| Minggu, 20 Nopember 2005 | SEMARANG |
17 Kecamatan Endemis DBKENDAL - Masyarakat diminta waspada terkait dengan serangan demam berdarah (DB). Pasalnya, penyakit yang menyebar lewat nyamuk Aedes aegypti sekarang telah berjangkit di hampir seluruh wilayah kecamatan di Kendal. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kendal dalam tiga tahun terakhir, secara berturut-turut terdapat 52 desa yang menjadi daerah endemis DB. Desa-desa itu tersebar di 17 kecamatan. ''Dari 19 kecamatan yang ada, hanya dua yang terbebas dari penyebaran penyakit tersebut, yaitu Limbangan dan Plantungan,'' kata Kepala DKK Kendal dokter Kadar Suyanto melalui Kasi Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Hadi Suryanto, kemarin. Menurut dia, dua wilayah kecamatan itu terbebas dari penyebaran DB semata-mata karena faktor topografi wilayah, yaitu terletak pada ketinggian 900 meter di atas permukaan laut (dpl). ''Nyamuk tidak bisa berkembang biak di kedua wilayah tersebut.'' Kewaspadaan harus dilakukan, khususnya oleh masyarakat yang bermukim di daerah endemis. Langkah paling efektif sesuai dengan imbauan pemerintah adalah melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Yakni, menguras bak mandi (genangan air), menutup tandon air, dan mengubur sampah (khususnya yang bisa menampung air, seperti botol bekas dan ban bekas). Enam Bulan Hadi mengemukakan, nyamuk Aedes aegypti biasa beroperasi pada waktu- waktu tertentu, seperti pagi hari pukul 06.00-10.00 dan sore hari pukul 16.00-18.00. ''Pada musim pancaroba seperti ini, nyamuk mudah berkembang biak. Apalagi jika masyarakat kurang waspada, seperti membiarkan genangan air (botol/ban bekas) di lingkungannya. Dalam waktu yang relatif singkat, telur nyamuk Aedes aegypti akan menetas dengan bantuan kehangatan sinar matahari.'' Dia menjelaskan, telur nyamuk Aedes aegypti mampu bertahan enam bulan di luar media air. ''Dalam kurun waktu itu, apabila telur nyamuk tersiram air hujan, langsung bisa menetas. Ini berbeda jika telah menetas menjadi jentik yang cenderung mudah mati apabila tidak berada dalam air.'' Seperti diberitakan (18/11), dari sembilan penderita DB di Kendal sampai 17 November lalu, dua di antaranya tidak tertolong. Yaitu, Nur Imatul Mukharomah (3) warga RT 7/2 Dusun Klepu dan Siti Ulyana (16) warga RT 2/4 Dusun Bahalo Desa/Kecamatan Ringinarum. Keduanya meninggal Minggu (6/11) dan Rabu (9/11) lalu, saat dirawat di rumah sakit. (G15-37m) |