logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 20 Nopember 2005 SEMARANG
Line

Warga Desak Pemkot Perbaiki Kali Silandak

NGALIYAN - Warga Kelurahan Purwoyoso Kecamatan Ngaliyan mendesak Pemkot segera membenahi Kali Silandak. Sungai itu setiap tahun berpotensi menimbulkan berbagai bencana, terutama banjir bandang.

Saat dijumpai Sabtu (19/11) kemarin, Puryati (40) warga Taman Sriyatno RT 4 RW 4 mengaku selalu waswas. Saat hujan deras, rumahnya yang berdiri di tepi sungai sewaktu-waktu bisa diterjang banjir. ''Kalau hujan deras, kami tidak berani tidur,'' kata dia.

Kekhawatiran itu memang cukup beralasan. Rabu (16/11) pukul 20.00 lalu, talut di belakang rumah ambrol. Akibatnya, kamar mandi miliknya yang berada di samping talut ikut longsor.

Saat peristiwa terjadi, kawasan itu diguyur hujan lebat disertai angin kencang. Pada saat itu, air Kali Silandak mengalir cepat dan hampir melampaui talut. ''Untuk sementara, kami sekeluarga kalau mau buang air dan mandi harus menumpang tetangga. Kami berharap Pemkot juga memperbaiki talut dan membantu perbaikan kamar mandi,'' tandasnya.

Sementara itu, Lurah Purwoyoso Sutrisno SH ketika dihubungi menyatakan sudah melaporkan musibah yang menimpa keluarga Puryati. Selain talut ambrol di Taman Sriyatno, Rabu malam lalu tembok rumah milik Sukamto, warga RT 2 RW 3 juga bernasib sama. Saat itu, aliran air dari Kawasan Industri Candi mengalir ke Jl Gatot Subroto. Air kemudian masuk ke lingkungan perumahan PLN dan menyebabkan dinding rumah jebol.

Dia mengatakan, hulu Kali Silandak berada di Kawasan Industri Candi. Pengelola PT Indo Perkasa Usahatama juga sudah berupaya memperdalam embung. ''Meski demikian, warga harus tetap waspada, termasuk melakukan siskamling tiap malam,'' kata dia.

Ganas

Pakar Hidrologi Undip Dr Ir Robert Johanes Kodoatie mengatakan, Kali Silandak merupakan sungai yang paling ganas. Sungai-sungai lain yang berpotensi menimbulkan banjir bandang adalah Kali Beringin, Banjirkanal Barat, Banjirkanal Timur, dan Kali Babon.

Panjang sungai itu hanya 7 km tetapi separonya berada di lereng. Pada saat hujan deras, sungai yang semula tenang itu tiba-tiba banjir bandang. Peristiwa semacam itu bahkan terjadi setiap tahun.

Menurut perhitungannya, luas daerah aliran sungai tersebut 13,52 km persegi. Sedangkan debit air, bisa mencapai 45 meter kubik per detik. ''Itu seperti digelontor,'' kata dia.

Sedimen sungai juga cukup tinggi, yakni 100.000 meter kubik per tahun. Itu terjadi karena daerah hulu erosi, yakni Kawasan Industri Candi. Pada saat hujan, air Kali Silandak berwarna cokelat tua.

Persoalan Kali Silandak, lanjut dia, merupakan contoh penanganan sungai yang tidak memperhatikan tata guna lahan. Penanganan mestinya dilakukan tidak hanya pada infratruktur sungai, tetapi juga daerah tangkapan airnya.

''Karena Kota Semarang sudah memasuki musim hujan, upaya yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan warga,'' tambah dia. (G6-37m)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA