| Selasa, 22 Nopember 2005 | SALA |
Puluhan Rumah Terancam Longsoran
KARANGANYAR - Puluhan keluarga di Dusun Tlogodringo, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar merasa waswas. Mereka terancam tanah longsor yang disebabkan pengeprasan bukit untuk proyek pembangunan jalan tembus Karanganyar-Magetan yang sedang berlangsung. Bahkan sejak sepekan lalu, sudah sembilan rumah di RT 2 dan RT 4 RW 7 Dusun Tlogodringo yang sebagian halamannya tergenang air bercampur tanah yang menggerojok dari perbukitan di atas perkampungan mereka yang sedang dibangun. Dari sembilan rumah tersebut, dua di antaranya yang bagian dalam rumahnya tergenang air serta material tersebut. "Akibat pengerjaan proyek di bukit yang berada di atas perkampungan kami, sudah sembilan hunian yang tergenang air bercampur tanah. Kami waswas kalau hujannya deras dan bukit yang sedang dikepras longsor menimbun kampung kami," keluh Ketua RT 4/RW 7 di Dusun Tlogodringo, Desa Gondosuli Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Sujarto, kemarin. Sebagai gambaran, perkampungan yang meliputi RT 2 dan 4 dengan warga sebanyak 54 keluarga itu diapit oleh perbukitan melingkar. Saat ini sebagian bukit sedang dalam pengerjaan yakni diratakan dengan alat berat untuk pengadaan jalan tembus sepanjang 17 kilometer tersebut. Sujarto memaparkan, longsoran kecil dari daerah atas bukit tersebut terjadi setiap kali hujan turun. Dalam sepekan ini, lanjutnya, sudah dua kali terjadi longsor dari daerah atas. Air yang mengalir dari bukit membawa tanah mengalir turun dan menggenangi permukiman warga ataupun jalan utama di kampung tersebut. Di dua rumah, genangan itu masuk hingga ke bagian dapur selama beberapa hari. Air Lumpur Yang membuat warga kian khawatir, beberapa waktu terakhir, intensitas hujan lebih sering. Di tebing yang sedang dalam pengerjaan tersebut, traktor ataupun sejumlah alat berat dikerahkan untuk mengeprasnya. Namun di bagian tepi tebing, pelaksana proyek hanya membangun pengaman dari bambu yang kekuatannya tak seberapa. Jika terjadi longsor, ungkap Sujarto, sesek tersebut tidak akan mampu menahannya. Dengan kondisi itu, puluhan rumah yang berada di wilayah tersebut sangat rawan longsor. Dengan kejadian sejumlah rumah yang tergenang air serta lumpur, warga sudah mengajukan protes pada pelaksana proyek setempat. Namun warga menilai tidak ada respons dari pelaksananya. "Kami sudah sampaikan hal itu pada pelaksana tetapi kok kesannya mereka tidak memperhatikan. Kami juga sudah sampaikan pada Lurah Gondosuli, Suyono, supaya mengambil tindakan karena warga sudah putus asa laporannya tidak digubris," paparnya. Mendengar laporan itu, Suyono kemarin mendatangi lokasi tersebut. Melihat kondisi yang ada, dia meminta agar pelaksana proyek tidak hanya membangun pagar pengaman dari bambu tetapi juga berbahan permanen dan lebih kuat sehingga warga tidak waswas terjadi longsor. Sujarto menambahkan, seharusnya pelaksana proyek membangun dinding pengaman terlebih dulu sebelum mengepras bukit. (G18-55v) |