logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 22 Nopember 2005 SALA
Line

Mengembalikan Solo sebagai Center Art of Java

Oleh: Bramastia

"APALAH artinya sebuah nama." Demikian kata Shakesphere, seorang pujangga barat yang termasyhur. Tulisan ini dimaksudkan sebagai tanggapan atas tulisan Subakti A Sidik (Eguh Pratikel,15/11) yang berjudul "Subosukawonosraten Bukan Semar Mendem".

Semestinya kita cukup berbangga dengan nama Solo. Sebab, nama Solo pascareformasi ternyata semakin berkibar, hingga mampu melakukan "ekspansi" ke berbagai wilayah sekitarnya. Wilayah yang tak lain adalah eks Karesidenan Surakarta yang meliputi Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten - istilahnya 'kerennya' Subosukawonosraten.

Namun akhir-akhir ini istilah Subosukawonosraten justru menjadi bahan ledekan di mana-mana. Bahkan Dr Lothar Mahnke meledek, "Apa tidak ada sebutan lain yang lebih jelek dibandingkan dengan Subosukawonosraten?". Sebab, setiap kali konsultan pengembangan ekonomi itu mencoba melafalkan sebutan tersebut selalu saja tidak pernah benar. (Solo Kemringet, Eguh Pratikel Joko Dwi Hastanto,4/10)

Ternyata bukan hanya orang asli Solo yang senang mempersoalkan nama brand Solo, orang luar Solo pun banyak yang meributkan. Hal ini seperti yang disampaikan Gusti Dipokusumo - ketua Panitia Lomba Slogan Solo - bahwa peserta Slogan Solo ada yang berasal dari luar daerah.

Ada Apa Dengan Solo?

Seyogianya, wong Solo harus mencermati dengan seksama mengapa orang senang mempermasalahkan nama Solo. Bukannya suudzon dengan munculnya tarik ulur persoalan atas brand image Solo. Akan tetapi, setidaknya perlu mewaspadai tarik ulur kepentingan pasca-terbentuknya brand image Solo. Sebab, apabila brand tersebut jadi, maka akan menjadi "jarum penunjuk" atas arah pembangunan Solo.

Dengan demikian pertanyaan selanjutnya, ada apa dengan Solo? Ketika nama Solo "diekspor" ke Jerman, dengan segera para pejabat daerah bekerja sama dengan lembaga konsultan pembangunan ekonomi negara tersebut. Sementara itu, menyebut nama "Subosukawonosraten" dengan benar saja mereka selalu keliru.

Alih-alih, mereka menganggap bahwa untuk memajukan daerah di eks Karesidenan Surakarta, maka harus menggabungkan nama daerah dalam satu wadah guna memudahkan cara "menjual" secara serentak. Artinya, pembentukan atas brand Solo digunakan sebagai langkah awal "menjual" Solo kepada pemodal. Pikiran yang ada dibenak saya pernah terlontar kepada seorang tukang becak, "Pak, apa sih ciri khas Solo?" Tukang becak tersebut langsung menjawab, "Orangnya halus, budayanya luhur".

Dengan demikian ada kesimpulan bahwa wong Solo punya keinginan nguri-uri kabudayan Jawi. Ternyata, banyak orang yang melihat dan ingin Solo menjadi Center Art of Java alias menjadi pusatnya budaya Jawa.

Semestinya dalam membuat sebuah brand image perlu didasarkan makna filosofisnya dulu. Apa yang sebenarnya menjadi sifat asli dan mendasar bagi orang Solo. Kasus pembakaran Balai Kota Surakarta dan huru-hara Mei '98 merupakan akumulasi kekecewaan terhadap kondisi yang tidak disenangi orang Solo. Karena itu, setidaknya sifat dasar yang membentuk budaya wong Solo perlu untuk ditumbuhkembangkan.

Sependapat dengan Sidik, bahwa membentuk brand image memang bukan pekerjaan mudah. Semua membutuh waktu dan biaya yang tidak sedikit. Namun jangan karena persoalan tersebut lalu mengorbankan arti yang sesungguhnya terkandung, baik potensi alam maupun manusianya.

Maka ketika saran supaya "Subosukawonosraten" diganti dengan "Solo Center Art of Java" menjadi sebuah penjabaran makna Solo sesungguhnya sebagai pusat budaya Jawa. Dengan demikian perdebatan yang mengemuka tidak hanya sebatas pada aspek kata yang singkat dan mudah dihafal. Namun yang terpenting, supaya nama Solo mampu memancarkan kebudayaan Solo ke seluruh Indonesia hingga mancanegara. Bukan nama Solo yang termoderasi oleh arus globalisasi hingga melenyapkan makna luhur budaya penduduknya.

Solo Waspada

Tanpa kita sadari, ada kalanya kita terjebak dengan berbagai opini dan wacana yang secara tidak langsung menjerumuskan. Peran pihak luar Solo yang merasa berkepentingan di Solo mempunyai strategi jitu dalam mengegolkan ambisinya. Demi "kesejahteraan dan pembangunan" Solo, berbagai survei dilakukan sebagai syarat mutlak mengetahui celah masuk ke Solo.

Sementara itu, masyarakat Solo terbuai dengan bujuk rayu pengusaha dan investor asing yang akan menanamkan modalnya demi kemajuan Solo. Akhirnya, berbagai potensi dibuka tanpa adanya filter yang jelas, mulai dari perusahaan, infrastruktur pelayanan, inovasi teknologi, pemasaran, dan bahan baku yang ada di Solo.

Kemudian kita bangga saat potensi yang perlu dikembangkan dipublikasikan tidak hanya di dalam, tetapi juga luar negeri. Padahal, sebenarnya mereka memublikasikan kelemahan dan kekurangan atas Solo secara detail. Dengan demikian setelah para investor mempelajari dengan seksama, mereka bersedia datang dengan membuka (dan menciptakan) "pasar" bagi wong Solo. Maka seiring dengan berlangsungnya zaman, Solo perlahan-lahan berubah mengikuti brand image yang diciptakan oleh para investor yang "gerah" menyebut "Subosukawonosraten".

Saatnya kita mewaspadai para invisible hand yang nantinya dapat menyebabkan social disorder di Solo. Sebaliknya, mulai menyadari bahwa wajah Solo sekarang telah kehilangan inner beauty-nya. Ruh dari Solo seakan pergi melanglang buana untuk mencari jati dirinya. Yang tertinggal kemudian hanya gemerlap kehidupan yang jauh dari nilai-nilai budaya asli Solo. Budaya Solo sedikit demi sedikit terkikis karena tidak dipayungi arah dan tujuan jelas dari pembangunan Solo. Menjadi fenomena yang wajar bila kelak lidah wong Solo sudah tidak terbiasa dengan basa krama inggil sehingga sulit untuk mengucapkannya.

Lebih menyedihkan lagi bila budaya Solo kemudian dicampakkan dari ingatan wong Solo, terlebih oleh para investor. Sebab yang ada di benak investor hanya bagaimana "menjual" Solo yang nanti menyebabkan "Solo (benar-benar) kemringet". Kini, sudah saatnya wong Solo mengembalikan Solo sebagai Center Art of Java. (36v)

- Penulis Redaktur Pelaksana "InfoLAB" dan Alumni Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA