| Sabtu, 26 Nopember 2005 | SEMARANG |
Senyum untuk Para Model BeliaPERBEDAAN usia bukan halangan untuk bersaing merebut prestasi tertentu. Acara Festival Busana Musim 2005 dan Top Model Kalender 2006 Jateng dan DIY di Borobudur Room Hotel Graha Santika Semarang, beberapa waktu lalu, membuktikan hal tersebut. Anak-anak usia belia dan remaja berada di satu panggung menampilkan kepiawaian sebagai model di hadapan dewan juri yang berasal dari beberapa kalangan, seperti pakar modeling dan pakar kecantikan. Pada acara yang diselenggarakan Yayasan Adhi Luhung Semarang itu, mereka bersaing memperebutkan trofi bergilir Gubernur Jateng. Maka, apa yang tersaji malam itu boleh dibilang cukup berwarna. Penonton tak hanya menyaksikan bagaimana mereka secara luwes bergerak di catwalk, tapi juga aksi-aksi lugu kanak-kanak yang menggerakkan mereka untuk tersenyum. Selain itu, ketiadaan demam panggung pada model anak-anak itu mau tak mau membuat penonton berdecak kagum. Lihat misalnya, seorang model anak lelaki berusia sekitar empat tahun yang terlihat begitu mantap saat menaiki catwalk. Dengan busana kasual dan berkaca mata hitam, dia melangkah dengan sangat yakin. Sangat Yakin Gerak-geriknya mirip orang dewasa yang sedang membanggakan sesuatu. Sikap sangat yakin di hadapan penonton yang rata-rata berusia dewasa cukup memunculkan kekaguman. Memang ada pula model cilik yang terkesan canggung bergerak. Sebut misalnya seorang bocah perempuan cilik dalam busana pesta warna hitam. Dia memakai sepatu berhak tinggi. Saat melangkah, gerak kakinya seperti sangat dihitung. Jadi, yang tertangkap mata adalah gerakan yang jauh dari keluwesan. ''Wah, namanya juga anak-anak. Cara melangkahnya pun seperti patuh pada instruksi instrukturnya,'' komentar seorang penonton. Meski demikian, secara umum aksi model anak-anak cukup bagus dilihat. Umumnya, mereka tampil mantap dan luwes. Sebenarnya, kecanggungan bergerak di atas panggung tak melulu muncul dari model anak-anak. Beberapa peserta yang berusia remaja pun ada yang terlihat seperti itu. Mereka bergerak dengan langkah kaku, sehingga tak enak ditonton. Di luar itu semua, tujuan pergelaran tersebut patut diapreasiasi. Menurut Hapsari ST, salah seorang penyelenggara, acara tersebut sangat bagus untuk mencari model-model dari usia dini. ''Melihat bakat seseorang haruslah dimulai sejak dia berusia dini. Jadi, ajang ini sangat bagus untuk mencari bakat-bakat baru itu. Seorang model yang bagus tak bisa lahir secara tiba-tiba,'' ujar Hani. Yang pasti, animo atau ketertarikan pada ajang yang digelar yayasan tersebut cukup bagus. Tak hanya dari Semarang, peserta datang dari beberapa kota di Jateng seperti Kudus, Temanggung, dan Magelang. Ervinca Maharani Arum Puspitasari, seorang model anak dari Semarang terpilih sebagai peraih trofi bergilir dari Gubernur Jateng. Selain Ervinca, berbagai kategori juara diraih secara merata oleh para peserta. (Saroni Asikin-18d) |