| Sabtu, 26 Nopember 2005 | MURIA |
Wanita Dimitoskan sebagai Benda SeniOleh: Rini RoediwatiKADANG KALA dimensi wanita masih dipandang dari seputar kecantikan, keluwesan, atau yang bersifat kelebihan fisik yang bisa menjadi daya tarik orang lain, terutama kaum Adam. Derasnya arus informasi yang disajikan oleh berbagai media cetak dan elektronik, juga masih ada kecenderungan mengeksploitasi kaum Hawa, terutama untuk kepentingan bisnis. Memang, selama ini wanita masih dimitoskan layaknya benda seni, sehingga menjadi hal yang menarik untuk "dinikmati". Itu sebabnya, wanita sering dianggap sebagai "penggoda". Anehnya, jarang ada pihak yang protes ketika melihat fenomena seperti itu. Bahkan, sebagian kaum Hawa terkesan ikut menyuburkan mitos tersebut. Maka, banyak wanita yang sibuk berhias diri daripada harus mempercantik hati dan mengasah otaknya. Sementara, di sekeliling kita banyak peristiwa kenakalan anak yang melebihi batas kewajaran. Di sisi lain, kita juga mengkhawatirkan perkembangan jiwa anak-anak yang sedang tumbuh. Mengingat, tidak sedikit anak-anak yang matang sebelum waktunya. Seperti yang sering diberitakan harian ini, banyak terjadi kasus kenakalan anak, entah itu soal mabuk-mabukan atau tawuran siswa antarsekolah. Ada juga kasus pemerkosaan, bahkan pembunuhan yang pelakunya masih pantas disebut bocah ingusan. Di Kota Rembang, sekarang banyak pelajar, baik pria maupun wanita, mengisap rokok di kafe-kafe. Ada pula pelajar yang berpacaran di tempat-tempat rekreasi layaknya orang dewasa. Mereka mudah dikenali identitasnya, karena masih menggunakan seragam, lengkap dengan atribut sekolah. Harus diakui, arus informasi yang transparan sering melahirkan dampak negatif, bila mana keluarga tidak menjalankan fungsi masing-masing. Dari persoalan itu akhirnya terjadilah apa yang disebut kenakalan remaja. Dengan kondisi atau ilustrasi di atas, kita bisa memprediksi betapa penting peran keluarga, khususnya ibu. Dan, menurut hemat saya, ibu mempunyai kekuatan luar biasa dalam membina keluarga sejahtera. Dalam konsep Panca Dharma Wanita pun dibeberkan tentang tugas pokok kaum ibu, yang antara lain wanita sebagai pendidik dan pembimbing anak-anaknya. Sebagai konsekuensi logis, seorang ibu tidak hanya dituntut untuk mengembangkan daya estetika, etika, atau hal-hal yang berbau feminim saja, tetapi harus mampu mendayagunakan intelektualitasnya. Maka, seorang ibu dapat bermanfaat untuk dirinya, keluarga, bangsa, dan negara. Peran Ibu Lebih tegas lagi, seorang ibu dituntut mampu mengantarkan anak-anaknya ke pintu kesuksesan dalam hidupnya. Kesuksesan hidup seorang anak, sebagai wujud adanya peran ibu dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, di tengah bangsa yang sedang membangun. Sumber daya yang berkualitas, antara lain melalui pendidikan. Secara alamiah, anak bisa tumbuh dewasa bersama proses kasih sayang dari ibu yang mengandung dan menyusuinya. Karena itu, ibu dan anak memiliki ikatan batin yang begitu kuat. Maka, pada umumnya anak lebih mencintai ibu dibandingkan dengan ayah. Di sinilah peranan dominan ibu. Fungsi ibu, khususnya menyangkut cinta kasih kepada anaknya tak mungkin bisa digantikan oleh fungsi lain dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebaliknya, hambarnya kasih sayang ibu kepada anaknya hanya akan menghambat perkembangan intelektual dan emosional putra-putrinya. Dengan ketulusan hati yang suci dan penuh kasih sayang ibu terhadap sang anak, pasti akan membawa kehangatan dalam keluarga. Jika peranan ibu dapat dimanfaatkan secara efisien dan efektif kepada anak, dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Insya Allah akan lebih baik. Meski, masih dibutuhkan partisipasi penuh dari banyak kalangan seperti keluarga, tetangga, guru, dan pemerintah. Sebentar lagi (5 Desember 2005), kita akan memperingati HUT Dharma Wanita. Barangkali tidak pernah terlintas dalam pikiran kita bahwa perjalanan hidup kaum wanita untuk mencapai cita-cita RA Kartini masih cukup panjang. Adapun keberhasilan menggapai cita-cita adalah pengorbanan. Allah berfirman "Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka". Jadi, Tuhan telah menganjurkan agar kehidupan keluarga menjadi bahan pemikiran dan perhatian yang serius. Dengan demikian, dari keluarga akan lahir manusia-manusia berkualitas sebagai sumber daya insan pembangunan.(17s) -Penulis adalah pegawai negeri sipil pada Dispenlopas Rembang. |