logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 26 Nopember 2005 BUDAYA
Line

Menuju Layar Liputan 6 Masuki Babak Eliminasi

HARI ini eliminasi babak pertama dilakukan bagi 22 finalis Menuju Layar Liputan 6 (MLL) SCTV. Tentu saja nasib mereka sangat tergantung acara yang akan digelar siang ini di Planet Hoolywood di bilangan Jalan Gatot Subroto, Jakarta berselebelahan dengan gedung SCTV.

Hari ini di antara mereka akan dieliminasi hingga menyisakan sembilan orang terbaik. Ke-22 orang finalis itu sendiri berasal dari 11 kota, yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Malang, Denpasar, Medan, Palembang, Padang, dan Makassar. Mereka adalah juara pertama dan runner up dari kota masing-masing.

Semarang mengirimkan Irina Monarizki dan Dwi Rina Puspitasari. Irina, gadis asli Semarang ini masih tercatat sebagai mahasiswi Jurusan Komunikasi FISIP Undip. Selama ini dia aktif sebagai penyiar radio di Semarang.

Sementara Dwi Rina Puspitasari yang berasal dari Kebumen aktif sebagai presenter di Ratih TV Kebumen. Ia juga masih tercatat sebagai mahasiswa semester IV Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Terbuka.

Sejak 20 November lalu mereka telah mengikuti berbagai pelatihan yang terkait dengan bidang jurnalistik.

Tinggalkan Si Kecil

Meski aktif sebagai penyiar dan masih sibuk sebagai mahasiswi, ternyata Dwi Rina adalah juga seorang ibu dengan tiga anak. "Kebetulan anak pertama kami laki-laki dan kembar, sebentar lagi berulangtahun ke-2. Si bungsu perempuan, baru lahir 16 Oktober lalu," cerita Rison P Sihotang, suami Dwi Rina, kepada Suara Merdeka via telepon kemarin.

Dia menceritakan, ketika Mei lalu SCTV menggelar acara Menuju Layar Liputan 6, Dwi mengaku sangat antusias untuk mengikutinya. Ia kemudian mendaftar di Kota Semarang.

"Kebetulan waktu itu yang pertamakali di gelar di Jakarta, baru kemudian Semarang. Saya anjurkan supaya dia mendaftar melalui Semarang saja karena pertimbangan usia kandungannya yang masih rawan. Rina sangat antusias waktu mendaftar. Padahal waktu itu dia sedang hamil empat bulan, tapi memang belum kelihatan," terang Rison.

Ketika itu ada lebih dari 230 orang yang mendaftar mengikuti MLL 6 di Semarang. Dari jumlah itu disaring hingga tinggal 30 orang. Kemudian masih diperas lagi dan menyisakan sepuluh peserta. Dari sepuluh besar itu diambil 2 pemenang, yakni Irina dan Dwi Rina.

"Ketika tahu Rina masuk final, kami agak deg-degan juga karena masih mengkhawatirkan perihal kemungkinan kelahiran anak ketiga kami itu. Apalagi dari SCTV juga sudah ada MoU yang harus ditandatangani Rina yang menyebutkan kalau membatalkan kepergian ke Jakarta pada saat final nanti, maka harus mengganti kerugian Rp 12 juta. Untungnya bayi kami sudah lahir sebelum tanggal keberangkatan. Reynata Mutiara Sonnaya lahir pada 16 Oktober. Belum sampai sebulan sudah harus ditinggal ibunya ke Jakarta. Yah begitulah perjuangan Rina, mudah-mudahan nanti membuahkan hasil yang manis bagi keluarga," ungkap Rison lagi.

Semula Rison berencana membawa ketiga buah hatinya ke Jakarta dan menitipkannya ke orangtua Rison. "Tapi pertimbangan saya, rumah orangtua saya itu daerah endemi demam berdarah, yaitu di Jatinegara. Sekarang kan sedang musim demam berdarah, akhirnya orangtua saya yang saya minta datang ke Kebumen dan mengasuh anak-anak, sementara ibunya berjuang di Jakarta," paparnya.

Hebatnya, begitu tiba di Jakarta, Dwi Rina beserta para finalis lain harus langsung melakukan kegiatan outbound di Citarik, Jawa Barat. Bersama sejumlah wartawan, para finalis MLL 6 itu memang mengikuti kegiatan arung jeram yang membutuhkan ketahanan fisik. (tn-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA