| Rabu, 23 Nopember 2005 | NASIONAL |
Sepenggal Kisah Aip (2-Habis)Ibunya Berharap Bagikan Ilmu PesantrenWARGA di sekitar tempat tinggal Aip Hidayat, yang diduga pelaku ketiga Bom Bali II dan aksinya sempat terekam video amatir, di Dusun Karangsari, Desa Bangunsari, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, kebanyakan bekerja sebagai petani penggarap. "Dari 1800 kepala keluarga yang bermukim di sini, sekitar 60 persen bekerja sebagai petani penggarap. Untuk menyiasati hidup, mereka menjalani usaha sampingan, yakni, berdagang selai pisang hingga jualan cilok," kata Kades Bangunsari, Tasam Darmawan. Menurut Tasam, banyak di antara mereka masuk kategori keluarga miskin. Meski demikian, kondisi tersebut tampaknya tidak menjadi persoalan. sebab, yang penting bagi mereka, menerima kondisi tersebut dengan mengacu kepada keagungan Tuhan Yang Mahaesa. Jargon itu pula yang akhirnya mengenalkan keluarga Aday Hidayat dan Siti Rokayah terhadap keberadaan anaknya, Aip Hidayat, saat diidentifikasi sebagai pelaku peledakan bom di Bali, Oktober lalu. Petuahnya, "Tak apa miskin harta asal kaya hati," diucapkan Aip dalam VCD rekaman pelaku bom Bali II yang diperoleh aparat. Kediaman Aip bisa dibilang sangat sederhana. Bangunan dari bilik itu berukuran 5x3 meter. Ruang tamu dan tempat tidur tanpa sekat. Sumur dan kamar mandi sederhana berupa petak seng dibangun di depan rumah mereka. Makin Tertekan Rumah itu dihuni adik-adik Aip pula, yakni, Ernawati (15), Luli Widawati (11), Adi Hidayat (2,5), dan Rizky Hidayat (5 bulan), juga orang tuanya. Saat Aip datang dari Majalengka, tempatnya menimba ilmu di pesantren, memilih menginap di rumah temannya, Hendri, yang tak jauh dari rumah keluarganya. Untuk menghidupi keluarga, kedua orang tuanya bekerja sebagai petani penggarap. Kadang-kadang Aday berjualan cilok di sekitar kampungnya. Hanya saja, kegiatan itu sudah jarang dilakukan. Sebab, Ramadhan lalu, penyakit bronchitis yang dideritanya kambuh. Praktis dia lebih banyak beristirahat. Kabar bahwa anaknya terlibat pengeboman makin membuatnya tertekan. Keinginan keluarga terhadap Aip, sebenarnya sederhana. Dia diharapkan mampu menjabarkan petuah ibunya, dengan cara membagikan ilmu dari pesantren kepada warga kampungnya. Minimal mengajar membaca dan memahami makna ayat suci kepada anak-anak di sana. (Setiady Dwie-60h) |