logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 22 Nopember 2005 KEDU & DIY
Line

75 Keluarga Merantau ke Kalimantan

  • Akibat Usaha Tembakau Gagal

TEMANGGUNG - Sekitar 500 jiwa lebih yang tergabung dalam 75 keluarga di Desa Gelapansari, Kecamatan Parakan, Temanggung merantau secara massal ke perkebunan kelapa sawit di berbagai daerah di Kalimantan Tengah.

Mereka merantau karena impitan ekonomi akibat usaha tanam tembakau gagal dan hasilnya tak lagi menjanjikan. Lebih-lebih dengan adanya kenaikan harga BBM, padahal usaha pertanian di daerahnya dinilai sudah tidak menjanjikan lagi.

Kepala Desa Gelapansari Sudjarwo, ketika dihubungi kemarin mengatakan, sebagaian besar dari warganya berangkat merantau seusai Lebaran. Mereka ada yang meminta surat izin/pengantar dari desa, tetapi sebagian besar langsung berangkat mengikuti tetangga-tetangga lainnya tanpa minta surat pengantar.

''Setidaknya ada lima perusahaan kelapa sawit di Kalteng yang dituju oleh warga sini,'' kata Sujarwo yang beberapa waktu lalu meninjau warganya di salah satu perkebunan kelapa sawit di daerah Pangkalan Bun.

Menurutnya, mereka tertarik merantau setelah mendengar kabar bahwa kehidupan di perkebunan kelapa sawit lebih baik daripada kehidupan di desanya. Terbukti, beberapa warga Desa Gelapansari yang telah lebih dahulu merantau di sana bisa mengirimi uang dan membangun rumah untuk saudaranya yang ada di desa asalnya tersebut.

Kesulitan Ekonomi

Kini para petani di Temanggung pada umumnya memang sedang kesulitan dalam ekonomi ataupun untuk mengembangkan pertaniannya. Para petani, ujar Sudjarwo, banyak terimpit utang bank yang dipergunakan untuk modal tanaman tembakaunya. Sementara itu untuk memulai usaha pertaniannya lagi, para petani tidak memiliki modal karena hasil yang diharapkan dari tanaman tembakau tahun ini ternyata gagal.

''Mereka menjual barang-barang elektroniknya untuk bekal merantau dengan harapan di perantauan nasibnya dapat berubah lebih baik,'' tuturnya.

Di samping tidak memiliki modal, saat ini para petani juga belum bisa mulai menanam sayuran ataupun tanaman lain karena di sebagian besar wilayah Temanggung kini belum diguyur hujan. Demikian pula komoditas pertanian itu harganya dinilai terlalu murah sehingga tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka.

Sementara itu, akibat perantauan besar-besaran tersebut, suasana desa setempat menjadi lengang, terutama pada sore hari yang biasanya ramai oleh kegiatan olahraga para pemuda. Diperkirakan banyak pula lahan pertanian yang akan telantar karena tidak ada lagi tenaga kerja yang menggarapnya.

Adapun informasi yang diperoleh Suara Merdeka menyatakan desa-desa lain di Temanggung juga banyak yang ditinggal merantau oleh warganya. Di antaranya Desa Mojosari, Desa Tlogowiro (Kecamatan Bansari), Desa Tuksari (Kecamatan Kledung), dan desa-desa lain yang ekonomi warganya bertumpu pada tanaman tembakau. (hsf-39n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA