| Selasa, 22 Nopember 2005 | MURIA |
Nelayan Masih Keberatan Harga Subsidi BBMREMBANG - Subsidi harga bahan bakar minyak (BBM) yang diberikan Pemerintah Pusat kepada nelayan tidak akan berpengaruh banyak. Pasalnya, sejumlah nelayan kecil di Rembang mengaku harga BBM masih belum terjangkau. Mereka juga belum mampu membeli solar dengan patokan harga subsidi tersebut. Seperti diberitakan baru-baru ini, Pemerintah Pusat telah memberi subsidi kepada nelayan di bawah 30 gross ton (GT). Sementara itu untuk kapal-kapal di atas 30 GT, pemerintah memberikan subsidi 25 kiloliter per bulan. Selain itu, nelayan juga bisa membeli solar dengan harga Rp 4.300/liter. Sebelumnya, harga solar untuk nelayan diberlakukan sama dengan industri, Rp 6.170 per liter. Maryono, salah seorang nelayan di Desa Purworejo, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang mengemukakan, meski harga solar untuk nelayan sudah turun dari Rp 5.800-an menjadi Rp 4.300 per liter, para nelayan masih tetap keberatan. "Permasalahannya tetap sama. Kebutuhan untuk membeli solar dengan hasil tangkapan tidak berimbang. Apalagi, bagi para nelayan kecil yang hanya berlayar di sepanjang pantai Laut Jawa. Pulang membawa ikan saja sudah bersyukur kok," ujarnya, kemarin. Selain tidak mampu membeli solar, para nelayan juga tidak mampu membeli perbekalan untuk melaut. "Sekarang untuk perbekalan saja kenaikannya sudah hampir 40%. Jika dahulu bisa saja sekali melaut membawa bekal Rp 20.000-Rp 50.000 tetapi sekarang Rp 60.000-Rp 100.000. Sementara itu, hasilnya tidak sebanding," ungkapnya. Pikir-pikir Sementara itu, Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) H Kasnadi SSos mengungkapkan, kondisi yang sama juga menimpa pada pemilik kapal-kapal besar. Subsidi yang diberikan Pemerintah Pusat belum bisa menggerakkan pemilik kapal besar untuk melaut. "Banyak kapal yang bersandar saja di pelabuhan. Para pemilik banyak yang masih pikir-pikir untuk melepaskan kapal memreka," paparnya. Untuk sekali melaut saja, lanjut dia, setidaknya pemilik kapal besar harus menyediakan uang Rp 100 juta lebih. Sebelum kenaikan harga BBM, kata dia, pemilik ikan hanya membutuhkan dana tak kurang dari Rp 60 juta untuk sekali melaut. "Uang Rp 100 juta itu untuk sekali melaut baik untuk membeli perbekalan bagi kru maupun membeli solar. Sementara itu, hasilnya masih belum jelas. Tentu saja banyak pemilik kapal yang pikir-pikir untuk melepaskan kapalnya melaut," tandas Kasnadi. (moe-61j) |