| Selasa, 22 Nopember 2005 | MURIA |
Situs Slumprit, Sisa Manusia Purba Ke-7 di IndonesiaMESKI terkesan lambat, Pemkab Kudus akhirnya berani memutuskan penetapan kawasan Gunung Slumprit di pegunungan Patiayam, sebagai kawasan situs purba. Penetapan itu dilakukan setelah terdapat penemuan sejumlah fosil di area seluas lima hektare yang terletak di Dukuh Kancilan Karangsuda, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, sejak dua tahun terakhir ini. Selain itu, juga diperkuat dengan kajian yang dilakukan tiga ahli dari Balai Arkeologi Yogyakarta, yakni DR Harry Widianto, Drs Muhammad Hidayat, dan Drs Baskoro Daru Tjahyono, pada 16 - 17 Oktober lalu. Hasil kajian ilmiah itu mampu meyakinkan petinggi kota Kretek segera melakukan langkah-langkah dalam kerangka menyambut munculnya ikon baru. Salah satu tim ahli arkheologi, Dr Harry Widianto menyatakan, Gunung Slumprit tersebut telah lama dikenal sebagai situs Hominid (manusia purba) di Indonesia. Jadi, keberadaan fosil di tempat itu dapat disejajarkan dengan apa yang ditemukan di Sangiran, Trinil, Kedungbrubus (keduanya di jajaran pegunungan Kendeng), Perning (Mojokerto), dan Ngandong serta Ngawi (Alluvial Bengawan Solo). Situs Patiayam - yang merupakan induk dari perbukitan Slumprit, kata dia, merupakan bagian dari endapan purba hasil letusan Gunung Muria. "Situs Gunung Slumprit merupakan sisa Hominid yang ke-tujuh di seluruh Indonesia," ungkapnya. Adapun temuan situs yang ditemukan di gunung Slumprit, yakni sisa manusia purba (homo erectus), berupa satu gigi prageraham bawah dan tujuh buah pecahan tengkorak manusia. Penemunya, kata dia, adalah Dr Yahdi Yamin dari Geologi ITB Bandung pada tahun 1979. Selain itu, juga ditemukan pula tulang belulang purba, yakni Stegodon Trigonochepalus (gajah purba), Elephas Sp (juga sejenis gajah purba), Ceruss Zwaani dan Cervus Lydekkeri Martin (sejenis rusa), dan Rhinoceros Sondaicus (badak). Juga ditemukan Brachygnatus Dubois (babi), Felis Sp (macan), Bos Bubalus Palaeokarabau (sejenis kerbau), dan Bos Banteng Palaeosondaicus, serta Crocodilus sp (buaya). Soal asal muasal temuan-temuan tersebut, lanjutnya, berasal dari lapisan batu pasir tufvan (tuffaccous sandstones) yang kemungkinan merupakan jenis litologi dari formasi Slumprit yang terbentuk pada Kala Plestosen Bawah. Oleh karena itu, tandasnya, fosil-fosil tersebut menunjukkan usia antara 1 juta tahun - 700.000 tahun. Fosil manusia dan binatang yang hidup di kaki Gunung Muria, dimungkinkan berada pada lingkungan purba yang sangat intensif terkena aktivitas volkanik gunung. Menurutnya, kini yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana bentuk budaya dari manusia purba Homoerectus yang telah ditemukan di Patiayam tersebut. "Persoalannya, hingga kini belum ditemukan fosil budayanya di Patiayam," tambahnya. (Anton Wahyu Hartono-61) |