| Minggu, 20 Nopember 2005 | NASIONAL |
Menyingkap Tabir Aliran "Dextro" (3-Habis)Ajaran Raji Dinilai Sesat dan Menyesatkan
MENCUATNYA ajaran Raji pascaperkelahian antarwarga di Kampung Kanalsari Timur, Semarang Timur, Senin (14/11) lalu, memantik respons sejumlah kalangan. Tak kurang Departemen Agama Kota Semarang segera menerjunkan tim khusus untuk melakukan penyelidikan. Setelah mengorek keterangan dari Muhammad Raji yang tengah ditahan di Polsek Sidodadi, Kamis (17/11), tim tersebut menyimpulkan jika ajaran itu tidak berbasis Islam. Kepala KUA Semarang, Samsuri, yang menjadi anggota tim Depag menjelaskan, Raji sebagai pimpinan tidak punya dasar kuat dalam ilmu keagamaan. Saat ditanya tentang prinsip ajaran Islam, ia tidak bisa menjawab. Pria itu mengaku, dasar ilmu agamanya amat terbatas. Saat ditanya tentang ayat-ayat suci Alquran yang sederhana pun, dia tidak mengerti, apalagi menghafalkannya. Mengutip keterangan Raji, Samsuri penjelaskan, aliran yang diajarkan kepada para pengikutnya adalah Satria Sejati. Ajaran itu menggunakan Sapta Dharma sebagai kitab panduan utama. Selain itu, lanjutnya, apa yang diajarkan lelaki dengan badan penuh tato itu adalah manunggaling kawula gusti. Mereka meyakini, dalam pencapaian ibadah tertinggi, seseorang dapat melebur ke dalam zat Tuhan yang sejati. Dalam ranah sejarah, ajaran tersebut pernah disebarkan Syekh Siti Jenar pada masa Kesultanan Demak Bintoro. Di Luar Kewajaran Samsuri menambahkan, Islam secara tegas membedakan manusia dari Tuhan. Manusia tak bisa menyamai apalagi menyatukan dirinya dengan Tuhan. Manusia dipenuhi nafsu angkara, sedangkan Tuhan adalah zat agung yang Mahasuci. Satu hal lagi yang membuat ajaran Raji sesat adalah penggunaan obat batuk Dextro Methortan yang memabukkan, dalam laku peribadatan yang mereka lakukan. Lebih lanjut dijelaskan, kondisi psikis pemimpin ajaran itu boleh dikata tidak normal. Ia menduga, akibat pengaruh obat Dextro yang sehari-hari diminum dengan dosis di luar kewajaran. "Karena terlalu sering minum obat itu dalam dosis cukup tinggi, cara berpikir Raji sudah tidak normal. Hal itu kami nyatakan dalam laporan tertulis." Jika ditilik sepintas, inti ajaran Raji mengajarkan para pengikutnya untuk senantiasa berbuat kebaikan. Kendati demikian, dalam praktiknya banyak sisi-sisi yang meresahkan, utamanya penggunaan obat-obatan sebagai peranti peribadatan. Soal penggunaan obat-obatan itu, Raji mengaku, tak melakukan pemaksaan. Ia membebaskan para pengikutnya untuk menentukan pilihan, apakah menggunakan atau tidak. Sesat Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng Prof Dr H Ahmad Rofiq MA menyatakan, aliran Dextro bertentangan dengan ajaran Islam. Alquran, menurut dia, secara tegas mengharamkan khamr, apalagi digunakan sebagai peranti peribadatan. ''Seseorang yang mengamalkan Islam, seharusnya menggunakan Alquran dan Hadis sebagai landasan. Kalau mereka menggunakan obat sebagai media bertemu Tuhan, jelas itu tidak bisa dibenarkan,'' kata dia. Ibadah, imbuh Ahmad Rofiq, hanya dibebankan kepada orang-orang yang berakal sehat. Sementara itu, obat-obatan yang digunakan Raji dan pengikutnya saat menjalankan laku peribadatan, justru membuat akal sehat mereka menjadi hilang. Guru Besar Hukum Islam IAIN Walisongo itu tak sepakat jika ajaran Raji dikatakan sebagai aliran keagamaan. Ia lebih tampak sebagai aktivitas orang iseng yang kebablasan. Anehnya, banyak orang mengikutinya. Dia berharap mereka dapat kembali ke jalan yang benar dengan belajar Islam kepada orang-orang yang punya kompetensi dan kapabel. Dia lantas dengan tegas menyebutkan jika ajaran Raji sesat dan menyesatkan. Sesat, karena tak berdasar Alquran. Menyesatkan lantaran membuat banyak orang terjerumus. Lebih lanjut, dia mengimbau masyarakat, khususnya umat Islam, agar selalu hati-hati dan waspada terhadap ajaran-ajaran sesat semacam itu. Sementara itu, pengajar Fakultas Psikologi Undip Dra Frieda NRH MS melihat kemungkinan penggunaan obat-obatan dalam peribadatan sebagai sebuah bentuk pelarian atas tekanan hidup yang mereka rasakan. Memang, untuk memastikan tesis ini perlu kajian lebih mendalam. Namun, kecenderungan itu dapat dilihat dari latar belakang pengikut yang sebagian besar para pengangguran dan orang-orang susah lain. Jika diminum, obat tersebut dapat memberi efek kenyamanan. Mereka akan masuk ke dalam dunia halusinasi, lalu memaknainya sebagai pertemuan dengan Tuhan. (Rukardi, Saptono JS-23v) | ||||