logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 20 Nopember 2005 BINCANG BINCANG
Line

Sebal Korupsi


SM/Sutomo

BUKAN sakedar Wakil Presiden yang cuma bisa menggunting pita. Demikian yang ditegaskan pria bernama lengkap KH Drs Abdul Hasyim Muzadi ini, saat pendeklarasian pasangan Capres-Cawapres Mega-Hasyim di Tugu Proklamasi, menjelang Pemilu Pilpres langsung, 6 Mei 2004 lalu.

Pria kelahiran Bangilan, Tuban, Jawa Timur 8 Agustus 1944 ini juga menyatakan bahwa walaupun mempunyai wewenang di bawah Presiden, tetapi sebagai calon Wapres dirinya ingin bisa berperan lebih demi kesejahteraan bangsa. Antara lain dalam rangka pemberantasan korupsi.

Megawati pun mengajaknya karena setuju dengan pemikiran "sinergi team work yang tangguh antara Capres dan Cawapres" yang dikemukakan Hasyim, saat dipinang. Hasyim, merupakan sosok yang sebal dengan berbagai hal yang dikontruksikan secara dikotomis. Saat menjadi Pimpinan NU di Malang, serta pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al Hikam, dia sering mendapat undangan untuk memberikan ceramah ilmiah di hadapan mahasiswa.

Saat tampil sebagai pembicara pada acara Peringatan Isra Mi'raj di kampus Universitas Brawijaya, Hasyim menyatakan dikotomi antara ilmu agama dengan ilmu lain harus diakhiri. "Karena ilmu-ilmu itu juga merupakan ilmu dari Allah. Fenomena alam merupakan ayat-ayat Alah. Karena itu ia harus dipelajari dengan sungguh-sungguh bila ingin sukses dunia akhirat," kata putra pasangan H Muzadi dan Hj Rumyati ini.

Abangan-Santri

Hal sama juga dilakukan suami Hj Muthomimah ini pada dikotomi abangan dan santri. Menurut pendapat Hasyim kesediaan untuk berduet dengan Megawati adalah dalam rangka mengikis hal itu. Karena itu pada saat deklarasi duet Mega-Hasyim, alumnus IAIN Malang ini menyatukan gema takbir Allahu Akbar dengan pekik Merdeka. Menurutnya dengan pengikisan dikotomi kaum abangan dan santri diharapkan akan terbentuk pemerintahan yang kokoh, karena juga didukung oleh dimensi kultural.

Pasangan Mega-Hasyim bukan pemenang, tetapi semangat untuk mengikis dikotomi santri abangan telah terbentuk. Dan ini merupakan aset bangsa yang tidak tenilai harganya. Apa saja yang dianggap perlu bagi agama, Indonesia, dan NU, Hasyim ikhlas melakukan. Itu sebabnya, dalam kunjungan di AS, Hasyim benar-benar seperti mengabdikan diri bagi kepentingan lebih besar. Salah satunya dia tunjukkan dalam bentuk memberikan penjelasan kepada dunia internasional bahwa umat Islam Indonesia adalah sosok yang moderat, kultural, dan tidak memiliki jaringan dengan organisasi kekerasan internasional.

Luruskan Pandangan AS

Peristiwa penabrakan Gedung Kembar WTC pada 11 September 2001 membuat citra Islam garis keras jelek di mata Amerika Serikat. Pemerintah AS langsung menuduh jaringan Al Qaeda sebagai pelaku. Dunia Islam pun seakan digebyah uyah oleh AS sebagai teroris. Saat mendapat kesempatan diundang ke AS, Hasyim merasa perlu memberi penjelasan tentang bagaimana sebenarnya pemahaman dan karakter masyarakat Islam di Indonesia. Dia dalam kapasitas sebagai Ketua Umum PBNU mampu jelaskan peta dan struktur Islam Indonesia.

Hasyim juga mengingatkan pemerintah AS, untuk mengatasi permasalahan ini, jangan sekali-kali menggunakan tindakan yang represif. Tindakan semacam itu bukan hanya kontraproduktif, tetapi bisa memunculkan berbagai radikalisme yang sesungguhnya. Yang dilakukan AS di Afghanistan atau negara-negara Timur Tengah, sudah membuktikan telah membangkitkan aksi yang meluas yang ujung-ujungnya merugikan AS sendiri.

Karena itu, Hasyim meminta supaya AS melakukan pendekatan berupa pendidikan, kultural, dan social problem solving. Juga mengintensifkan komunikasi dengan pemuka agama Islam Indonesia serta negara Islam lain sehingga tidak akan mendapatkan informasi yang sepotong-sepotong. (Hartono Harimurti-35)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA