logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 22 Nopember 2005 OLAHRAGA
Line

Suporter Ditetapkan sebagai Unsur Klub

JAKARTA- Badan Liga Indonesia membuat garis tegas dengan menetapkan kelompok suporter sebagai bagian tak terpisahkan dari klub. Oleh karena itu, segala ulah atau tindakan yang dilakukan oleh kelompok suporter tersebut berimplikasi kepada sanksi atau hukuman yang akan diterapkan kepada klub.

Direktur Eksekutif Badan Liga Indonesia (BLI) Andi Darussalam Tabusala menjelaskan hal itu, Senin (21/11) sore seusai pertemuan dengan klub-klub peserta kompetisi Divisi Utama dan Divisi I Liga Indonesia 2006 di Hotel Meridien, Jakarta. Dalam pergelaran Liga Indonesia 2005, masalah fans atau suporter ini tidak secara tegas disebutkan sebagai bagian dari klub.

Pertemuan antara BLI dengan perwakilan klub-klub Divisi Utama dan Divisi I ini merupakan pertemuan pertama dalam konteks penyelenggaraan Liga Indonesia 2006. Menurut Andi, klub-klub pada prinsipnya menyetujui rancangan sistem dan proyeksi kompetisi Liga Indonesia 2006 yang telah dibuat BLI dan dijabarkan dalam Manual Liga Indonesia (MLI), yang merupakan standardisasi dari himpunan regulasi kompetisi mendatang.

Keterkaitan fans atau kelompok suporter dengan klub sendiri diterakan dalam Peraturan Khusus Pertandingan Divisi Utama.

"Keterangan mengenai kelompok suporter ini harus dicantumkan oleh setiap klub saat pengajuan pendaftaran resmi ke BLI," ujarnya.

Kompetisi Divisi Utama sendiri menurut rencana akan dimulai pada 14 Januari 2006, sementara kompetisi Divisi I baru dimulai satu bulan sesudahnya. Pergelaran kompetisi Divisi Utama diharapkan sudah berakhir pertengahan Juli, sedang Divisi I diproyeksikan Mei sudah tuntas.

Tetap 28 Klub

BLI sendiri masih menetapkan peserta kompetisi Divisi Utama 28 klub, sementara Divisi I diikuti 36 klub. Menjawab tentang masih diterakannya jumlah peserta kompetisi Divisi Utama ini 28 klub, Andi Darussalam menyatakan, kewenangan mengenai peserta kompetisi ada pada PSSI.

"Sampai sekarang kita belum memperoleh penjelasan resmi mengenai status Persebaya," katanya, tentang salah satu peserta Divisi Utama yang terkena sanksi 16 bulan tak boleh berkompetisi karena mundur dari babak delapan besar Liga Indonesia 2005.

Ditanya lebih jauh tentang kepastian BLI menetapkan jumlah peserta kompetisi Divisi Utama tersebut, menurutnya, berpulang kembali pada PSSI. "BLI tak bisa memberi deadline, itu sudah wewenang PSSI."

Tentang format kompetisi, menurut dia, Divisi Utama masih tetap dibagi dalam dua wilayah dengan pemisahan grup bagi tim-tim yang menggunakan homebase sama. Mengenai pemisahan grup ini, katanya, akan dibicarakan lebih lanjut dalam pertemuan antarmanajer tim yang akan dilakukan 14 Desember mendatang di Jakarta.

Tahun silam, kubu Persita Tangerang mengajukan protes keras dan bahkan mengancam mengundurkan diri dari kompetisi jika mereka tetap ditempatkan di Wilayah II atau Timur.

PSSI akhirnya mengambil jalan kompromistis dengan "mengorbankan" Pelita Krakatau Steel ke Wilayah II, sehingga Persita dan Persikota tetap berada di Wilayah I atau Barat.

Pembagian grup dalam format dua wilayah pada kompetisi Divisi Utama 2006 ini tampaknya akan banyak menemui kendala, karena lebih banyaknya klub-klub yang menggunakan homebase sama. Kesulitan lain yang akan dialami BLI adalah dalam penyusunan jadwal kompetisi.

Sebagai contoh, tiga klub besar di Jakarta yakni Persija Pusat, Persitara Jakarta Utara, dan Pelita Jaya yang berkompetisi di Divisi I, kemungkinan besar akan sama-sama menggunakan Stadion Lebak Bulus sebagai kandangnya.(wgm-40)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA