logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 23 Nopember 2005 NASIONAL
Line

CV Jazera Sambut Baik Rencana Depag

  • Teliti Buku ''Aku Melawan Teroris''

SUKOHARJO - CV Jazera, penerbit buku ''Aku Melawan Teroris'', menyambut baik rencana Departemen Agama untuk meneliti buku tulisan Imam Samudra tersebut. Namun, pihak penerbit yang berlokasi di Gonilan, Kabupaten Sukoharjo, itu meminta agar Tim yang dibentuk Menteri Agama melibatkan berbagai tokoh dan elemen Islam di Indonesia.

''Rencana itu sangat bagus. Kami tidak bisa menutupi keberadaan paham yang ada di negeri ini. Sejak awal, harapan kami selaku penerbit adalah ada respons atas buku itu,'' kata Bambang Sukirno, Direktur Jazera, di kantornya, Selasa (22/11). Sebelumnya, Tim Penanggulangan Terorisme (TPT) juga berencana serupa, mengkaji berbagai buku terorisme. Salah satunya karya terpidana bom Bali I itu.

Untuk keperluan penelitian buku tersebut, kata dia, Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Depag telah meminta contoh buku kepada Jazera.

''Depag sudah meminta buku itu dan saya kirimkan. Harapan kami, pengkajian dan penelitian itu juga melibatkan tokoh dan elemen yang lebih luas. Akan lebih baik, kalau tokoh-tokoh yang selama ini menjadi panutan oleh kelompok militan juga dilibatkan,'' harapnya.

Libatkan Baasyir

Bahkan, jika perlu, imbuh dia, Ustad Abu Bakar Baasyir juga dilibatkan dalam pengkajian dan penelitian buku tersebut, meski secara pemikiran, Amirul Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) itu, tidak sependapat dengan cara kelompok itu. Tapi, keberadaan tokoh seperti Ba'asyir diperlukan, karena ia tokoh yang menjadi panutan kelompok tersebut.

''Namun, harus diakui, selama ini Ustad Abu menjadi panutan kelompok mereka. Sehingga jika ingin melakukan pencerahan terhadap kelompok itu, mau tidak mau harus melibatkan elemen atau tokoh-tokoh yang dihormati oleh kelompok mereka tersebut,'' ujar Bambang di kantornya.

Bambang khawatir, jika pengkajian dan penelitian tidak melibatkan elemen dan tokoh lebih luas, terutama tokoh-tokoh yang dihormati kelompok-kelompok aliran keras tersebut, tujuan pengkajian itu tidak menyentuh pokok permasalahan.

''Tujuan pengkajian itu kan ingin melakukan penyadaran dan pencerahan terhadap paham keagamaan mereka. Harus diakui, mereka yang berpaham keras itu memiliki panutan dan dunia tersendiri, yang selama ini jarang kita sentuh,'' paparnya.

Bambang juga meluruskan, hingga kini pihaknya tidak mencetak lagi buku tersebut. Cetakan terakhir atau ketiga, November 2004 lalu.

''Setelah itu, kami tidak mencetak lagi. Jadi, buku-buku yang masih beredar itu merupakan sisa-sisa cetakan kami setahun lalu. Karena itu, wajar kalau di pasaran sudah sulit didapat,'' ungkapnya.

Cetakan I, kata dia, 5.000 eksemplar, disusul cetakan kedua juga 5.000 eksemplar, dan terakhir cetakan ketiga 3.000 eksemplar. ''Meski sedang diburu orang, kami juga tidak berani mencetak lagi, karena risikonya besar. Jika sewaktu-waktu dilarang kan rugi besar,'' ujarnya. (G13,gun-60h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA