| Sabtu, 26 Nopember 2005 | SEMARANG |
Penderita Diare Kian Bertambah
SEMARANG - YMT Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang dokter Tatik Suyarti MKes mengatakan, perubahan musim berperan besar dalam peningkatan penyakit, termasuk demam berdarah dan diare. Untuk itu, dia mengharapkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan, dan mengaktifkan kegiatan pembersihan rumah serta lingkungan, Termasuk di dalamnya kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). ''Pada beberapa minggu terakhir, data pasien di rumah sakit dan puskesmas mengalami peningkatan, khusunya DBD dan diare. Namun sejauh ini jumlah pasien itu belum mengarah pada Kejadian Luar Biasa (KLB),'' kata dia. Khusus diare, Tatik menjelaskan, kecenderungan peningkatan jumlah penderita dimulai pada minggu ke-44 atau akhir Oktober lalu. Saat itu jumlah penderita di rumah sakit dan puskesmas tercatat 175 orang. Pada minggu ke-45 dan 46 berturut-turut jumlahnya meningkat menjadi 319 dan 363 orang. Sebagian besar penderita masih berusia anak-anak, namun ada pula yang masih balita. Diperkirakan pada minggu-minggu ke depan, jumlah penderita diare itu akan terus meningkat. ''Pada dasarnya, diare berhubungan dengan pola makan dan daya tahan tubuh. Pola makan yang tidak teratur berpotensi besar menimbulkan diare,'' kata dia. Penanganan pasien diare bisa dilakukan di RS, puskesmas, atau di rumah. Satu langkah penting yang perlu diambil terhadap anak yang menderita diare adalah memberikan minum sebanyak-banyaknya, baik berupa oralit, air putih, air gula, air kuah, ataupun cairan lainnya. Pemkot Terlambat Sementara itu, Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Yulius Basiwantoro BA meminta Pemkot lebih proaktif dalam menghadapi persoalan meningkatkan wabah penyakit, termasuk demam berdarah dengue (0DBD). Upaya proaktif tersebut bisa dilakukan lurah dan puskesmas di kecamatan untuk memberikan sosialisasi. ''Sosialisasi penanggulangan demam berdarah memang harus diefektifkan,'' kata dia, Jumat (25/11). Dia juga menilai Pemkot kurang proaktif untuk mengatasi penyebaran demam berdarah. Menurutnya, di Banyumanik ada warga yang sudah terkena DBD, tetapi Pemkot tidak segera melakukan fogging. ''Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin nyamuk pembawa virus demam berdarah menggingit lebih banyak orang. Hal itu bisa menyebabkan jumlah penderita meningkat,'' kata dia. Dikatakan, ketika ada warga yang sudah terjangkiti, Pemkot tidak perlu menunggu laporan tertulis untuk melakukan tindakan. Setelah menerima laporan lisan pun petugas Dinas Kesehatan seharusnya langsung meninjau lokasi. Setelah itu, penyemprotan bisa dilakukan. ''Dalam waktu dekat, kami akan mengundang eksekutif dan meminta mereka lebih proaktif. Itu sudah masuk agenda komisi D,'' kata dia. (G6,H9-18n) |