| Selasa, 22 Nopember 2005 | SALA |
Pemakaian Kayu Bakar Ancam Gerakan PenghijauanWONOGIRI - Mayoritas warga Kabupaten Wonogiri yang berpenghasilan kecil kini tidak mampu membeli minyak tanah. Mereka saat ini ramai-ramai ganti minyak tanah dengan ''gas tlosor'' alias kayu bakar. ''Kami mengistilahkannya 'gas tlosor' sebagai sebutan mudah untuk kayu bakar,'' ungkap Ny Kasi. Warga pedesaan dan kaum marginal yang hidup di pinggiran kota itu merasa lebih mudah mendapatkan kayu bakar secara cuma-cuma. Sebab, kayu itu dapat dicari dari rencek (ranting) kayu hutan atau dengan menebang pohon karang kitri yang tumbuh di pagar pekarangan atau di tanah tegalan masing-masing. Sebagian ibu rumah tangga di Dusun Karangtalun, Desa Pokoh Kidul, Kecamatan Kota Wonogiri yang permukimannya berdekatan dengan Waduk Gajahmungkur memilih mencari kayu bakar dari wilayah areal pasang surut atau ke green belt (sabuk hijau) yang melingkari waduk. ''Di sana banyak ranting pohon kering yang berserakan di lahan pasang surut. Kita tinggal mengambilinya,'' ujar Ny Parsiyem. Bersama rekannya, Parsiyem saban hari selalu mencari kayu bakar ke wilayah bekas genangan yang kini telah ditinggalkan airnya karena perairan Waduk Gajahmungkur surut drastis. Mereka tidak segan-segan untuk menyeberangi alur kali Keduwang yang bermuara ke Waduk Gajahmungkur yang berlumpur tebal. Sekda Drs Mulyadi MM membenarkan adanya penurunan omzet penjualan minyak tanah. ''Berdasarkan laporan dari para agen pangkalan minyak tanah di Wonogiri, omzetnya sekarang turun sekitar dua pertiga dibandingkan dengan masa sebelum kenaikan harga BBM,'' ujarnya. Penyebabnya, daya beli masyarakat melemah. Banyak warga yang sekarang merasa tidak memiliki kemampuan untuk membeli minyak tanah. Turun Dratis Semula 6-7 mobil tangki (berkapasitas 5.000 liter), kini turun tinggal dua tangki. Ini erat kaitannya dengan kenaikan harga minyak tanah yang semula Rp 700/liter menjadi Rp 2.400/liter. Mulyadi membenarkan bahwa sekarang banyak warga yang pindah ke kayu bakar. ''Sebab untuk membeli gas elpiji mereka juga tidak memiliki kemampuan,'' katanya. Omzet gas elpiji di Wonogiri juga mengalami penurunan drastis. Dari semula 175 tabung, kini tinggal 300 tabung per hari. Harga elpiji di agen per tabung 15 kg mencapai Rp 55.000. Menurut Mulyadi, peralihan pemakaian minyak tanah dan gas ke kayu bakar itu perlu dicermati dari aspek konservasi alam karena akan mengancam gerakan penghijauan nasional (gerhan) yang digalakkan di Kabupaten Wonogiri. Sebagai daerah kabupaten yang terletak di wilayah pengaliran (chatment area) Waduk Gajahmungkur, Wonogiri memiliki kewajiban untuk menyukseskan penghijauan. Agar usia ekonomis waduk tetap lestari dan terhindarkan dari ancaman pendangkalan karena sedimentasi yang diakibatkan oleh tingginya laju erosi. ''Tapi bagaimana gerakan penghijauan dapat sukses kalau kenyataannya penduduk sekarang ramai-ramai menggunakan kayu bakar?'' ujarnya. (P27-55n) |