logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 20 Nopember 2005 NASIONAL
Line

Kapolri Sesalkan Travel Warning


Sutanto - SM/dok

JAKARTA- Pro-kontra soal penayangan VCD tersangka teroris sebelum melaksanakan bom bunuh diri dalam kasus Bom Bali II belum usai. Namun dampak langsung dari penayangan sudah terjadi. Saat ini, Pemerintah Amerika Serikat, Inggris, dan Australia telah mengeluarkan travel warning, larangan mengunjungi Indonesia bagi warganya.

Bahkan, Australia memperkirakan aksi teror bom akan kembali terjadi sebelum tahun baru yang tinggal 40 hari. Diperkirakan, jaringan teroris yang kini diacak-acak polisi akan balas dendam.

Kapolri Jenderal Pol Sutanto amat menyesalkan penerbitan travel warning itu. Dia tidak menyangka kalau buntut dari penayangan VCD terbatas tersebut akhirnya merugikan setelah disiarkan secara luas oleh pers. ''Kapolri amat menyesalkan media yang menyebarkan mentah-mentah,'' kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Aryanto Boedihardjo di Jakarta, Sabtu (19/11).

Dampak berupa reaksi negatif dari negara lain, kata dia, bukan tanggung jawab Polri. Sebab yang meminta dan menayangkan kepada kalangan terbatas adalah Wapres. ''Kapolri angkat tangan dalam hal ini karena media telah menyebarkannya mentah-mentah.''

Menurut Aryanto, dalam pertemuan dengan para gubernur se-Indonesia, Kapolri berpesan agar masyarakat diberi pengarahan sehingga memperoleh pencerahan mengenai ajaran agama yang benar. Agama mana pun tidak mengajarkan bunuh diri dan melakukan aksi teror.

Di Jateng

Menyinggung tersangka teroris yang paling dicari polisi Noordin M Top, hingga kini terus diburu. Berdasarkan informasi yang diterima polisi, Noordin masih bersembunyi di Jawa Tengah. ''Informasi awal kan memang ada di Jawa Tengah, kemungkinan masih di situ,'' tandasnya.

Karena itu, aparat kepolisian memperketat penjagaan di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Penyelidikan pun digencarkan untuk menemukan Noordin bersama pengikutnya, terutama pada jalan-jalan ''tikus'' yang rawan untuk pelarian dan persembunyian teroris. ''Jateng kan luas dan pencarian tidak harus di perkotaannya,'' ujarnya.

Sementara itu, pada saat kepolisian melakukan perburuan terhadap kelompok teroris, muncul berbagai isu. Di Jakarta, beredar SMS yang menyebut Noordin M Top tertembak di Magelang. SMS lain mengabarkan, terjadi tembak-menembak antara petugas dan pengendara sebuah mobil di Garut, Jabar yang diduga berisi kawanan teroris.

Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Soenarko enggan berkomentar soal itu. Namun dia menegaskan, polisi sedang melakukan berbagai pengembangan. Karena itu, banyak temuan yang belum bisa diungkapkan sekarang. ''Tunggu saja hasilnya,'' ujar Soenarko.

Menurut Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Drs Muryan Faisal, sampai saat ini tidak pernah mendengar informasi seperti di atas. ''Saya sudah cek ke Polres Garut, peristiwa tembak-menembak itu tidak ada. Jangan percaya isu,'' tambahnya.

Kriminolog Adrianus Meliala yang dihubungi terpisah menilai, berbagai informasi tidak jelas berkaitan dengan kelompok teroris ini tersebar, bisa jadi karena antusiasme masyarakat terhadap upaya polisi melakukan pengejaran menjadi over sensitif. Akibatnya, selalu dikaitkan dengan kelompok Noordin M Top.

''Kemungkinan lain, situasi ini dimanfaatkan orang iseng atau permainan kelompok teroris untuk mengacaukan kerja polisi,'' kata pengajar FISIP UI ini.

Di Bogor

Sementara itu, empat orang yang diduga sebagai anggota jaringan teroris kaki tangan Noordin M Top ditengarai bersembunyi antara Depok dan Bogor. Jajaran Polwil Bogor telah mengidentifikasi dan sedang memburu empat orang berinisial DG, DN, AB, dan US tersebut.

Kapolwil Bogor Kombes Tjiptono mengatakan, bisa jadi keempat orang itu sebagai anggota jaringan teroris Noordin M Top di wilayah Jawa Barat yang dipersiapkan untuk mengacaukan malam Natal dan tahun baru mendatang. ''Karena itu, kami bersama aparat Korem 061 Suryakencana terus melakukan perburuan teroris yang diduga bersembunyi di Bogor,'' katanya, Sabtu (19/11).

Saat ini jajaran Polwil Bogor bersama aparat TNI dari Korem 061 Suryakencana terus melakukan upaya penyisiran ke daerah-daerah pinggiran yang dicurigai dipakai sebagai tempat persembunyian kelompok teroris jaringan Noordin dan Omar Al Farouk.

Selain melakukan sweeping di sejumlah vila dan perkampungan terpencil di Bogor, ujar dia, aparat juga menggelar razia terhadap kendaraan yang melintas di daerah-daerah perbatasan dengan harapan mempersempit ruang gerak para teroris.

Tjiptono yang didampingi Danrem 061 Suryakencana Kolonel (Inf) Edhy Ryanto menyebutkan, ada tiga lokasi rawan di Bogor yang diduga jadi tempat persembunyian para teroris. Ketiga lokasi itu menjadi target petugas.

''Dari informasi yang kami terima, keempat orang yang dicurigai dan diawasi terus gerak-geriknya, saat ini masih bersembunyi di daerah Leuwiliang, Cianjur Selatan, dan Pelabuhan Ratu Sukabumi,'' ungkapnya.

Lokasi lain yang kemungkinan menjadi tempat pelarian para teroris adalah Depok, kota tetangga Bogor. Kepala Kepolisian Resor Kota Depok AKBP Firman Shantya Budi mengemukakan, posisi Depok yang dekat dengan Jakarta kemungkinan besar menjadi tempat singgah teroris. ''Itu sangat mungkin mereka (para teroris) singgah,'' kata putra mantan Wapres Try Sutrisno ini.

Seperti Tjiptono, Firman juga mengaku telah mengantisipasi masuknya teroris ke daerahnya dengan menggelar sweeping di rumah-rumah kos di Depok. ''Jajaran Polres dan Polsek setiap hari melakukan sweeping,'' ujarnya.

Selain sweeping, pihaknya juga tengah melacak penebar teror melalui telepon yang menimpa Sekolah Katolik Mardi Yuana baru-baru ini. Firman mengimbau masyarakat lebih hati-hati dalam segala hal. Misalnya, saat menjual nomor telepon seluler.

''Tolong dicatat nama dan alamat pembelinya. Cara tertib administrasi ini penting jika suatu saat dibutuhkan,'' paparnya.(wa,A20-48m,v)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA