logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 26 Nopember 2005 SEMARANG
Line

RRI Bidik Kawula Muda

SEMARANG - Di tengah maraknya persaingan antarstasiun radio, baik di tingkat lokal, regional, nasional maupun global, RRI siap menghadapinya. Sebab sebagai lembaga penyiaran yang telah berusia 60 tahun, RRI mempunyai aset luar biasa dalam bentuk bangunan, peralatan, dan jaringan yang luas. Di dalam negeri, ada 58 stasiun dan ditambah jaringan mitra global.

Demikian dikatakan Direktur utama LPP RRI Parni Hadi saat memberi sambutan dalam pengambilan sumpah pelantikan dan serah terima jabatan Kepala RRI Cabang Madia Semarang di Auditorium RRI Semarang, Rabu (24/11).

Dalam kesempatan tersebut, Parni Hadi mengambil sumpah pejabat baru Nining Pujiastuti Restuningsih sebagai Kepala RRI Semarang, menggantikan pejabat lama Ahmad Sjukri Ahkab. Pejabat lama selanjutnya menjadi anggota Dewan Pengawas LPP RRI. Hadir dalam acara itu, Gubernur bersama istri Hj Effi Mardiyanto.

Lebih lanjut Parni Hadi mengatakan, persaingan justru diperlukan untuk memacu institusi untuk maju. Karena itu, persaingan harus disambut baik. "Yang paling penting sekaligus sulit dinilai adalah aset dalam bentuk SDM yang memiliki akumulasi pengetahuan dan pengalaman," tandasnya.

Untuk menghadapi persaingan, lanjut Hadi, langkah direksi adalah membangun citra baru RRI, dari corong pemerintah menjadi pengabdi kepentingan masyarakat. "Ini kami lakukan bukan hanya dengan promosi, melainkan juga menghasilkan produk yang bisa didengar, dilihat, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.''

Terobosan baru lain, RRI akan membidik segmen kawula muda. Kalau selama ini RRI selalu identik dengan pendengar kelompok tua, akan dicoba menampilkan hiburan yang bisa merebut hati kawula muda.

Gubernur H Mardiyanto berharap, RRI ikut mendorong pemberitaan yang positif. Dengan demikian, bisa tercipta iklim yang kondusif di Jateng. Jangan sampai ada informasi yang membuat bingung masyarakat sehingga justru merusak persatuan dan kesatuan bangsa. "Di tengah persaingan radio, RRI harus mampu menyajikan berita yang inovatif. Acara Guyon Maton misalnya, perlu dipertahankan karena merupakan gambaran kondisi riil masyarakat," tutur Mardiyanto. (knd-44m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA