logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 22 Nopember 2005 KEDU & DIY
Line

45 Pelajar Digaruk

''Mau Membolos Lagi Apa Tidak?''

LAGU-''Amrin Membolos'' yang terkenal puluhan tahun lalu, sepertinya tidak lekang dimakan zaman. Buktinya, sampai sekarang masih banyak pelajar yang suka membolos. Senin kemarin (21/11) razia bersama yang dilakukan Dinas Pendidikan, Polresta, Satpol PP dan Kesbanglinmas Kota Magelang ''menggaruk'' 45 pelajar yang berkeliaran saat jam sekolah.

Saat terkena razia mereka sedang kongkow-kongkow di toko swalayan, terminal, pasar burung, tempat persewaan play station (PS) dan sebagainya. ''Saya dan teman-teman sengaja membolos, karena tidak suka dengan guru yang mengajar berikut mata pelajarannya. Ternyata saat nongkrong di pinggir jalan kena razia,'' kata seorang siswa saat dikumpulkan di Kantor Dinas Pendidikan.

Dari 45 pelajar yang terkena razia, 12 di antaranya pelajar putri. Mereka kebanyakan pelajar SMK, di antaranya mengaku pelajar SMK Satria, SMK Yudha Karya, SMK Adipura, SMK 45, SMK Kristen 2, SMK 17 dan SMK Putra Nusantara. Sedang pelajar SMA yang terkena razia hanya SMA Muhammadiyah 2.

''Kami tidak membolos, memang dipulangkan pagi. Saat sedang menunggu engkel (minibus red) untuk pulang terkena razia,'' kata 12 pelajar putri kelas 1 SMK 17.

Demikian pula halnya bagi pelajar putra SMA Muhammadiyah 2. ''Kami baru saja mengikuti mid semester, sehingga pulang pagi. Kesalahan kami tidak langsung pulang tetapi mampir main PS.''

Widiyarto guru SMK 17 membenarkan, siswa kelas 1 dipulangkan pagi. Karena kelas mereka digunakan untuk pembinaan siswa kelas 2. ''Sekolah tidak akan memberikan sanksi kepada mereka, karena mereka pulang atas perintah sekolah. Kecuali kalau membolos pasti dikenai sanksi,'' tuturnya.

Perintah Wali Kota

Kasubdin Binmudora Drs Edy Wahyanto menerangkan, razia terhadap pelajar dilakukan selain atas perintah Wali Kota Magelang, juga permintaan orang tua siswa dan masyarakat. ''Banyak masyarakat yang menelepon kami, karena di saat jam sekolah banyak pelajar keluyuran. Juga ada yang pacaran di terminal dan lainnya.''

Pelanggaran lain yang dilakukan para pelajar, tambah Edy, baju tidak dimasukkan, rambut panjang, atribut sekolah tidak lengkap dan dipasang tidak pada tempatnya. Bahkan ada pelajar yang memakai celana seragam tetapi sengaja dibuat bolong-bolong dan sebagainya.

''Kasihan orang tuamu, sekolah itu biayanya mahal. Supaya tidak mengulangi lagi, kamu boleh meninggalkan tempat ini setelah dijemput kepala sekolah masing-masing,'' ujarnya sambil menambahkan, selama tahun 2005 Dinas Pendidikan sudah melakukan razia terhadap pelajar sebanyak lima kali.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kota Magelang Sumartono menerangkan, pada tahun 2006 razia seperti ini akan lebih sering dilakukan. Direncanakan sebulan dilaksanakan dua kali, sehingga selama setahun sebanyak 24 kali.

Kepada pelajar SMK yang membolos dia menginformasikan, pada ujian nasional tahun 2005 siswa SMK yang tidak lulus mencapai 400 anak. Padahal waktu itu nilai kelulusan minimal 4,26. ''Tahun 2006 nilai kelulusan naik menjadi 4,50. Kalau kamu terus membolos, dikhawatirkan tidak lulus pada ujian nasinal tahun depan.''

Dia minta peristiwa ini dijadikan pengalaman pertama dan terakhir, jangan diulangi lagi. Apalagi Kota Magelang merupakan kota jasa di bidang pendidikan. ''Mau membolos lagi atau tidak?'' tanya Sumartono. Mereka serempak menjawab, ''Tidak''. (Doddy Ardjono-39)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA