| Rabu, 23 Nopember 2005 | SEMARANG |
Racikan Asli Jamu Mbah Bathok''MBAH, damelke wejah sawanan setunggal (Mbah, buatkan wejah sawanan satu)," pinta seorang perempuan usia 30-an. Demi mendapat pesanan itu, Mbah Bathok (78) segera berdiri dari bangku. Tangannya yang gemetar, segera menjumput racikan jamu di dalam wadah-wadah plastik: parutan kunir, cabe puyang, daun pepaya, dlingo bengkle, larutan gula, dan jahe. Dengan peranti saringan plastik, semua bahan itu diperas dan dimasukkan ke dalam sebuah mangkuk yang terbuat dari batok kelapa. Setelah selesai, ramuan jamu yang diyakini berkhasiat menambah air susu ibu itu diserahkan kepada sang pemesan. ''Glek glek glek'', dalam beberapa teguk perempuan itu menandaskan wejah sawanan-nya langsung dari bathok (tempurung) kelapa. Ya, dari penggunaan bathok kelapa itulah, nama Mbah Bathok berasal. Nama tersebut, bahkan telah menjadi semacam trade mark bagi kedai jamunya yang menempati salah satu sudut Pasar Jati, Kompleks Perumnas Banyumanik, Semarang. Jadi kalau Anda hendak mencari tempat jualannya, sebut saja nama Mbah Bathok kepada para pedagang atau tukang parkir di pasar itu, pasti mereka tahu. Kedai jamunya amat bersahaja. Tidak ada kursi, sehingga pembeli harus menunggu sambil berdiri. Kedai itun menyediakan beberapa jenis ramuan, dari jamu wejah sawanan, tujuh angin, sehat wanita, sehat pria, sampai kunir asem. Apakah cuma itu keistimewaan jamu Mbah Bathok? Tentu tidak. Perempuan bernama asli Khatidjah tersebut meracik langsung jamu pesanan para pembelinya, sehingga para pembeli tahu dan yakin jamu yang akan mereka minum menggunakan bahan-bahan alami, tanpa campuran zat kimia. Itulah, mengapa banyak orang selama bertahun-tahun bersetia menjadi langganan Mbah Bathok. Satu di antaranya Ny Jaswanto (53). Warga Jalan Ulin, Perumnas Banyumanik, itu mengaku telah menjadi langganan jamu Mbah Bathok sejak 1985. Demikian gemarnya, ia tak pernah melewatkan minum jamu di tempat itu setiap belanja di Pasar Jati. ''Kalau beli jamu bungkus atau gendhongan, saya belum yakin. Masih ada perasaan waswas, jangan-jangan dicampuri zat kimia. Tapi minum jamu di sini, saya bisa lihat proses pembuatannya,'' dalih perempuan yang telah dikaruniai dua anak, 13 cucu, dan 15 cicit itu. Orang Muda Pelanggan jamu Mbah Bathok ternyata tak cuma generasi Ny Jaswanto. Orang muda dan anak-anak juga menggemarinya. Hal itu terlihat dari pembeli yang datang silih berganti di kedainya. Evi (22), misalnya, selalu menyempatkan minum jamu Mbah Bathok beberapa hari sekali. Terlebih pada saat ia tengah menyusui sekarang ini. ''Kalau habis belanja, saya pesan jamu wejah sawanan. Harganya murah, cuma Rp 1.500 saja. Bahkan kalau diberi Rp 1.000, juga dilayani. Yang unik, kita bisa langsung minum dari wadah bathok kelapa,'' papar perempuan yang tinggal di Asrama Brimob Srondol itu. Menurut Mbah Bathok, penggunaan bathok kelapa sebagai wadah telah dilakukan sejak kali pertama jualan jamu sekitar tiga dasawarsa silam. Awalnya, ia cuma membantu kakak kandungnya, Sungkem, di Pasar Rejowinangun, Magelang. Setelah sang kakak memilih istirahat, Mbah Bathok melanjutkan usaha jual jamu sendiri. Pada akhir 1960-an, perempuan asal Desa Sidomulyo, Sleman, Yogyakarta, itu hijrah ke Semarang dan menjajakan jamunya di Pasar Jati. ''Setiap hari saya jualan mulai jam tujuh pagi sampai jam tiga sore,'' katanya. Mbah Bathok cukup berbangga, dua anaknya mewarisi profesi jualan jamu dengan ciri serupa; yakni Jumilah di Pasar Ungaran dan Ramilah di Yogyakarta. (Rukardi-18a) |