logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 22 Nopember 2005 SALA
Line

Bahasa Iklan Bukan Baku

PABELAN - Bahasa iklan, termasuk untuk perbankan, menurut Prof Dr H Abdul Ngalim MM MHum, diakui mempunyai wacana dan bahasa khas yang populer. Ungkapan, variasi, dan pilihan kata-katanya tidak normatif seperti halnya bahasa Indonesia baku.

Sebab, menurut dosen sosiolinguistik Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu, para pembuat iklan sudah memperhitungkan bahwa sasarannya ditujukan bagi khalayak dari berbagai kalangan masyarakat.

"Tujuan iklan kan untuk memberi informasi dan membujuk atau memengaruhi orang. Ini terkait penjualan. Bagi pembuatnya, yang penting iklannya mudah dibaca dan dimengerti. Maka iklan punya bahasa khas dan tidak normatif layaknya bahasa Indonesia baku," kata dia yang dikukuhkan menjadi guru besar UMS, kemarin.

Dosen Kopertis Wilayah VI itu mengemukakan, wacana khas dalam iklan belum tentu berupa sebuah cerita utuh. Bisa saja cerita bernada ajakan bagi masyarakat untuk membeli atau mengikuti suatu produk yang diiklankan itu, terwakili dalam satu paragraf, atau bahkan satu kalimat.

Apakah tidak khawatir bahasa-bahasa iklan itu akan merusak bahasa baku, menurutnya, kekhawatiran itu ada. Namun tidak bisa dimungkiri bahwa perkembangan bahasa, termasuk digunakannya istilah-istilah asing, dalam penggunaan bahasa nonformal di masyarakat, tidak dapat serta-merta ditolak.

Lalu bagaimana orang-orang ahli linguistik menyikapi masalah itu?

"Orang-orang linguistik tidak hanya menghadapi bahasa baku, tapi kami juga melihat siapa yang diajak bicara dan di mana," tuturnya.(D11-36v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA