logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 22 Nopember 2005 SEMARANG
Line

Isu Hantu Cekik Cermin Depresi Massa

MARAKNYA keresahan masyarakat terhadap isu hantu cekik, dipandang budayawan Darmanto Jatman sebagai bentuk depresi yang terjadi di masyarakat.

Menurutnya, kondisi tersebut sebagai fenomena cerminan depresi massa di tengah berbagai macam persoalan sosial ekonomi yang melilit mereka. ''Masyarakat saat ini sedang mengalami keputusasaan. Harapan mereka akan membaiknya kondisi sosial ekonomi, ternyata berbalik arah dengan apa yang mereka impikan,'' kata dia.

Bagi pengarang kumpulan puisi "Sori Gusti" itu, salah satu pemicu keputusasaan itu adalah naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa waktu lalu. Depresi tersebut menyebabkan banyak orang mengalami histeria yang berlebihan, sehingga muncul halusinasi, kecemasan, dan ketakutan. Dalam bahasa rasionalisasi, terjadi ilusi dan delusi yang menyebabkan logika berbalik dan tidak normal.

Apalagi, pers dipandang terlalu membesar-besarkan masalah yang belum jelas kebenarannya itu. Meski demikian, dia tak menampik adanya kabar yang beredar mengenai unsur politik di belakang peristiwa yang menggegerkan sebagian masyarakat tersebut.

''Bisa jadi, ada unsur politik di wilayah kali pertama peristiwa itu beredar. Misalnya, dikaitkan dengan pemilihan kepala daerah (pilkada) atau kasus-kasus tertentu,'' imbuhnya.

Mudah Dimanfaatkan

Dalam masyarakat modern, isu mengenai kepercayaan dan kebudayaan lebih mudah dimanfaatkan untuk memengaruhi pola pikir masyarakat.

Dari kondisi itu, bukan tidak mungkin ada sekelompok orang yang lantas memanfaatkan situasi.

Dalam masyarakat Jawa, isu hantu-hantuan itu bukanlah kali pertama.

Dulu, masyarakat juga pernah digemparkan oleh berita penculikan yang dilakukan Nyi Roro Kidul, jika tak memasang air berwarna-warni yang digantungkan pada plastik di depan rumah.

Dirinya menyangsikan kebenaran isu hantu-hantuan itu, dan menyarankan masyarakat untuk kembali kepada nalar dalam menyikapi setiap persoalan.

Lebih jauh dia mengusulkan keterlibatan orang yang dianggap local genius untuk meredam keresahan masyarakat tersebut.

Sebagai masyarakat Jawa yang patrialistik, peranan tokoh agama atau masyarakat setempat dirasa penting.

''Sebab, dalam masyarakat Jawa semua itu bergantung kepada pemimpinnya. Jika sang pemimpin bilang tidak, rakyat akan menuruti,'' tukasnya.(Fahmi Z Mardizansyah-37a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA