| Minggu, 20 Nopember 2005 | SEMARANG |
Sepenggal Kisah Hantu Cekik (1)''Hajatan'' sang Ratu yang MeresahkanMALAM itu suasana Kampung Tambaklorok Kelurahan Tanjungmas, berbeda dari hari sebelumnya. Beberapa laki-laki tampak berjaga-jaga di bawah tenda yang sengaja dipasang. Sesekali mereka menyeruput kopi untuk mengatasi rasa kantuk yang melanda. Begitu takut dengan ''serangan'' hantu cekik, warga memilih tidur di lantai ruang tamu beralaskan tikar. Berdasarkan pengamatan, sebagian warga rela menahan dingin angin malam dan tidur di jalan depan rumah dengan perlengkapan seadanya. Menurut Ketua RT 03 RW XIII Tambaklorok Budi Setyono, dengan tidur di luar, warga bisa segera memberikan bantuan jika ada yang mendapat ''serangan'' hantu cekik. Beberapa tahun silam, ''hantu cekik'' datang pada bulan Suro dan hanya menyerang warga permukiman dekat pantai. Namun sudah lima tahun belakangan, peristiwa itu tidak terjadi lagi. "Baru tahun ini serangan muncul kembali,'' ujar dia. Menurut kepercayaan warga, setiap bulan Suro, konon Ratu Pantai Selatan menyelenggarakan hajatan besar. Acara itu bukannya membawa berkah bagi penduduk pantai, melainkan menimbulkan keresahan. Sebagai salah satu uba rampe hajatan, dia memerintahkan utusan mencari tumbal di daerah pantai. "Entah mengapa, tahun ini baru bulan Syawal tetapi serangan sudah muncul,'' keluh Budi. Menurut Mohamad, salah seorang warga, serangan biasanya berlangsung setelah adzan shalat isya hingga menjelang Subuh. "Istri saya sempat diganggu saat tidur. Saya yang berada di sebelahnya terkejut mendengar teriakannya." Saat ditanya suaminya, Indrawati mengaku melihat bayangan laki-laki tinggi besar. Keheningan malam yang mencekam itu tiba-tiba terusik. Warga yang semula duduk bergerombol, mendadak bangkit dan berlari menuju sebuah gang yang gelap dan sempit. "Ada bayangan besar, ada bayangan besar..!'' teriak mereka. Setelah dikejar, bayangan itu hilang ditelan kegelapan malam. Malam itu (18/11), ''hantu cekik'' kembali mengganggu salah seorang warga. Saat terlelap tidur, Ahmad, penduduk RT 3 RW 14 mengaku didatangi seseorang dengan postur tubuh tinggi besar yang akan mencekiknya. Kejadian berlangsung pukul 01.30. "Saya kemudian teriak-teriak dan sempat tidak sadarkan diri tiga menit,'' ungkapnya lirih. Melihat temannya tak sadarkan diri, Iman berusaha menyadarkan dengan cara menepuk-nepuk pipi sehingga kawannya itu sadar. Di Karangroto Suasana tidak kalah mencekam juga terasa di Kelurahan Karangroto, Genuk. Warga memilih menggelar tikar dan tidur di jalan depan rumah. Kalaupun ada yang bertahan di dalam rumah, mereka lebih suka tidur atau istirahat di ruang tamu. Di mulut-mulut gang, warga yang kebanyakan pria tampak berjaga-jaga. Beberapa warga mengaku pernah ''dikerjai'' hantu cekik, merasa khawatir jika suatu saat makhluk itu datang lagi. Sohib, warga RT4/RW 3, malam itu memilih tidur di jalan depan rumah bersama keluarga. Sebab sehari sebelumnya, seusai shalat subuh dan ketika hendak melanjutkan tidur di dalam kamar, tiba-tiba sesosok orang bertubuh besar dan hitam datang mencekiknya. ''Untung istri saya tahu dan menyadarkan. Dia juga membantu memindahkan posisi tidur saya tiga kali supaya hal itu tidak terjadi lagi,'' kata dia. Suwati, penduduk RT1/RW 4 Kelurahan Kudu, Genuk, tidak berniat tidur di rumahnya dalam waktu dekat. Terlebih, setelah sesosok bayangan hitam berusaha mencekiknya. ''Serangan'' itu didahului dengan aroma harum yang menggelitik penciumannya. Saat itu ia hendak menidurkan anaknya. ''Lalu bayangan manusia tinggi besar menekan dadanya sehingga saya sesak napas,'' kata dia. Padahal, saat itu ia tidur di depan rumah bersama tetangga yang lain. Menurut tetangga yang menolong, Suwati yang ''dicekik'' pada pukul 20.00, baru sadar dua jam kemudian. Ketika ditemui kemarin malam, Suwati terlihat berzikir sedangkan anak-anaknya yang masih kecil, terlelap di sampingnya. (Ida Nursanti, Roosalina, Much Kundori-37m) |