| Selasa, 22 Nopember 2005 | KEDU & DIY |
Dua Kali Putaran di Jateng Tidak MerataTEMANGGUNG - Sebanyak 62.702 anak balita di Temanggung telah mengikuti Pekan Imunisasi Nasional (PIN) 2005 putaran kedua dari target 62.711. Dengan demikian, ada sembilan anak balita yang tidak mengikutinya dengan berbagai alasan, antara lain sakit (1 anak), pergi (7 anak), dan menolak (1 anak). ''Menurut perkiraan, jumlah anak balita yang mengikuti PIN putaran ketiga akan lebih banyak daripada putaran kedua karena ada penambahan kelahiran bayi yang baru,'' ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung Masruchi dalam acara sosialisasi PIN putaran ketiga tingkat kabupaten, kemarin. Dia menyebutkan, PIN putaran ketiga akan dilaksanakan mulai 30 November. Dia berharap, Pemkab Temanggung dapat segera menyosialisasikan kegiatan itu sampai ke desa-desa. Dengan demikian, pada saat pelaksanaan para orang tua yang memiliki anak balita akan mengunjungi tempat-tempat pelaksanaannya. Sebagaimana PIN sebelumnya, PIN putaran ketiga akan dilaksanakan antara lain di pos PIN, posyandu, puskesmas, terminal, dan pasar. Para tenaga medis kesehatan dan kader-kader posyandu dengan memberikan dua tetes vaksin imunisasi polio di mulut tiap anak balita. Penyelenggaraan PIN putaran ketiga ini, ujar Masruchi, karena di beberapa kabupaten di Jateng ternyata masih tersebar virus polio. Kabupaten tersebut seperti Demak, Pati, Brebes, dan Cilacap. Tindakan itu untuk memutus mata rantai penularan virus polio ke anak balita. PIN putaran ketiga perlu juga karena ketidakmerataan cakupan imunisasi di Jateng pada dua putaran sebelumnya. Sementara itu kenyataan lain, masih ada juga anak balita yang belum diimuniasi karena penolakan orang tuanya. Karena itu, masih mungkin terjadinya transmisi virus polio liar terutama di Jateng. Di Temanggung, selama pelaksanaan PIN cakupan imunisasinya telah 100%. Demikian pula dalam PIN putaran ketiga, cakupannya juga akan meliputi semua wilayah tersebut. Berisiko Rendah Hasil evaluasi pelaksanaan PIN putaran pertama dan kedua, Temanggung termasuk berisiko rendah. Hal itu karena tidak ditemukan virus polio liar yang wilayah kesatuan epidemisnya dengan mobilitas tinggi. Juga, tidak ditemukan kasus ikutan pascaimunisasi. Dan, kunjungan ke rumah oleh petugas pun telah dilakukan. ''Memang ada yang menolak tetapi hanya orang tua seorang anak balita saja,'' imbuh Masruchi. (hsf-39j) |