| Selasa, 22 Nopember 2005 | SEMARANG |
Histeria Hantu CekikTokoh Diminta Pulihkan SuasanaSEMARANG - Kepala Departemen Agama (Depag) Kota Semarang, Drs Abdullah Satori menyatakan, beredarnya isu hantu cekik yang meneror beberapa wilayah belakangan ini hanyalah halusinasi. Perasaan tersebut muncul, akibat pikiran kosong dan kurangnya keimanan seseorang kepada Allah SWT. "Hantu cekik seperti itu tidak pernah ada. Itu kan hanya halusinasi, karena rasa takut dan pikiran yang kosong. Tidak mungkin, hantu menakuti manusia yang derajatnya lebih tinggi,'' ungkapnya. Perasaan takut tersebut berubah menjadi sebuah kejadian yang dianggap besar, karena perasaan itu dialami banyak orang. Menurut Satori, hal itu disebabkan oleh menipisnya kadar keimanan seseorang akibat kurang dekatnya kepada Sang Pencipta. Karena itu, dia mengharapkan warga masyarakat tak perlu takut kepada hantu cekik, karena memang tak pernah ada. "Saya berharap, para tokoh masyarakat maupun pemuka agama berusaha mendinginkan suasana ketakutan itu. Jangan menambah rasa takut mereka; agar aktivitasnya kembali normal," tandasnya. Salah seorang tokoh masyarakat yang cukup disegani di Kecamatan Genuk, Ustad Muhammad Ajib menyatakan, histeria masyarakat berkait dengan hantu cekik menunjukkan lemahnya pemahaman aqidah masyarakat. Pria yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo, Jawa Timur, itu mengemukakan, sebenarnya histeria itu tak perlu terjadi bila pemahaman masyarakat terhadap aqidah kuat. ''Seorang muslim yang baik, selalu berpedoman bahwa tak ada daya upaya yang mampu melebihi kekuatan Allah SWT. La haula walaquwata illa billah. Kalau masyarakat kita yang katanya agamis dan selalu berangkat pengajian saja ketakutan kepada hantu cekik, lantas selama pengajian itu dapat apa. Sepertinya iman bertahun-tahun dipupuk, kok tiba-tiba hilang begitu saja, hanya dengan isu hantu cekik,'' katanya, Senin (21/11). Muhammad Ajib merupakan Ketua Yayasan Darul Hasanah, yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan di wilayah Genuk. Bahkan, dia juga sempat ditunjuk sebagai penasihat DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Demak, dan kini menjadi direktur Baitul Mal Mitra Hasanah, Genuk. Menyimpang Sunatullah Tokoh-tokoh masyarakat, kata dia, harus mengembalikan pemahaman masyarakat kepada aqidah yang benar. Isu hantu cekik, juga dia nilai telah melanggar sunatullah (hukum ketatapan Allah) dan tak selaras dengan etos ilmu pengetahuan. ''Justru sekarang ini masyarakat tercekik dengan ketakutannya sendiri. Halusinasi, membuat seseorang merasa didatangi bayangan, lalu mencekiknya. Iman kepada yang gaib itu memang ya, tetapi kalau mengingkari hantu cekik, tidak membuat kita kufur. Jin atau iblis, sedetik pun tidak akan bisa mengubah sunatullah,'' papar pria kelahiran Demak 1955 itu. Bila memang hantu cekik semacam sihir atau gangguan jin setan, kata dia, toh Rasul Muhammad SAW telah memberikan contoh penangkalnya. Misalnya, membaca Surat An Nas, Surat Al Falaq, Ayat Kursi, dan ta'awud. Bacaan itu harus benar-benar diimani, karena setan tidak akan mampu mengganggu manusia yang berlindung kepada Allah. ''Tinggal kita percaya atau tidak. Kalau masih takut kepada hantu, ya salah sendiri,'' katanya. Alquran, kata dia, adalah mukjizat. Tidak hanya keindahan bahasanya, namun ada kekuatan mistis yang terkandung di dalamnya. Tidak ada yang bisa mengalahkan Alquran, karena Alquran itu mukjizat Allah yang wujudnya sampai sekarang masih bisa disaksikan. ''Adapun sihir itu menipu. Jin dan iblis hanya memprovokasi manusia agar ketakutan. Pada akhirnya, aqidah umat berkait dengan iman kepada Allah menjadi buyar,'' katanya. Sementara itu Kapolres Semarang Timur, AKBP Juhartana MSi, melalui Kapolsek Genuk, Iptu Firman Andreanto, mengemukakan, pihaknya masih terus melakukan patroli di sejumlah kelurahan yang diserang isu hantu cekik, di antaranya di Kelurahan Karangroto dan Banjardowo. ''Jangan sampai terjadi aksi massa, sehingga mengakibatkan munculnya korban jiwa. Sampai saat ini, kami juga belum menerima laporan ada barang-barang warga yang hilang menyusul isu hantu cekik itu,'' katanya. (G5,sjs-37a) |