logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 26 Nopember 2005 BUDAYA
Line

Arie Setiawan Pameran Lagi

PADA seni lukis, tak banyak pelukis yang memanfaatkan akuarel sebagai medium kreasinya. Selain membutuhkan teknik tertentu, akuarel memang kalah populer dari medium cat minyak atau akrilik. Dari yang sedikit itu, nama Arie Setiawan, pelukis asal Semarang, boleh disebutkan.

Sebenarnya dia adalah pelukis lama yang "menghilang" sekitar 30 tahun lamanya. Tapi dalam dua tahun terakhir ini, produktivitasnya sungguh menakjubkan. "Kebanggaan seorang pelukis akan eksistensinya adalah ketika ia menggelar pameran tunggal," kata Arie.

Maka sejak "kembali" melukis, dia cukup sering berpameran tunggal. Di Museum Ronggowarsito Semarang, dia berpameran mulai 28 November hingga 2 Desember.

Dia akan memamerkan sekitar 50 lukisan akuarelnya. Pameran itu diselenggarakan oleh Hima Jurusan Seni Rupa FBS Unnes bekerja sama dengan Komunitas Budaya Tapak Kaki Semarang. Menarik mencermati bagaimana akuarel disapukan di atas kertas pada lukisan karya Arie.

Menurut Purwanto, dosen Seni Rupa Unnes yang menjadi semacam kurator pameran, ciri khas karya Arie adalah impresi terhadap objek-objek sederhana dari lingkungan sekitar yang ditumpahkan ke atas kertas. Maksudnya, dia mengekpresikan pergulatan batinnya dalam ujud objek kasatmata pada kertas.

Dalam berkreasi, dia disebut-sebut mewarisi semangat Nashar dalam soal konsep berkesenian. Sementara dari Rusli yang dikenal sebagai pelukis akuarel bagus, dia belajar soal filsafat melukis dengan cat air. Yakni, sikap tegas, jujur, spontan, pasti, sempurna, esensial, dan jadi.

Ditanya mengapa dia memilih akuarel sebagai medium, pelukis kelahiran Kediri, 19 Januari 1947 itu menjawab: "Akuarel sebagai medium banyak memiliki keterbatasan. Tak mudah melukis dengan medium itu. Tapi bagi saya, keterbatasan itu jadi kekuatannya."

Selain pameran, acara juga dilengkapi dengan diskusi selama empat malam. Diskusi itu tak hanya mendedah lukisan Arie, tapi juga persoalan kesenirupaan dewasa ini. Menariknya, para pembicara yang akan dihadirkan memiliki beragam atribut, yaitu kreator, pengamat seni lukis, dan kurator.

Bambang Bujono dan Djuli Djatiprambudi akan membahas topik "Membaca Teks dan Konteks Lukisan Karya Arie Setiawan dalam Bingkai Seni Lukis Akuarel" pada 29 November malam.

Malam berikutnya, tampil Ipong Purnosidhi, pelukis grafis, yang akan mendedah "Seni Grafis di Indonesia: Persoalan dan Masa Depannya". Kamis (1/12) malam, Asmujo Jono Irianto membahas "New Media Art: Wacana dan Praktik di Indonesia."

Pada diskusi terakhir, 2 Desember malam, Mamannoor akan mengangkat tema "Kebangkitan Seni Rupa Kontemporer China dan Pengaruhnya pada Dinamika Seni Rupa di Kawasan Asia Pasifik, Khususnya Indonesia." (Saroni Asikin-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA