| Minggu, 20 Nopember 2005 | BINCANG BINCANG |
Hasyim Muzadi:Jihad Itu Tak Kedepankan Kekerasan
DOKTOR Azahari, arsitek berbagai peledakan bom di Indonesia, telah tamat. Namun bukan berarti teror bom (bunuh diri) segera berakhir. Pertama, gembong teror lain, semacam Noor Din M Top masih berkeliaran, Dulmatin dan Zulkarnain setali tiga uang. Para teroris menganggap aksi mereka sebagai jihad, sedangkan sebagian ulama justru menyebutnya sebagai "mati sangit". Bagaimana Islam memandang jihad? Bagaimana pula membersihkan Islam dari ulah yang telah ditebar oleh teroris yang mengatasnamakan Islam sebagai ideologi perjuangan? Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU KH) Hasyim Muzadi menjawab pertanyaan itu. Berikut petikan perbincangan dengan tokoh yang pernah menjadi calon wakil presiden itu belum lama ini. Baru-baru ini ditayangkan rekaman video testimoni pelaku bom serta ajakan orang untuk melakukan aksi jihad dengan bom bunuh diri. Bagaimana komentar Anda tentang hal itu? Ajaran Islam jelas melarang seseorang melakukan bunuh diri. Terlebih lagi kalau bunuh diri itu juga mengakibatkan banyak orang meninggal yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa. Membunuh orang tidak bersalah dalam Islam harus dihukum qishas. Dalam peperangan, tidak berlaku hukum qishas itu. Sekarang mari kita lihat apakah situasinya sesuai dengan konteks peperangan. Ternyata saat ini kondisi kita tidak bisa digolongkan sebagai peperangan. Keadaan kita aman-aman saja. Kondisi justru tidak aman akibat ulah para teroris itu. Begitu banyak ketidaknyamanan terjadi di mana-mana. Mau belanja saja digeledah. Tas digeledah, mobil digeledah. Kita lihat juga alasan mereka berjihad. Dengan memakai aksi teror itu, mereka mengatakan aksi ini dilakukan untuk melawan Amerika Serikat. Kalau melawan Amerika Serikat, kok aksinya dilakukan di Indonesia. Mengapa posnya kok di Ponorogo, Malang, dan Jakarta? Ini kan nggak logis. Kalau di Jakarta ya harusnya mereka menyerang Kedubes AS atau Kedubes Australia. Jangan serang sana-sini yang mengakibatkan banyak korban tak berdosa sampai meninggal dunia. Jadi pasti ini ada motif lain di balik perlawana mereka kepada Amerika Serikat. Apakah ada maksud untuk mendiskreditkan Islam? Untuk kasus ini, saya lihat memang ada upaya untuk membuat kesalahan pemahaman, penggunaan, dan kesalahan strategi perlawanan. Itu fenomenanya. Kalau dilihat dari akibat yang ditimbulkan, maka tentu saja Islam dan umat Islam yang dirugikan. Islam hanya ditampilkan secara parsial sehingga kelihatan ajarannya keras, kasar, dan bahkan kejam. Islam diposisikan menjadi sasaran tembak musuh-musuhnya dengan alasan bahwa Islamlah yang memulai perang. Islamlah yang mengobarkan aksi terorisme yang memakan banyak korban tak berdosa. Karena itu posisi umat Islam baik secara nasional maupun internasional, menjadi terpojok. Ke mana-mana dicurigai, ditakuti sampai dimusuhi. Belum lagi dampaknya bagi sebuah negara. Coba bayangkan bagaimana dampak dari aksi teror ini bagi Indonesia. Stabilitas keamanan terganggu. Begitu juga stabilitas ekonomi. Coba lihat bagaimana dampak bom Bali! Begitu banyak orang yang menganggur akibat tidak ada turis yang mau datang, karena diberlakuka travel warning. Belum lagi ada kesan yang khawatir dengan berbagai tindakan umat Islam. Kalau lihat orang memakai gamis, sorban lalu, orang awam jadi ketakutan. Jadinya kok seperti ini? Maka kalau ada yang mengatakan aksi ini adalah jihad, ya jelas jauh sekali dari harapan. Ini mendeskreditkan jihad? Ya memang demikian. Makanya ini perlu diluruskan. Saya katakan tindakan Azahari dan kawan-kawan bukan jihad, karena kriterianya tidak terpenuhi. Karena kriteria tidak terpenuhi, maka jangan berbicara mengenai pahala. Langkah Azahari ini bukan termasuk syarat untuk mati syahid. Ini bukan jihad, tetapi sebuah perusakan diri dan lingkungan. Jadi jangan sekali-kali menggunakan klaim akan masuk surga setelah melakuakn perusakan semacam itu. Jihad memang artinya berjuang. Jadi tidak selalu perang. Perang itu qital. Jihad itu bisa belajar dengan sungguh-sungguh, berkorban dengan harta untuk kepentingan umat dan sebagainya. Jadi menggunakan cara-cara yang sesuai dengan perikemanusiaan. Cara yang beradab dan tidak dengan mengedepankan kekerasan atau menghalalkan segala cara. Cara-cara mati dengan bom bunuh diri tidak sesuai dengan gaya umat Islam Indonesia. Mengapa hal itu tetap saja dilakukan? Apakah bakal efektif? Perlu saya tegaskan, orang Islam domestik Indonesia, itu rata-rata moderat. Jadi kalau ada yang memilih cara-cara kekerasan seperti itu, itu pasti akibat pengaruh orang Islam dari luar Indonesia. Baik pengaruh dalam ajaran, maupun gerakan politik. Orang Islam Indonesia tidak punya karakter seperti teroris. Jadi merekalah yang memengaruhi. Mereka yang mencuci otak orang Indonesia tertentu saja. Azahari kan orang Malaysia. Azahari berbuat demikian itu pun mungkin juga akibat dipengaruhi oleh orang dari luar Malaysia. Yang domestik Indonesia itu ya seperti NU dan Muhammadiyah. Mereka yang mengusung semangat untuk melawan Amerika Serikat itu kemudian bergerilya ke seluruh negera dan mencari orang-orang Islam tertentu yang bisa mereka bina. Di negara mana pun juga pasti ada orang-orang yang mudah dipola seperti itu. Katanya mereka akan melawan Amerika Serikat, eh ternyata mereka melawan dari negara tempat mereka bermukim. Melawannya dengan membuat serangkaian aksi teror. Negara tempat aksi itu jelas-jelas rugi. Bukan Amerika Serika yang rugit. Ini kan tidak mathuk. Bisa jadi mereka diperalat oleh Amerika Serikat? Bisa jadi walaupun untuk membuktikan hal itu sulit sekali. Cuma ini bisa kita ibaratkan, seorang yang punya lumbung padi, takut diserbu tikus. Dia berpikir lebih baik memasang perangkap di tempat yang jauh. Gerakan yang memusuhi AS, tentunya ditakuti AS. Karena AS lihai, maka dibuat agar aksi anti-AS itu terjadi di luar negeri. Sementara itu ada tujuan-tujuan lain yang ingin dicapai. Jadi yang rugi ya negara yang kebetulan ditempati kelompok teroris itu. Makanya saya heran kok mereka mau-maunya berbuat begitu. Wong sudah jelas-jelas aksinya di sini, bukan di AS. Yang menarik, walaupun fenomena ini berbeda dari style Islam di Indonesia, tetapi mengapa mereka yang pernah masuk pesantren atau hidup dalam kultur NU juga bisa direkrut? Perlu saya jelaskan bahwa orang NU itu tidak sepenuhnya "pergi" ke NU. Namun juga pergi ke mana-mana, bergaul dengan pemikiran Islam dengan orang mana saja. Maka terjadilah pergeseran pemikiran. Ini juga tidak hanya berlaku bagi orang NU. Orang Muhammadiyah bisa juga. Namun hasil dari pergeseran pemikiran pada orang tersebut, sangat mungkin bukan lagi pemikiran yang bergaya NU. Mungkin orang-orang yang menggosok atau yang melakukan brain washing canggih, sehingga seseorang bisa lupa dengan gaya semula. Bahkan dia bisa berubah menjadi membenci latar belakangnya. Jadi walaupun dia berlatar belakang orang NU atau Muhammadiyah, tetapi saat dia melakukan aksi teror itu dia sedang tidak menggunakan atau melakukan paradigma NU atau Muhammadiyah. Kalau mereka nanti terbukti melakukan perbuatan yang melawan hukum dan ternyata bertentangan dengan ajaran Islam, maka itu menjadi tangung jawab aparat negara seperti Polisi atau TNI. Bukan tanggung jawab NU lagi. Karena itu NU akan bekerja sama dengan aparat untuk bersama-sama mencegah. Mari kita gencar memberikan informasi yang benar. Karena sedang menghadapi orang-orang yang mampu mem-brain washing seseorang, maka kita juga harus menjaga pergaulan anak-anak kita, remaja-remaja kita. Ini juga harus diberlakukan bagi semua orang. Semua orang tua. Tak hanya orang-orang yang punya pemahaman agama yang baik -karena pernah tamat pendidikan pesantren saja, melainkan juga orang-orang Islam yang berpemahaman masih tipis. Wong orang yang pernah di madrasah atau pesantren saja berani mereka rekrut, apalagi yang masih awam. Pasti akan mereka cari. Begitu juga orang yang hidup miskin, kalau tidak kuat iman, maka rentan diiming-imingi sesuatu yang berkedok agama atau jelas-jelas pakai uang dengan jumlah besar. Maka mari kita buat sistem informasi yang komprehensif. Karena menurut saya, ini terjadi akibat kurangnya informasi. Pers punya peran yang strategis untuk itu. Dengan mencantumkan pernyataan MUI yang mengharamkan aksi tersebut sebagai headline, tentu banyak orang yang tergugah untuk membaca dan mereka jadi paham. Mengapa orang-orang dari Malaysia yang mengobok-obok negara kita. Mengapa mereka tidak melakukan aksi di Malaysia? Bagaimana pendapat Anda? Menurut pendapat saya, mereka tidak mungkin atau sulit sekali melakukan aksi tersebut pada zaman pemerintahan Pak Harto. Dengan adanya UU Antisubversif itu, mereka tidak bisa bergerak. Saat itu gampang sekali aparat menggunakan pasal-pasal karet untuk menangkap seseorang. Akhirnya mereka mengungsi dan melanjutkan perjuangan atau melakukan pengaderan di Malaysia. Karena di sana lebih longgar saat itu. Nah terorisme itu kan marak justru setelah reformasi. Setelah reformasi, undang-undang yang bersifat tidak reformis ditolak, termasuk UU Anti-subversif itu. Karena merasa longgar dan Malaysia justru malah jadi lebih represif, maka mereka balik ke Indonesia. Apakah ada kemungkinan Malaysia memang memanfaatkan mereka untuk meneror kita? Mungkin banyak juga orang yang berpendapat seperti itu. Dunia luar mungkin juga berfikir seperti itu. Namun yang penting bagi kita adalah bagaimana membuat sistem yang terpadu, kokoh, adan solid untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan buruk yang bakal terjadi di negeri kita ini. Baru-baru ini Wakil Presiden Jusuf Kalla mengajak para ulama menonton rekaman dari mereka yang dianggap teroris. Ada pendapat agar rekaman itu jangan ditayangkan untuk umum. Bagaimana komentar Anda? Saya setuju pada pendapat itu. Tayangan itu memang sebaiknya bukan untuk konsumsi umum. Jadi apa yang dilakukan Wakil Presiden sudah benar. Para ulama perlu melihat itu. Karena dari penayangan rekaman tersebut, para ulama bisa merumuskan apa saja yang harus disampaikan secara benar kepada umat. Tentu dengan menyesuaikan pemahaman umat Islam yang berbeda. Jadi perlu penyampaian dengan cara-cara yang pas bagi mereka yang berlatar belakang heterogen tersebut. Nah kalau ditayangkan di televisi secara umum, maka anak-anak yang pemahaman Islamnya masih setengah atau speerempat, akan mudah terpengaruh. Ada yang berkomentar kalau tayangan itu memang 'menyentuh', selain juga mengobarkan semangat. Bisa saja mereka yang ada di tayangan tersebut dianggap sebagai pahlawan. Mereka yang baru setengah-setengah tidak tahu kalau hal itu sebenarnya juga bisa merusak citra Islam itu sendiri. Memang seorang yang masih muda itu mudah berkobar-kobar bila disuguhi hal-hal yang terkait dengan ketidakadilan atau penindasan. Selama ini yang dianggap bisa berbuat berbagai hal kan AS dan sekutunya. Sentimen seperti itu yang dicekokkan kepada mereka. Mereka yang terlibat itu adalah mereka yang didera kemiskinan, lalu mengalami keputusasaan. Mereka kemudian ditawari cara-cara instan untuk hidup mulia dan terhormat lewat jihad yang disalahartikan oleh pihak yang merekrut. Ada pemikiran kalau kemerebakan orang tertarik pada gerakan fundamental, akibat Islam yang moderat belum bisa menyelesaikan masalah, bahkan cenderung terkooptasi. Apa komentar Anda? Memang ada keluhan mengapa orang Islam itu kok banyak yang korup. Ada yang latar belakangnya agamis, kok ya ikut-ikutan korup begitu masuk pemerintahan. Ini bukan gejala Islam moderat. Namun itu adalah gejala budaya materialistis yang merasuki orang-orang Islam. Tapi dengan mereka memilih ikut yang antimoderat itu, apakah masalah ini selesai. Tidak juga kan. Teror jalan terus. Korupsi juga tetap jalan terus. Masalah ini hanya bisa diselesaikan dengan sistem yang kokoh, sistem yang adil dan tegas dalam memberantas korupsi. Menurut pendapat Anda apakah aksi teror di negeri ini akan mereda pascaterbunuh Dr Azahari? Ya kita berharap demikian, walau kemungkinan akan timbul teror lagi masih terbuka. Dalam perang itu ada strategi tiarap atau menyerang. Karena sedang digempur habis-habisan mereka sekarang tiarap. Saat tiarap ini mereka pasti sedang menyusun cara-cara yang lebih efektif. Maka kita juga harus mampu mempredikasi cara-cara apa saja yang mungkin akan mereka lakukan. Selain itu kita juga harus melakukan berbagai pendekatan, baik preventif, persuasif, dan berbagai cara yang mungkin dilakukan. Juga meningkatkan kewaspadaan dalam hubungan internasional. (Hartono Harimurti-35) | ||||