| Sabtu, 26 Nopember 2005 | SEMARANG |
Ada ''Agenda'' di Balik Isu Hantu CekikSEMARANG - Isu hantu cekik di Kota Semarang dan sekitarnya diduga terkait dengan beberapa agenda tersembunyi menyangkut keamanan dan politik. Isu tersebut sengaja disebarkan agar tekanan psikologis yang dihadapi masyarakat meningkat. Hipotesis itu disampaikan psikolog Unika Soegijapranata, Ferdinandus Hindiarto, Jumat (25/11), terkait dengan terjadinya peristiwa ''hantu cekik'' di kelurahan Gabahan, Kecamatan Semarang Tengah. Menurut dia, isu itu adalah upaya untuk ''mempermainkan'' psikologi massa. Saat ini masyarakat sedang menghadapi berbagai tekanan, antara lain dengan kenaikan harga-harga barang kebutuhan sehari-hari. Setelah ditambah dengan isu hantu cekik, diharapkan tekanan psikologis tersebut bakal meningkat. Upaya mengarahkan pikiran publik pada hal-hal gaib, saat ini mudah dilakukan karena warga ''dicekoki'' berbagai tayangan televisi seputar hantu, pesugihan, dan hal-hal gaib lainnya. Dengan tekanan itu, masyarakat diharapkan meningkatkan kewaspadaan terhadap segala sesuatu, termasuk orang-orang yang dicurigai terkait jaringan teroris. ''Dugaan itu terkait dengan fakta yang disampaikan berbagai media, bahwa Kota Semarang dan sekitarnya merupakan persembunyian jaringan teroris,'' katanya. Terdapat kecenderungan, sasaran isu semacam itu adalah masyarakat yang tingkat rasionalitas dan ekonominya menengah ke bawah. Menurut dia, isu hantu cekik tidak akan terlalu berpengaruh di kawasan perumahan yang warganya berpendidikan tinggi dan berasal dari kalangan menengah ke atas. ''Di perumahan semacam itu, hantu cekik hanya bahan guyonan,'' kata dia. Agenda Politis Ada pula kemungkinan isu itu terkait dengan pilkada di Kabupaten Demak. ''Namun kaitannya dengan siapa dan dengan motif apa, itu masih sulit diduga,'' kata dia. Saat ditanya tentang keterangan para saksi mata yang melihat para korban mencekik lehernya sendiri, menurut dia, hal itu terkait dengan halusinasi. Menurut Ferdinand, halusinasi gampang muncul pada orang-orang yang mengalami beban psikologis berat. Warga harus dibantu dan dibebaskan dari keresahan. Maka dia menyarankan agar lurah dan para tokoh masyarakat setempat memberikan penjelasan yang sederhana tapi logis. Upaya-upaya penyelesaian dengan cara mengundang dukun atau paranormal justru memperparah keadaan. Sebab, cara-cara yang digunakan dukun cenderung tidak rasional dan abstrak. Sementara itu warga di Kelurahan Gabahan Kecamatan Semarang Tengah, Kamis (24/11) malam, geger setelah seorang warganya mencekik lehernya sendiri. Warga mengaitkan peristiwa itu dengan isu hantu cekik yang sebelumnya sudah berembus di wilayah itu. Eni Purwanti (33), seorang saksi mata, menuturkan, malam itu dia tidak bisa tidur. Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan di dekat rumah, setelah dilihat ternyata tidak ada apa-apa. ''Sebelumnya saya sudah mendengar bahwa kemunculan hantu cekik didahului suara ledakan,'' kata dia. Eni kemudian menjerit-jerit setelah dia merasa merasa diserang sesuatu. Saat itu neneknya bernama Waginem (79) berusaha menolong. Dia mengaku, saat itu melihat neneknya seperti dilemparkan oleh sesuatu. ''Kami berharap warga tenang namun tetap waspada. Dalam waktu dekat, kami akan mengajak warga meningkatkan ketakwaan dengan mengadakan pengajian bersama,'' kata Lurah Gabahan Burhan Arifin. (G6-18n) |