| Minggu, 20 Nopember 2005 | SEMARANG |
Ngaku Dukun, Nyaris Dihakimi MassaDEMAK - Kekhawatiran berlebihan terhadap isu hantu cekik (tekek), membuat ratusan warga Desa Tambakbulusan Kecamatan Karang Tengah, Demak, nyaris menghakimi Sumardi alias Gepeng (50) yang juga warga desa tersebut, Sabtu (19/11). Dia dicurigai sebagai orang yang bertanggung jawab atas kemunculan hantu cekik, sosok yang telah menakuti penduduk dari berbagai desa. Ratusan warga yang sebagian besar nelayan, menyandera Sumardi di balai kelurahan pukul 10.00 - 12.00. Sebelumnya, pamong desa bersama puluhan pemuda mencegat lalu mengamankannya di balai desa. Itu dilakukan karena ratusan orang menunggui rumah Sumardi dan akan bertindak anarkis. Di balai desa, dia diinterogasi Kepala Desa Abdul Wachid, Sutikno (BPD), sesepuh desa Sudarno, dan beberapa perangkat lainnya. Sementara massa yang sebagian besar pemuda, membuat barigade membentengi kantor kelurahan. Mereka melarang orang luar desa masuk ke tempat itu. Petugas Polsek Karang Tengah yang mau melakukan pengamanan juga tidak diperkenankan masuk. Jumlah massa yang terus bertambah membuat suasana semakin memanas. Beberapa warga dengan suara keras meminta Sumardi dihakimi. Suasana semakin tegang ketika Dalmas Polres Demak tiba dilokasi. Warga yang melihat petugas semakin banyak, langsung menutup pintu masuk balai desa dengan sejumlah bambu. Kepala Desa Abdul Wachid menemui warga dan menjelaskan yang bersangkutan telah menandatangani surat berisi pernyataan kesanggupan bertanggung jawab penuh jika hantu cekik masih berkeliaran. Namun, warga keberatan. Mereka meminta hukuman massa sebagai imbalan untuk Sumardi. Petugas yang melihat suasana semakin tak menentu, lantas bernegosiasi dengan perangkat desa dan warga. Setelah tercapai kesepakatan, polisi diperbolehkan masuk. Polisi yang dipimpin Kasat Reskrim AKP Zaenal Arifin akhirnya berhasil meyakinkan warga sehingga bisa membawa sandera ke Mapolres. Meski telah disepakati bersama, ketika petugas membawa sandera ke mobil Dalmas, puluhan warga mengejar dan sempat melayangkan pukulan ke Sumardi. Bahkan, ada yang melempar batu dan pecahan genteng ke arah aparat yang melakukan pengamanan. Tidak puas dengan penyelesaian tersebut, warga mendatangi rumah bapak empat anak itu. Semula mereka berencana merusak dan membakar rumah warga RT 05 RW 02 ini tetapi gagal lantaran para tetangga mengalangi dengan alasan rumah mereka bisa ikut terbakar. Massa balik kanan dan menuju perahu kecil milik dukun dadakan itu. Perahu dengan ukuran 1 x 4 meter bertulis gotong royong milik sang dukun pun habis terbakar. Dicurigai Dukun Cekik Kepala Desa Abdul Wachid menuturkan, peristiwa itu terjadi lantaran Sumardi dicurigai sebagai hantu cekik. Apalagi, dua korban Bardi dan Nur Said mengaku saat dicekik melihat bayangan pelakunya mirip dukun tersebut. Dalam seminggu, ada 25 orang korban hantu yang muncul berupa sinar lampu dan terkadang bayangan hitam. Kecurigaan diperkuat oleh kebiasaan dia keluar masuk kuburan. Beberapa waktu lalu, lanjut dia, Sumardi menemuinya dan mengatakan berniat membantu mengusir hantu cekik. Tawaran itu dia sambut dengan tangan terbuka. Namun, warga yang mendengar itu justru mengamati pola dan tingkah lakunya. Warga pantas curiga, sebab selama ini dia tidak pernah terlibat dalam ilmu perdukunan. Dia dinilai sebagai dukun dadakan yang patut dipertanyakan, bahkan dicurigai. ''Dulu hanya nelayan biasa, kok belakangan mengaku dukun,'' kata Abdul Wahid. Bagaimana dengan penjelasan Sumardi? Dukun yang mengaku hanya mengenyam pendidikan kelas I SD itu hanya bermaksud membantu warga. Kendati tidak pernah bergelut dengan ilmu gaib, dia yakin bacaan ayat suci Alquran bisa mengusir makhluk gaib yang berniat jahat. Niatnya itu sudah disampaikan kepada Kades. ''Saya heran, kenapa niat baik harus berakhir seperti ini.'' Ada informasi yang menyebutkan, aksi massa dilatarbelakangi oleh persaingan antardukun. Pasalnya, ada dukun yang didatangkan perangkat desa dan merasa ada pesaing. (H1-37m) |