapura yang asli Aceh dan suaminya, Haryo Dewanto (36), yang tinggal di Jakarta. Dia menjalani proses bayi tabung dan kini tinggal menunggu kelahiran bayi kembar tiganya, dua lelaki dan satu perempuan.

Karena salah satu indung telurnya tersumbat, dokter Cheng Li Chan menyarankan dia menjalani terapi untuk membuat siklus ovulasinya teratur dan menurunkan hormon prolaktinnya yang tinggi. "Prosesnya cepat, tidak lebih dari dua bulan. Sekarang kandungan saya sudah lima bulan, kemungkinan mereka lahir 18 Maret 2006," paparnya bahagia.

Meski biaya yang harus dikeluarkan untuk bayi tabung ini cukup besar, berkisar 10.000-12.000 dolar Singapura, bagi Eva dan Haryo bisa mendapatkan momongan jauh lebih berharga. "Saya kehilangan 42 sanak keluarga saat tsunami lalu. Karena itu, kami terpacu segera punya anak."

Untuk urusan melahirkan, fasilitas yang disediakan di RS itu sangat lengkap. Yang ingin melahirkan tanpa rasa sakit pun sudah ada metodenya. Selain menyuntikan obat, bisa berendam di sebuah jacuzzi yang dipercaya dapat mengurangi sakit saat kontraksi.

Soal biayanya untuk kamar deluxe 420 dolar Singapura, VIP 700 dolar Singapura. Persalinan normal paket dua hari 888-2.004 dolar Singapura, sedangkan bedah caesar 3.000 dolar Singapura. (Renny Martini-41j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA