| Rabu, 23 Nopember 2005 | NASIONAL |
Nelayan Pascakenaikan BBM (1)''Melaut, Sekadar Untung-untungan''Dengan kalkulasi apa pun, situasi saat ini dengan harga BBM solar yang tinggi, melepas kapal sama saja menunggu kebangkrutan. Melihat risiko yang tinggi itu, membuat 90 persen kapal nelayan jenis pursheine dan cantrang di Kota Tegal memilih tak melaut. Selebihnya, (10 persen) nekat melaut dengan harapan, siapa tahu dapat untung. Untuk lebih mengetahui bagaimana nasib juragan dan ABK menyikapi situasi tak menentu ini, wartawan Suara Merdeka Wahidin Soedja menurunkan tulisan berseri. SIANG itu udara panas terasa menyengat di kompleks Pelabuhan Kota Tegal. Ratusan kapal jenis pursheine dengan berat 35 GT (grosston) berjajar rapi di dermaga pelabuhan. Dari ratusan kapal, hanya dua kapal yang bongkar-muat ikan, selebihnya tambat entah sampai kapan waktunya. Sepinya aktivitas Pelabuhan Tegal, yang pada era 1970-an pernah menjadi lalu lintas angkutan tetes tebu, tak lepas dari keputusasaan para juragan dan ABK pada situasi tak menentu pascakenaikan BBM. Mereka menilai, kenaikan BBM yang tak wajar harus segera dicarikan solusi oleh pemerintah. Jika tidak, satu atau dua tahun lagi akan muncul berbagai persoalan sosial yang justru akan merepotkan semua pihak. Saat ini, kalangan nelayan dan pemilik kapal lebih memilih diam, karena suara mereka dianggap sudah tidak pernah didengar lagi. ''Kami sudah berteriak lantang soal kesulitan nelayan dan juragan. Tapi pemerintah tak mau mendengar kesulitan kami,'' papar H Tasman, pemilik dua kapal berbobot di atas 30 GT itu. Tasman adalah warga Kelurahan Tegalsari, Kota Tegal. Dia memiliki sekitar 60 ABK, kini semua menganggur karena kapalnya tak melaut. Dalam hitungan lelaki bertubuh tegap ini, melaut dengan harga solar lama, yakni, Rp 2.100 per liter, belum bisa mengantongi keuntungan. Dia mencontohkan, menjelang Lebaran lalu dua kapalnya yang saat berangkat masih membawa perbekalan solar dengan harga lama, kembali hanya mengantongi hasil tiap kapal Rp 70 juta. Sering Tombok Padahal, saat itu untuk perbekalan dan pembelian BBM harus merogoh kocek Rp 60 juta. ''Sisa Rp 10 juta ternyata tidak cukup untuk dibagi 30 ABK (satu kapal). Saya harus nomboki tiap kapal Rp 5 juta supaya mereka bisa berlebaran,'' tandasnya. Bagaimana dengan nasib kapal yang kini nekat melaut ? Menurut H Jundi dan H Sumito, mereka melaut dengan serbaketidakpastian. Kerugian tetap di depan mata mereka, Mau apa lagi, pekerjaan mereka adalah nelayan. Menurut dia, dua kapal yang bongkar-muat kemarin di Pelabuhan Tegal berangkat sebelum bulan Ramadan lalu. Jadi, mereka belum merasakan pembelian solar dengan harga baru Rp 4.300 per liter. Coba kalau juragannya menghitung dengan harga solar sekarang. Berapa kerugian mereka. Saat ini, 90 persen kapal ndongkrok dan sekitar 13.500 ABK menganggur. Ini sudah sepatutnya menjadi perhatian pemerintah. Tidak ada solusi lain yang lebih tepat, kecuali pemerintah memberikan subsidi khusus kepada nelayan. Misalnya, dengan memberikan harga khusus solar nelayan. Harga khusus itu, paling tidak sama dengan harga solar lama. Prakiraan ini dihitung karena dengan harga lama pun, mereka masih merasakan berat untuk meraih untung. Jika diruntut persoalan nelayan berkaitan dengan harga solar yang tinggi, sebenarnya karena pasar penjualan ikan yang belum juga berubah. Contoh gampang, penjualan ikan layang, pada tahun 2000 satu basket (isi 25 kg) Rp 360.000. Namun anehnya, sekarang sudah lima tahun harganya hanya naik Rp 40.000 atau menjadi Rp 400.000 per basket. ''Dulu saya dapat satu basket bisa membeli dua drum solar berisi 400 liter, sekarang satu basket hanya dapat sepertiga drum, bagaimana mau mendapatkan untung,'' keluh H Tasman.(14t) |