| Rabu, 23 Nopember 2005 | NASIONAL |
Harga Solar Nelayan Rp 4.300 Per LiterSEMARANG- Ratusan kapal nelayan bertonase besar di atas 30 gross ton (GT) dapat kembali melaut, setelah menghentikan operasi akibat terpukul kenaikan harga BBM. Diperkirakan hingga akhir November harga solar industri dapat ditekan hingga Rp 4.300 per liter dari harga standar Rp 6.000 per liter. Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Tengah Slamet Budi Prayitno, penetapan harga tersebut tinggal menunggu pengesahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang saat ini di luar negeri. Harga solar khusus itu merupakan hasil kesepakatan bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro beberapa waktu lalu. ''Soal tanggal pasti, itu keputusan Pemerintah Pusat. Namun di Jawa Tengah, DKP sudah berkoordinasi dengan PT Pertamina untuk memenuhi pasokan solar yang dibutuhkan nelayan. Persoalan harga solar sampai sekarang ada dalam batas tertentu, namun kebanyakan dari mereka masih menunggu kepastian pemerintah sampai harga mencapai Rp 4.300 per liter,'' ujar Budi Prayitno, kemarin. Kebijakan harga tersebut hanya akan diberikan dalam batas kuantitas tertentu, yakni hingga 25 kiloliter. Selebihnya, nelayan besar atau pemilik harus membayar sesuai dengan harga industri. Hingga berita ini diturunkan, seluruh kepala DKP sedang menggelar pertemuan dengan Menteri Kelautan dan Perikanan di Jakarta. Tak Melaut Sejak harga BBM naik, di Jateng terdapat lebih dari 300 kapal milik nelayan besar yang tidak melaut. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 10 persen yang memutuskan untuk tetap beroperasi. Meski demikian, pihaknya belum bisa memastikan kerugian, baik oleh pemilik kapal maupun pemasukan pemerintah daerah. ''Waktu yang dibutuhkan untuk melaut kapal besar berkisar antara 10 hari dan 2 bulan. Meski demikian, kerugian untuk pendapatan asli daerah (PAD) tetap ada, hanya jumlahnya belum bisa dipastikan,'' jelas dia. (H12-60t) |