logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 22 Nopember 2005 SEMARANG
Line

Perlu Digagas, Perda Penggunaan Bahasa Jawa

SEMARANG-Bahasa Jawa diyakini tidak akan mati, sepanjang para penuturnya masih aktif menggunakannya. Terlebih, jika bahasa tersebut mampu bergerak dinamis karena digunakan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Pengadiluhungan bahasa Jawa hanya sebagai bahasa pengantar karya sastra atau pewayangan, dinilai tidak akan membuat bahasa itu bertahan lama.

Budayawan Jawa, RMA Sudi Yatmana mengemukakan hal itu, Senin (21/11), terkait rencana penyelenggaraan Kongres Bahasa Jawa (KBJ) IV di Semarang. Menurut dia, Pemprov Jateng perlu mengambil kebijakan konkret untuk melestarikan bahasa Jawa.

''Ke depan, perlu digagas sebuah peraturan daerah (Perda) yang mengatur penggunaan bahasa Jawa. Di Jawa Barat misalnya, telah ada perda yang mengatur bahasa Sunda,'' kata dia.

Sebelumnya diberitakan, Kota Semarang ditunjuk menjadi tuan rumah KBJ IV, yang akan digelar Juli tahun depan. Kongres yang digelar setiap lima tahun itu berskala Internasional karena bakal menghadirkan pemakalah dan peserta aktif dari berbagai negara. Saat ini, telah terbentuk panitia pengarah yang diketuai Wagub Jateng, Drs Ali Mufiz MPA.

Sudi Yatmana menjelaskan, dengan penetapan sebuah perda tentang bahasa Jawa, dimungkinkan bahasa daerah itu menjadi pendamping bahasa Indonesia dalam aktivitas formal. Dicontohkannya, Pemprov Jabar telah menetapkan perda yang menyatakan, bahasa Sunda merupakan bahasa resmi kedua di provinsi itu.

''Dengan begitu, saat memberikan sambutan resmi atau memimpin sidang, Gubernur dan DPRD menggunakan bahasa Sunda. Mungkin tidak, hal baik semacam itu diadopsi Pemprov Jateng? Saya kira hal semacam itu patut memperoleh kajian serius,'' papar dia.

Banyak Penutur

Sudi Yatmana optimistis, bahasa Jawa tidak akan punah dalam waktu dekat, mengingat penuturnya sangat banyak. Diperkirakan, bahasa daerah tersebut memiliki lebih dari 140 juta penutur, yang tersebar di seluruh dunia.

Penutur terbanyak berada di Jateng, DI Yogyakarta, dan Jatim. Selain itu, sejumlah provinsi di Jawa dan Sumatera juga memiliki penutur bahasa Jawa dalam jumlah signifikan. Bahkan, sejumlah keturunan Jawa di berbagai belahan dunia juga menjadi penutur aktif bahasa tersebut.

''Sayang sekali, kalau Pemprov Jateng tidak memberikan perhatian lebih pada bahasa Jawa. Sementara, lebih dari 13 negara terdapat pusat studi bahasa Jawa,'' kata dia.

Pada KBJ IV nanti, akan dibahas sejumlah topik yang berkenaan dengan perkembangan bahasa dan sastra Jawa. Topik-topik yang akan disajikan antara lain, peranan paguyuban Jawa dalam pembinaan bahasa dan sastra Jawa, pembelajaran bahasa dan sastra Jawa pada era global, bahan ajar bahasa Jawa untuk orang asing, serta pembinaan dan pengajaran bahasa dan sastra Jawa dengan perspektif kebhinnekatunggalikaan. (H9-56)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA