logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 22 Nopember 2005 SALA
Line

Enam Kecamatan Masuk Daerah Waspada

  • Antisipasi Antraks

KLATEN - Enam kecamatan di wilayah Klaten yang berbatasan dengan Kabupaten Boyolali ditetapkan sebagai daerah waspada. Hal ini terkait dengan berjangkitnya penyakit antraks di kabupaten penghasil susu tersebut.

Kasubdin Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit pada Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (DKKS) Klaten dokter gigi Agus Susanto mengatakan, keenam kecamatan tersebut adalah Tulung, Jatinom, Karanganom, Karangnongko, Kemalang, dan Polan.

Masyarakat diminta untuk berhati-hati dan segera tanggap bila ada warganya yang terkena serangan penyakit antraks.

''Sebagai wilayah yang masuk daerah berbatasan, tidak ada salahnya bila kami meminta masyarakat agar selalu waspada,'' ujarnya.

DKKS juga melakukan penyuluhan kepada masyarakat terkait bahaya penyakit tersebut. Gejala seorang penderita antraks antara lain, demam tinggi, mual, muntah, dan pusing. Selain itu, muncul luka pada kulit penderita seperti boroken atau koreng. Bila ada warga yang terserang agar cepat-cepat dibawa ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat.

''Kalau ditangani secara cepat, saya yakin pasien tertolong karena sudah ada obatnya. Bahkan Puskesmas sudah mampu menangani. Puskesmas dan rumah sakit yang kedatangan pasien antraks juga wajib melaporkannya ke DKKS.''

Sikap waspada, lanjut dia, tidak boleh disepelekan. Hal ini mengingat di Klaten pernah muncul serangan penyakit tersebut. Tahun 1995 pernah ditemukan seorang penderita antraks. Beruntung penderita cepat dibawa ke rumah sakit sehingga jiwanya tertolong. Setelah ditelusuri, orang tersebut sebelumnya makan siomay yang dibeli dari luar Klaten.

''Memang, bila seorang pasien dipastikan kena serangan antraks maka akan ditelusuri riwayat makannya.''

Dijelaskan, spora antraks di alam bebas mampu bertahan hingga 25 tahun. Kalau rumput yang sudah terkontaminasi spora antraks dimakan sapi atau ternak lain maka ternak itu akan terjangkit. Selanjutnya, bila dagingnya dikonsumsi manusia maka penyakitnya akan menular ke manusia.

''Maka ternak yang mati akibat serangan antraks harus dibakar dan dikubur agar sporanya ikut mati.''

Disinggung tentang pengawasan lalu lintas ternak dan daging, Agus mengaku, DKKS sudah menjalin koordinasi dengan Subdin Peternakan di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP).

''Sudah ada koordinasi, terutama untuk melakukan pengawasan terhadap masuknya ternak dan daging dari wilayah endemis antraks. Ini perlu diwaspadai karena sebagian besar pasokan daging di Klaten berasal dari Boyolali,'' tegasnya. (G10-55v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA